Laman

Kamis, 02 Mei 2013

Al an'am 6:7

BISMILLAAHIR-ROHMAANIR-ROHIIM.
ASSALAMU 'ALAIKUM WAROHMATULLOOHI WABAROKAATUH.
Al-Qur'an adalah ruh bagi qalbu, dan ruh qalbu lebih khusus daripada ruh badan. Allah menamainya dengan ruh karena dengan al-Qur'an itu qalbu menjadi hidup. Maka apabila al-Qur'an telah bertemu dengan qalbu pasti dia akan hidup dan bercahaya. Dia akan mengenal Rabbnya, menyembah Allah di atas dasar bashirah (ilmu), takut kepada-Nya, bertakwa , mencintai-Nya, meninggikan serta mengagungkan-Nya. Ini dikarenakan al-Qur'an merupakan ruh yang menggerakkkan qalbu sebagaimana ruh (nyawa) yang menggerakkan badan.

Selamat pagi anak2ku dan sahabat2ku sekalian,ِ Alhamdulillah kita masih diberikan kesehatan oleh Allah, sehingga bisa melanjutkan tadarus/kajian kita dengan metode tafsir perkata serta penjelasan ayat secara mendetail sebagaimana biasanya.

Setelah ayat yang lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala mengajak, Apakah mereka tidak memperhatikan, yakni mempelajari sejarah atau mencari tahu, berapa banyak generasi yang telah Allah binasakan sebelum mereka, seperti generasi ummat Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Shaleh 'alaikumus-salam dan lain-lain, padahal telah Allah teguhkan mereka, yakni generasi itu, di muka bumi, yaitu dengan kekuatan jasmani, kelapangan, dan lain-lain, keteguhan yang belum pernah diberikan kepada kamu. Maka pada ayat lanjutan Allah berfirman:

QS AL-AN'AAM 6: 7.
أ عو ذ با لله من الشيطان الرجيم
وَلَوْ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ كِتَابًا فِي قِرْطَاسٍ فَلَمَسُوهُ بِأَيْدِيهِمْ لَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلا سِحْرٌ مُبِينٌ
WALAU NAZZALNAA 'ALAIKA KITAABAN FII QIRTHOSIN FALAMASUUHU BI-AIDIIHIM  LAQOOLAL-LADZIINA KAFARUUU IN HADZAAA ILLAA SIḪRUM-MUBIINUN. =  Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri, tentulah orang-orang kafir itu berkata: "Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata."

Translation In English: "If We had sent unto thee a written (message) on parchment, so that they could touch it with their hands, the Unbelievers would have been sure to say: "This is nothing but obvious magic!"

"WALAU=dan sekiranya" "NAZZALNAA=Kami turunkan"  'ALAIKA=kepadamu" Muhammad, "KITAABAN=(tulisan) tertulis" "FII=pada" "QIRTHOSIN=lembaran kertas" "FALAMASUUHU=lalu mereka menyentuhnya" "BI-AIDIIHIM=dengan tangan mereka" lebih akurat daripada seandainya mereka hanya menyaksikan saja sebab cara ini jelas lebih menghapuskan rasa ragu, "LAQOOLA=pasti berkata" "AL-LADZIINA=orang-orang yang" "KAFARUUU=mereka kafir" "IN HADZAAA=tidaklah ini" "ILLAA=kecuali" (hanya) "SIḪRUN=sihir" "MUBIIN=(yang) nyata" sebagai ungkapan rasa ketidakpercayaan dan keingkaran mereka.

Seandainya diturunkan sebuah kitab dari langit dengan sekaligus kepadamu wahai makhluk yang paling mulia, seperti yang telah dimintakan kepadamu oleh Abdullah ibnu Abu Umayyah al-Makhzumi dan kawan-kawannya tertuangkan dalam suatu lembaran yang dapat mereka baca dengan jelas dan dapat mereka pegang dengan tangannya sendiri, niscaya mereka akan mencelanya dan menuduhnya sebagai suatu perbuatan sihir.

Ibnu Ishaq mengatakan bahwa orang-orang yang mengatakan demikian adalah Zam'ah Ibnul Aswad, an-Nadr ibnul Hars ibnu Kaldah, Abdah ibnu Abdu Yagus, Ubay ibnu Khalaf dan al-'As ibnu Wa'il. Demikian menurut riwayat yang diketengahkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan tantangan kaum musyrikin, kafir, yang ingkar terhadap kebenaran yang diturunkan-Nya, sehingga andaikan mereka melihat turunnya wahyu itu bahkan dapat menyentuh dengan tangan mereka suratan wahyu itu, niscaya mereka tetap akan berkata: "Bahwa itu adalah sihir semata-mata. Pada ayat lain Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَلَوْ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَابًا مِنَ السَّمَاءِ فَظَلُّوا فِيهِ يَعْرُجُونَ  .لَقَالُوا إِنَّمَا سُكِّرَتْ أَبْصَارُنَا بَلْ نَحْنُ قَوْمٌ مَسْحُورُونَ
"Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya, tentulah mereka berkata: "Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang orang yang kena sihir" (QS al-Hijr 15: 14-15).

Kata (قرطاس) QIRTHOOS adalah sesuatu yang ditulisi, apa pun bahannya, baik kertas dalam pengertian bahasa Indonesia maupun daun atau kulit. Sementara ulama berpendapat, kata tersebut tidak digunakan kecuali jika ia telah bertuliskan sesuatu.

Amat besar keinginan dan harapan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam agar orang-orang musyrik, Yahudi dan Nasrani itu percaya kepada beliau dan ayat-ayat al-Qur'an yang beliau sampaikan. Karena itu, setelah mendengar ayat-ayat yang lalu dan melihat kenyataan di lapangan, seakan-akan hati kecil beliau berkata: "Ya Allah! Mereka tidak berpikir karena itu anugerahkanlah bukti kebenaran yang bersifat indriawi untuk mereka, sebagaimana yang sering mereka usulkan." Menanggapi bisikan hati itu, ayat ini menegaskan bahwa, kalau seandainya Kami turunkan kepadamu, hai Nabi Muhammad, al-Qur'an yang berupa tulisan di atas kertas, lalu untuk lebih meyakinkan, mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri dan bukan sekadar melihatnya turun, tentulah orang-orang yang ingkar itu, yang enggan berpikir dan telah buta mata hatinya itu tetap tidak akan percaya dan pasti berkata, 'Ini, yakni yang kami lihat dan pegang, tidak lain hanyalah sihir yang nyata, yang mengelabui kami'. Kami disihir dengan sihir ini, dan tulisan di kertas dan lembaran-lembaran ini tidak berdasar" karena keingkaran dan pembangkangan mereka.

Semoga kita termasuk orang-orang yang benar-benar beriman kepada seluruh isi al-Qur'an, dengan tidak ada satu ayat pun yang kita ingkari. Dan semoga kita senantiasa terus-menerus mentadarusinya, memahami isi dari kandungannya dengan tafsir yang muktabar, serta diberi pertolongan oleh Allah untuk mengamalkannya.... Aamiin Allahumma Aamiin...
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Al an'am 6:6

BISMILLAAHIR-ROHMAANIR-ROHIIM.
ASSALAMU 'ALAIKUM WAROHMATULLOOHI WABAROKAATUH.
Selamat pagi anak2ku dan sahabat2ku sekalian,ِ Alhamdulillah kita masih diberikan kesehatan oleh Allah, sehingga bisa melanjutkan tadarus/kajian kita sebagaimana biasanya.

Setelah diterangkan bahwa orang-orang kafir terus membangkang sehingga tidak ada suatu ayat pun, yakni bukti, kebenaran dari sekian banyak ayat-ayat Tuhan Pemelihara mereka yang dipaparkan dan datang kepada mereka, melainkan mereka selalu berpaling darinya, yakni tidak menghiraukannya. Akibat tiadanya perhatian dan pengabaian itu, lahir penolakan dan pendustaan dan ini pada gilirannya melahirkan ejekan dan olok-olok sebagaimana ditegaskan oleh ayat kelima yang lalu; yakni, maka jika keberpalingan mereka telah terbukti, terbukti pula bahwa sesungguhnya mereka telah mendustakan yang ḫaq yang dipaparkan al-Qur'an dan disampaikan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam; tatkala keterangan-keterangan itu datang kepada mereka. Maka kelak, pada hari-hari mendatang atau paling tidak di hari Kebangkitan, pasti akan sampai kepada mereka kenyataan dari berita-berita yang selalu dan terus-menerus mereka perolok-olokkan, baik berita tentang kemenangan yang akan diraih kaum Muslimin dan kekalahan mereka maupun berita-berita tentang surga dan neraka yang menanti masing-masing, sebagaimana diberitakan oleh al-Qur'an dan disampaikan oleh para Rasul. Maka pada ayat lanjutan ini Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

QS AL-AN'AAM 6: 6.
أ عو ذ با لله من الشيطان الرجيم
أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ قَرْنٍ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأرْضِ مَا لَمْ نُمَكِّنْ لَكُمْ وَأَرْسَلْنَا السَّمَاءَ عَلَيْهِمْ مِدْرَارًا ۖ  وَجَعَلْنَا الأنْهَارَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَأَنْشَأْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ قَرْنًا آخَرِينَ
ALAM YARAU  KAM AHLAKNAA MIN QOBBLIHIM-MIN QORNIM-MAKKANNAAHUM FIL-ARDHI MAA LAM NUMAKKIL-LAKUM WA ARSALNAS-SAMAAA-A 'ALAIHIM-MIDDROROW-WAJA-'ALNAL-ANHAARO TAJJRII MIN TAḪTIHIM FA-AHLAKNAAHUM BI-DZUNUUBIHIM WA-ANSYA'NAA MIM-BA'DIHIM QORNAN AAKHIRIINA. = Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.

Translation In English: "See they not how many of those before them We did destroy?- generations We had established on the earth, in strength such as We have not given to you - for whom We poured out rain from the skies in abundance, and gave (fertile) streams flowing beneath their (feet): yet for their sins We destroyed them, and raised in their wake fresh generations (to succeed them)."

"ALAM=apakah tidak" "YARAU=mereka melihat" "KAM=berapa banyak" "AHLAKNAA=Kami telah binasakan" "MIN=dari" "QOBBLIHIM=sebelum mereka" "MIN=dari" "QORNIN=generasi" "MAKKANNAAHUM=Kami telah berikan mereka tempat dan kekuasaan" "FIL-ARDHI=di bumi" "MAA=apa yang" "LAM=belum" "NUMAKKIN=Kami berikan" "LAKUM=kepada kalian" yakni Kami telah memberikan kepada golongan-golongan itu kesehatan tubuh dan usia yang panjang serta harta yang berlimpah dan berbagai sarana untuk meraih keduniaan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, "WA ARSALNAA=dan Kami telah mengirimkan" dari "AS-SAMAAA-A=langit" yakni hujan  'ALAIHIM=kepada mereka" "MIDDRORON=(dengan) lebat" yakni berturut-turut sesuai dengan keperluan mereka, "WAJA-'ALNAA=dan Kami jadikan" "AL-ANHAARO=sungai-sungai" "TAJJRII=mengalir" "MIN=dari" "TAḪTIHIM=bawah mereka" yakni di bawah kebun-kebun dan lahan pertanian serta pepohonan mereka,  "FA-AHLAKNAAHUM=lalu Kami binasakan mereka" "BI-DZUNUUBIHIM=karena dosa-dosa mereka" karena mereka telah mendustakan Nabi-Nabinya dan karena mereka telah menjual agamanya dengan dunia, "WA-ANSYA'NAA=dan Kami ciptakan" "MIN=dari" "BA'DIHIM=sesudah mereka" "QORNAN=generasi" "AAKHIRIIN=yang lain" yakni Kami jadikan sesudah kebinasaan tiap-tiap generasi itu generasi lain yang menggantikan mereka yang telah binasa. Hal ini mengandung peringatan bahwa kebinasaan ummat-ummat yang banyak jumlahnya itu tidak mengurangi kerajaan Allah Subhanahu wa Ta'ala sedikit pun. Dan tidak memberatkan Allah kebinasaan mereka serta kosongnya negeri yang dahulu mereka tempati, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala berkuasa untuk menggantikan mereka dengan kaum atau generasi lain yang memakmurkan negeri mereka.

Setelah ayat yang lalu mengancam, kini disusul dengan peringatan yang mengandung ajakan berpikir, siapa tahu mereka dapat kembali menempuh jalan yang benar. Allah memang terus-menerus membuka peluang kepada manusia agar melakukan introspeksi, sampai pada batas terakhir dari masa hidup manusia, atau sampai pada batas di mana yang bersangkutan benar-benar terbukti menolak ajakan Ilahi. Melalui ayat ini, Allah mengajak, Apakah mereka tidak memperhatikan, yakni mempelajari sejarah atau mencari tahu, berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, seperti generasi ummat Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Shaleh 'alaikumus-salam dan lain-lain, padahal telah Kami teguhkan mereka, yakni generasi itu, di muka bumi, yaitu dengan kekuatan jasmani, kelapangan, dan lain-lain, keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepada kamu, wahai masyarakat Mekkah.

Dan Kami curahkan hujan yang lebat, yakni rezeki yang melimpah, atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, lalu karena mereka berpaling dan durhaka, maka Kami binasakan mereka karena dosa-dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain untuk Kami lihat bagaimana sikap mereka terhadap Kami. Karena itu, berhati-hatilah jangan sampai kalian Kami perlakukan—karena dosa-dosa kalian—sama dengan perlakuan Kami terhadap generasi-generasi terdahulu itu.

Kaum musyrikin Mekkah dapat melihat dan mempelajari keadaan ummat sebelum mereka karena di sekitar pemukiman mereka pernah lahir peradaban yang cukup kuat dan besar. Ada peradaban Sumaria, peradaban Mesir Kuno, Yaman, dan lain-lain, yang semuanya lauh melebihi kekuatan mereka. Kaum musyrikin Mekkah hanya mengandalkan Ka'bah, itu pun ketika Abrahah, penguasa Ethiopia, datang ke Mekkah untuk merobohkannya dan mereka tidak mampu menangkal serangan itu. Kalau bukan karena Allah yang mengirim burung yang berbondong-bondong (ababil) yang melempari mereka dengan batu dari tanah liat yang dibakar (baca surah al-Fiil 105: 1-5)  niscaya bangunan suci kebanggaan serta sumber pengaruh mereka itu akan hancur berantakan.

Ayat ini menunjukkan bahwa daerah permukiman ummat-ummat yang lalu adalah daerah yang banyak hujannya, banyak sungai dan danau serta mata air-mata air yang memancar, dan ini pada gilirannya menjadikan tanah mereka subur. Tidak mustahil, daerah-daerah Jazirah Arab yang kini gersang tadinya adalah daerah-daerah subur, tetapi peristiwa dan bencana alam yang terjadi menjadikan daerah tersebut tandus dan peradaban mereka tertimbun dan punah. Al-Qur'an menyebut antara lain kaum 'Aad yang membangun kota Iram dengan tiang-tiang yang tinggi dan belum pernah dibangun di daerah lain sehebat dan seindah itu. Kota ini telah punah, tetapi bekas-bekasnya telah ditemukan melalui sejumlah bukti arkeologis. Salah satu di antaranya adalah hasil ekspedisi Nicholas Clapp di Gurun Arabia Selatan pada tahun 1992. Dengan menggunakan jasa pesawat ulang alik Challenger dengan sistem Satellite Imaging Radar (SIR) serta bantun Satelit Perancis, mereka menemukan bukti-bukti tentang kota tersebut, sebagian berada di bawah tumpukan pasir yang telah berabad-abad lamanya hingga mencapai ketinggian 183 meter. (Insya Allah nanti akan diterangkan pada penafsiran ayat 6-9 dari QS al-Fajr).

Firman-Nya: (فَأَهْلَكْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ ) Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, mengisyaratkan bahwa dosa dapat mengakibatkan kebinasaan. Yang tidak diperselisihkan adalah bahwa dosa akibat pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah yang berlaku di alam raya mengakibatkan kebinasaan; dosa-dosa dapat pula berupa keangkuhan, foya-foya, kekikiran, penindasan, dan pengrusakan di bumi merupakan hal-hal yang merapuhkan solidaritas sosial sehingga pada gilirannya mengakibatkan kehancuran dan kebinasaan masyarakat. Tidak dapat disangkal bahwa dosa-dosa berupa kebejatan moral juga mengakibatkan kebinasaan masyarakat. Lihat dan pelajarilah Peradaban Romawi dan Yunani. Tetapi, apakah dosa akibat pelanggaran terhadap hukum-hukum syariat, seperti tidak shalat atau tidak berzakat, dapat juga mengakibatkan bencana? Apakah keenganan beriman dapat mengakibatkan bencana alam?

Melihat hubungan ayat ini, dapat dikatakan bahwa dosa yang dimaksud adalah dosa yang serupa dengan yang disebut oleh ayat-ayat yang lalu, yakni mempersekutukan Allah, meragukan keniscayaan hari Kemudian, berpaling dan mendustakan kebenaran, serta menperolok-oloknya. Di sisi lain, sementara ulama meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidak binasa satu harta di darat maupun di laut kecuali karena tidak dizakati." Mereka juga merujuk kepada sejumlah ayat, khususnya yang berbicara tentang ummat terdahulu, yang menunjukkan bahwa keengganan beriman mengakibatkan bencana. Sebagaimana antara lain salah satu firman Allah yang berbunyi:
كَذَّبَتْ ثَمُودُ وَعَادٌ بِالْقَارِعَةِ (٤)فَأَمَّا ثَمُودُ فَأُهْلِكُوا بِالطَّاغِيَةِ (٥)وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ (٦)سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَى كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ (٧)
"Kaum Tsamud dan 'Aad telah mendustakan hari kiamat. Adapun kaum Tsamud, maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa. Adapun kaum 'Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum 'Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)."

Dahulu Allah Subhanahu wa Ta'ala membuktikan kebenaran seorang Rasul dengan tanda-tanda yang bersifat material, bahkan menjatuhkan sanksi berupa bencara alam yang menimpa seluruh kaum. Pada masa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Orang-orang musyrik pun meminta hal serupa kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam; bahkan secara tegas Abu Jahal atas nama orang-orang musyrik pernah bermohon, sebagaimana diungkap oleh QS al-Anfal 8: 32, "Ya Allah! Apabila ini (al-Qur'an) adalah kebenaran dari sisi-Mu, maka hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami siksa yang pedih." Permintaan mereka ditolak, bukan saja karena pemikiran ummat manusia ketika itu telah siap mencapai tahap baru, yakni tahap ilmiah dan penafsiran fenomena alam melalui pengamatan yang teliti dengan berbagai eksperimen sehingga hukum-hukum alam yang mengakibatkannya diketahui, tetapi juga karena al-Qur'an sendiri sudah cukup menjadi bukti kebenaran (baca QS al-'Ankabut 29: 51). Bahkan, dalam beberapa ayat, ditegaskan bahwa bencana yang mereka minta atau usul yang mereka ajukan tidak dapat dipenuhi karena, jika demikian, mereka akan punah. Hakikat ini nanti akan kita baca bersama-sama pada ayat-ayat berikut.

Betapa pun, yang jelas dan pasti adalah bahwa tidak ada yang diterjadi di alam raya ini kecuali atas izin dan kehendak Allah. Kendati demikian, kita pun harus mengingat bahwa kehendak-Nya antara lain tercermin pada hukum-hukum alam yang diciptakan-Nya. Bila seseorang atau satu masyarakat tidak menyesuaikan diri dengan hukum-hukum-Nya itu, dia pasti akam mengalami kesulitan, mengalami bencana pada diri maupun lingkungannya; dan di sini kita harus berkata bahwa bencana itu adalah kehendak-Nya juga. Bukankah Dia yang menciptakan hukum-hukum yang berkaitan dengannya?

Kata (قرن) QORN pada mulanya berarti masa yang berkepanjangan, tetapi makna ini kemudian berkembang sehingga juga berarti suatu masyarakat yang bertahan lama atau juga dalam arti generasi. Ada yang memahaminya dalam arti seratus tahun, ada juga yang tidak menetapkan masa tertentu, tetapi menilai kepunahan satu masyarakat atau kematian mayoritas anggotanya sebagai pergantian qorn/generasi. Tampaknya, inilah yang dimaksud oleh ayat ini.

Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala menasihati kita supaya memperhatikan dan mengambil pelajaran dari sejarah ummat sebelum kita, yang telah berkuasa di atas bumi dan telah diberi kesempatan dan karunia yang besar berupa sumber makanan dan minuman, tetapi akhirnya mereka dibinasakan karena durhaka dan dosa-dosa yang mereka lakukan, maka kita harus waspada jangan sampai tertimpa bencana yang menimpa ummat-ummat sebelum kita, ingatlah kita tidak lebih kuat atau lebih mulia di sisi Allah dari mereka.

Semoga bermanfaat... Salam Jum'at Mubarak..
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Al an'am 6:4-5

BISMILLAAHIR-ROHMAANIR-ROHIIM.
ASSALAMU 'ALAIKUM WAROHMATULLOOHI WABAROKAATUH.
Selamat pagi menjelang siang anak2ku dan sahabat2ku sekalian,ِ Alhamdulillah kita masing diberikan kesehatan oleh Allah, sehingga bisa melanjutkan tadarus/kajian kita sebagaimana biasanya.

QS AL-AN'AAM 6: 4-5.
أ عو ذ با لله من الشيطان الرجيم
وَمَا تَأْتِيهِمْ مِنْ آيَةٍ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِمْ إِلا كَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ  . فَقَدْ كَذَّبُوا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ ۗ فَسَوْفَ يَأْتِيهِمْ أَنْبَاءُ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ
WAMAA TA'TIIHIM-MIN AAYATIM-MIN AAYAATI ROBBIHIM ILLAA KAANUU 'ANHAA MU'RIDHIINA.  FAQODD KADZ-DZABUU BIL-ḪAQQI LAMMAA JAAA-AHUM, FASAUFA YA'TIIHIM AMBAAA-UU MAA KAANUU BIHII YASTAHZI-UUNA. = Dan tidak ada suatu ayatpun dari ayat-ayat[458] Tuhan sampai kepada mereka, melainkan mereka selalu berpaling dari padanya (mendustakannya). Maka sesungguhnya mereka telah mendustakan yang haq (al-Qur'an) tatkala datang  kepada mereka, maka kelak akan sampai kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka perolok-olokkan.

Keterangan: [458] Ayat di sini berarti mukjizat atau ayat Al-Quran atau peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam alam yang menunjukkan kekuasaan Allah.

Translation In English: "But never did a single one of the signs of their Lord reach them, but they turned away therefrom.  And now they reject the truth when it reaches them: but soon shall they learn the reality of what they used to mock at."

"WAMAA=dan tidak" "TA'TIIHIM=datang kepada mereka" (orang-orang kafir) "MIN=dari" "AAYATIN=ayat" (mukjizat al-Qur'an) "MIN=dari" "AAYAATI=ayat-ayat" "ROBBIHIM=Tuhan mereka" "ILLAA=kecuali" "KAANUU=mereka telah menjadi"  'ANHAA=darinya" "MU'RIDHIIN=orang-orang yang berpaling" (mengingkari).  "FAQODD=maka sungguh" "KADZ-DZABUU=mereka telah mendustakan" "BIL-ḪAQQI=terhadap kebenaran" (Rasul/al-Qur'an), "LAMMAA=ketika" "JAAA-AHUM=datang kepada mereka". "FASAUFA=maka kelak" "YA'TIIHIM=akan datang kepada mereka" "AMBAAA-UU=berita-berita" (tentang siksaan), "MAA=(apa) yang" "KAANUU=mereka telah" "BIHII=terhadapnya" "YASTAHZI-UUN=mereka memperolok-olokkan".

Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala menerangkan bagaimana bandelnya orang-orang kafir, sehingga tiap ayat yang sampai kepada mereka atau bukti mukjizat yang menunjukkan, membuktikan keesaan Allah dan kebenaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mereka tetap mengabaikan dan berpaling muka dari padanya dan tetap tidak menghiraukannya, karena itu langsung Allah mengancam mereka, dalam ayat kelima: Bahwa mereka telah mendustakan hak dan kebenaran yang tiba dan sampai kepada mereka, maka mereka pasti akan mengalami apa yang telah diberitakan kepada mereka dan mereka cemooohkan itu, sebagai yang terjadi pada ummat-ummat yang dahulu sebelum mereka.

Orang-orang kafir terus membangkang sehingga tidak ada suatu ayat pun, yakni bukti, kebenaran dari sekian banyak ayat-ayat Tuhan Pemelihara mereka yang dipaparkan dan datang kepada mereka, melainkan mereka selalu berpaling darinya, yakni tidak menghiraukannya. Akibat tiadanya perhatian dan pengabaian itu, lahir penolakan dan pendustaan dan ini pada gilirannya melahirkan ejekan dan olok-olok sebagaimana ditegaskan oleh ayat kelima di atas; yakni, maka jika keberpalingan mereka telah terbukti, terbukti pula bahwa sesungguhnya mereka telah mendustakan yang ḫaq yang dipaparkan al-Qur'an dan disampaikan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam; tatkala keterangan-keterangan itu datang kepada mereka. Maka kelak, pada hari-hari mendatang atau paling tidak di hari Kebangkitan, pasti akan sampai kepada mereka  kenyataan dari berita-berita yang selalu dan terus-menerus mereka perolok-olokkan, baik berita tentang kemenangan yang akan diraih kaum Muslimin dan kekalahan mereka maupun berita-berita tentang surga dan neraka yang menanti masing-masing, sebagaimana diberitakan oleh al-Qur'an dan disampaikan oleh para Rasul.

Setiap kebenaran memang pasti muncul serta terbukti dan nyata walaupun setelah berlalunya waktu yang lama. Demikian itulah sifat kebenaran walau sering kali ditutup-tutupi. Sifat kebenaran enggan untuk terbatas beritanya atau idenya saja, tetapi selalu muncul kepermukaan. Kalau perlu ia merangkak dan merangkak sedikit demi sedikit sehingga ide yang benar itu suatu ketika lahir ke permukaan menghapus kebathilan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الأرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ
"Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan" [QS ar-Ra'd 13: 17].

Ayat di atas menggambarkan tiga tahap yang dialami orang-orang sesat. Pertama, enggan dan berpaling dari mendengarkan penjelasan-penjelasan Ilahi. Pada hakikatnya, keberpalingan baru terbatas pada sikap pasif, tetapi jika berlanjut ia mengantar kepada tahap kedua, yaitu pendustaan, yang merupakan sikap aktif dalam bentuk penolakan. Selanjutnya, penolakan tersebut melahirkan sikap ketiga yang lebih buruk, yaitu tidak sekadar menolak dan membiarkan masing-masing dengan kepercayaannya tetapi menolak disertai dengan mengolok-olokkan kebenaran yang dipaparkan dengan tujuan agar orang lain tidak menerimanya. Jika demikian, wajar mereka diperlakukan sesuai dengan sikap mereka. Namun, sebelum itu, Allah memperingatkan melalui ayat keenam berikut. to be continue....

Semoga bermanfaat dan selamat menantikan shalat Zhuhur berjamaah...
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Al an'am 6:3

BISMILLAAHIR-ROHMAANIR-ROHIIM.
ASSALAMU 'ALAIKUM WAROHMATULLOOHI WABAROKAATUH.
Selamat sore anak2ku dan sahabat2ku sekalian, Alhamdulillah jaringan sudah normal sehingga kita bisa melanjutkan tadarus/kajian ini.

Setelah pada ayat pertama surah al-An'aam ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala memulai dengan menyebut ALḪAMDULILLAAH yakni pujian kepada diri-Nya untuk mengajari hamba-hamba-Nya memuji kepada-Nya dengan bentuk kalimat tersebut. Kalimat hamdalah mencakup seluruh sendi-sendi keagungan dan kesempurnaan. Dalam penyebutan pujian ini, Allah memberitahukan bahwasanya Dia-lah yang paling pantas memperoleh segala pujian, karena tidak ada kawan dan sekutu bagi-Nya. Ayat di atas bermakna, "Pujilah Allah, Tuhan kamu sekalian yang telah memberikan berbagai macam anugerah kenikmatan dan kemuliaan kepadamu, Dia-lah yang menciptakan, mengadakan dan membuat langit dan bumi yang di dalamnya terdapat berbagai macam keindahan dan kreasi hasil ciptaan-Nya, semuanya dapat mengherankan akal pikiran sebagai peringatan bagi orang-orang yang berakal. Dan Dia pula yang menjadikan gelap dan terang, menciptakan malam dan siang silih berganti dalam keberadaannya bermanfaat bagi penduduk alam semesta. Pada ayat kedua dinyatakan bahwa: Allah Subhanahu wa Ta'ala yang menciptakan bapakmu, Adam, dari tanah. Dia Allah menentukan ajal kematian kamu ketika telah selesai batas waktu yang ditentukan. Dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan-Nya sendiri untuk membangkitkan kamu sekalian. Ajal pertama adalah kematian dan ajal kedua adalah kebangkitan dari kubur setelah mati, pada saat datangnya Hari Kiamat. Kemudian kamu wahai orang-orang kafir, ragu-ragu dengan adanya hari kebangkitan dan mengingkarinya setelah tampak tanda-tanda yang nyata.

Maka pada ayat lanjutannya QS AL-AN-'AAM  006: 003. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الأرْضِ ۗ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ
WA-HUWALLOOHU FIS-SAMAAWAATI WA-FIL-ARDHI, YA'LAMU SIRROKUM WA-JAHROKUM WA-YA'LAMU MAA TAKSIBUUNA. =  Dan Dialah Allah (yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.

Translation In English: "And He is Allah in the heavens and on earth. He knoweth what ye hide, and what ye reveal, and He knoweth the (recompense) which ye earn (by your deeds)."

"WA-HUWA=dan Dia" "ALLOOHU=Allah" yang berhak untuk disembah dan dipuja, "FIS-SAMAAWAATI=di semesta langit" "WA-FII=dan di" "AL-ARDHI=bumi", "YA'LAMU=Dia mengetahui" "SIRROKUM=(apa yang) kalian rahasiakan" "WA-JAHROKUM=dan kalian tampakkan" hal-hal yang kamu sembunyikan dan hal-hal yang kamu tampakkan di antara kamu sekalian, "WA-YA'LAMU=dan Dia mengetahui" "MAA=apa yang" "TAKSIBUUN=kalian kerjaan" perkara baik dan perkara buruk yang kamu ketahui.

Dialah Allah yang Maha Agung yang disembah baik di langit maupun dibumi, Dialah yang disembah dan di-Esakan serta ditetapkan sebagai Tuhan oleh yang berada di langit maupun di bumi, mereka berdoa kepada-Nya dengan harap dan cemas, dan mereka menyebut-Nya dengan sebutan Allah. Dia mengetahui apa yang menjadi rahasia kamu dan apa yang kamu terangkan, baik kebaikan maupun keburukan, dan Allah akan membalas kamu berdasarkan amal-amal kamu.

Tiga ayat dari surah al-An'aam ini, mulai ayat pertama hingga ketiga merangkum seluruh wujud alam semesta, dalam ayat pertama, merangkum seluruh wujud manusia dalam ayat kedua, kemudian peliputan ketuhanan Allah terhadap keduanya dalam ayat ketiga.

Di depan wujud semesta yang menjadi saksi keesaan Sang Maha Pencipta, di depan wujud insani yang menjadi saksi terhadap pengaturan-Nya, dan di depan uluhiyah yang berkuasa terhadap langit dan bumi, dan yang mengetahui segala yang rahasia, segala yang tampak, dan segala usaha ini, tampaklah kemusyrikan orang-orang musyrik dan keraguan orang-orang yang ragu-ragu. Hal ini sangat mengherankan dan sangat ganjil, yang tidak punya tempat di alam semesta, tidak punya tempat dalam fitrah  jiwa, dan tidak punya sandaran dalam hati dan pikiran!

Kandungan ayat ini merupakan sisi ketiga dari penjelasan tentang kewajaran Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk mendapat pujian. Melalui ayat pertama dijelaskan-Nya kewajaran itu atas dasar kekuasaan-Nya menciptakan alam raya. Melalui ayat kedua, atas dasar kuasa-Nya menciptakan manusia, bermula dari tanah hingga mencapai ajalnya yang terakhir, dan melalui ayat ketiga ini, dijelaskan pengetahuan-Nya yang menyeluruh, dan yang atas dasarnya Allah akan memberi sanksi dan ganjaran terhadap amal-amal manusia, yang lahir maupun yang bathin. Kemudian, karena Dia Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui, dan Dia pula Pencipta alam raya dan manusia, wajar pula bila Dia yang menetapkan sistem yang berlaku bagi alam raya dan manusia. Sistem yang berlaku terhadap alam raya ditetapkan-Nya melalui apa yang dikenal dengan istilah hukum-hukum alam, yakni hukum-hukum Allah yang berlaku di alam raya, sedangkan sistem yang ditetapkan-Nya bagi manusia, ditetapkan-Nya melalui keterangan-keterangan yang disampaikan oleh para Rasul.

Ayat ini menegaskan bahwa, dan Dialah yang pujian hanya tertuju kepada-Nya, Allah Yang disembah serta berkuasa, baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui rahasia kamu sejak kamu lahir hingga meninggal dunia, dan mengetahui juga lahir kamu, yakni yang tidak kamu rahasiakan, dalam tingkat pengetahuan yang sama. Bukannya yang nyata lebih jelas bagi-Nya dari yang rahasia, dan di samping itu Dia mengetahui (pula) apa yang sedang dan akan kamu usahakan.

Kata (تَكْسِبُونَ) TAKSIBUUN terambil dari kata (كسب) Kasaba yang biasa diterjemahkan dengan usaha. Al-Qur'an tidak menggunakan kata ini kecuali untuk menunjuk usaha manusia. Menurut sementara ulama, memahami kata ini dalam arti kondisi kejiwaan yang diperoleh manusia, baik dari usahanya yang rahasia maupun yang terang-terangan, yang baik atau buruk. Dari sini dibedakan ketiga kata yang disebut ayat di atas. Yang rahasia, demikan pula yang lahir atau terang-terangan, adalah dua hal dari perbuatan manusia yang lahir keluar, sedangkan apa yang diusahakan adalah kondisi kejiwaan, immaterial, yang terdapat dalam jiwa seseorang. Inilah menurut sementara ulama itu yang mengundang pengulangan kata Dia mengetahui pada ayat di atas.

Ayat ini merupakan pengantar untuk pembuktian keniscayaan hari Kemudian, bahkan ia dapat juga menjadi pengantar bagi keseluruhan tuntunan agama, baik duniawi maupun ukhrawi. Allah Subhanahu wa Ta'ala yang mengetahui keadaan manusia, yang nyata dan rahasia, mengetahui pula bisikan dan keadaan jiwanya. Kalau demikian, tentulah Dia memberi bimbingan kepada manusia, antara lain dengan mengutus para Nabi, dan sangat wajar pula Dia memberi balasan dan ganjaran di dunia dan diakhirat karena Dia mengetahui pula amal-amal mereka yang rahasia dan nyata, yang lalu dan yang akan datang, yang baik dan yang buruk, serta mengetahui pula kondisi kejiwaan masing-masing.

Ketiga ayat di atas, yakni mulai dari ayat 1-3 surah al-An'aam ini merupakan rangkaian ayat yang berdialog dengan akal dan jiwa manusia untuk membuktikan keesaan Allah Subhanahu wa Ta'ala melalui dalil penciptaan dan dalil kehidupan yang terbentang di alam raya dan jiwa manusia. Tetapi—seperti tulis Sayyid Quthub—dialog ini bukan dalam bentuk filosofis maupun teologis, tetapi dialog yang menyentuh dan membangkitkan fitrah manusia, karena fitrah itu dihadapkan langsung dengan gerak cipta dan kehidupan, gerak pengaturan dan pengendalian, dan dalam bentuk pernyataan  bukan perdebatan. Ia dipaparkan dengan kekuatan yang meyakinkan karena ia bersumber dari keterangan Yang Maha Esa itu sendiri serta sejalan dengan kesaksian fitrah manusia yang bersemai dalam dirinya tentang kebenaran penjelasan itu. Inilah yang menjadi bukti keesaan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang merupakan tujuan utama surah ini, bahkan semua ayat-ayat al-Qur'an, karena al-Qur'an memang datang bukan untuk membuktikan wujud Tuhan yang demikian jelas, tetapi untuk membuktikan keesaan-Nya.

Sesungguhnya, keberadaan alam raya ini dengan sistemnya yang demikian harmonis, serasi, dan mapan, membuktikan melalui fitrah, naluri, dan akal manusia bahwa di balik wujud yang demikian itu pasti ada Pencipta Yang Maha Esa lagi Pengatur Yang Maha Mengetahui lagi Kuasa.

Semoga bermanfaat...
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Al an'am 6:2

BISMILLAAHIR-ROHMAANIR-ROHIIM.
ASSALAMU 'ALAIKUM WAROHMATULLOOHI WABAROKAATUH.

Selamat pagi anak2ku dan sahabat2ku pecinta al-Qur'an yang dirahmati Allah, Alhamdulillah senantiasa kita panjatkan syukur kehadhirat Allah yang mana kita masih diberikan kesehatan dan kesempatan untuk dapat bersama-sama bertadarus serta belajar tafsir perkata dengan penjelasan secara mendetail dari ayat per ayat. Semoga dengan cara ini kita dapat menguasai bahasa al-Qur'an serta memahami isi kandungan al-Qur'an dengan baik dan benar. Alhamdulillah hari ini kita sudah memasuki ayat kedua dari surah al-An'aam.

Setelah pada ayat pertama surah al-An'aam ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala memulai dengan menyebut ALḪAMDULILLAAH yakni pujian kepada diri-Nya untuk mengajari hamba-hamba-Nya memuji kepada-Nya dengan bentuk kalimat tersebut. Kalimat hamdalah mencakup seluruh sendi-sendi keagungan dan kesempurnaan. Dalam penyebutan pujian ini, Allah memberitahukan bahwasanya Dia-lah yang paling pantas memperoleh segala pujian, karena tidak ada kawan dan sekutu bagi-Nya. Ayat di atas bermakna, "Pujilah Allah, Tuhan kamu sekalian yang telah memberikan berbagai macam anugerah kenikmatan dan kemuliaan kepadamu, Dia-lah yang menciptakan, mengadakan dan membuat langit dan bumi yang di dalamnya terdapat berbagai macam keindahan dan kreasi hasil ciptaan-Nya, semuanya dapat mengherankan akal pikiran sebagai peringatan bagi orang-orang yang berakal. Dan Dia pula yang menjadikan gelap dan terang, menciptakan malam dan siang silih berganti dalam keberadaannya bermanfaat bagi penduduk alam semesta. Maka pada ayat berikutnya Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

QS AL-AN-'AAM  006: 002.
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ طِينٍ ثُمَّ قَضَى أَجَلا ۗ  وَأَجَلٌ مُسَمًّى عِنْدَهُ ثُمَّ أَنْتُمْ تَمْتَرُونَ
HUWALLADZII KHOLAQOKUM-MIN THIININ TSUMMA QODHOOO AJALAN, WA AJALUM-MUSAMMAN 'INDAHUU TSUMMA ANTUM TAMTARUUNA. = Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu.

Translation In English: "He it is created you from clay, and then decreed a stated term (for you). And there is in His presence another determined term; yet ye doubt within yourselves!".

"HUWA=Dia" "ALLADZII=yang" "KHOLAQOKUM=telah menciptakan kalian" "MIN=dari" "THIININ=tanah" dengan diciptakan-Nya ayah kamu Adam dari tanah, "TSUMMA=kemudian" "QODHOOO=Dia menetapkan" "AJALAN=batas waktu hidup" bagi kamu, setelah sampai pada ajal itu kamu akan mati, "WA AJALUN=dan batas waktu" ditetapkan "MUSAMMAN=(yang) ditentukan"  'INDAHUU=di sisi-Nya" untuk membangkitkan kamu dari kematian, "TSUMMA=kemudian" "ANTUM=kalian" hai orang-orang kafir, "TAMTARUUN=kalian meragukan" kamu masih meragukan tentang adanya hari berbangkit padahal sebelumnya kamu telah mengetahui, bahwa Dialah yang mulai menciptakanmu. Dan siapa yang mampu menciptakan berarti Dia lebih mampu untuk mengembalikan ke asalnya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala yang menciptakan bapakmu, Adam, dari tanah.  Dia Allah menentukan ajal kematian kamu ketika telah selesai batas waktu yang ditentukan. Dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan-Nya sendiri untuk membangkitkan kamu sekalian. Ajal pertama adalah kematian dan ajal kedua adalah kebangkitan dari kubur setelah mati, pada saat datangnya Hari Kiamat. Kemudian kamu wahai orang-orang kafir, ragu-ragu dengan adanya hari kebangkitan dan mengingkarinya setelah tampak tanda-tanda yang nyata.

Setelah menjelaskan kekuasaan-Nya mencipta langit dan bumi, gelap dan terang, ditegaskan-Nya tentang penciptaan manusia dari tanah yang bercampur air. Atau, dengan kata lain, setelah menyebut penciptaan alam raya yang besar, kini disebutnya alam kecil, yakni manusia; lalu bila ayat lalu menegaskan bahwa Dia yang menciptakan bumi, ayat ini menyebut penciptaan manusia dari bagian bumi itu, yakni tanah, karena manusia tercipta darinya. Apalagi salah satu sebab yang membuat mereka menolak atau meragukan adanya kebangkitan setelah kematian adalah terkubur dan bercampurnya jasad manusia dengan tanah. Ayat ini meluruskan pandangan itu dengan mengingatkan asal kejadian manusia dari (طين) Thiin, yakni tanah yang bercampur air, bukan sekadar tanah, karena dengan demikian percampuran tersebut lebih mantap, dan dengan demikian pula pemilahan dan pemisahannya—dalam pandangan manusia—akan lebih sulit. Namun, kendati sulit dalam pandangan manusia, ia mudah bagi Allah.

Dialah, yakni Allah Subhanahu wa Ta'ala yang menciptakan Kamu, wahai manusia, dari tanah yang bercampur air. Dan, karena biasanya sesuatu yang terbuat dari bahan dan kondisi yang sama, sama pula masa keberadaan dan lamanya bertahan. Maka, untuk menunjukkan betapa kuasa Allah Subhanahu wa Ta'ala, ditegaskan-Nya dengan menggunakan kata Tsumma, yakni sesudah itu, ditentukan-Nya bagi masing-masing makhluk hidup, ajal, yakni kematian atau masa akhir keberadaan di pentas bumi ini. Dan, di samping ajal itu, ada lagi suatu ajal yang lain yang juga ditentukan oleh-Nya, yaitu ajal untuk kebangkitan setelah kematian, tetapi ini ada di sisi-Nya, yakni dalam pengetahuan-Nya, dan hanya Dia sendirilah yang mengetahui kapan datangnya.

Kemudian, setelah aneka bukti dihamparkan-Nya, Kamu, hai manusia yang kafir, masih memaksakan diri terus-menerus ragu-ragu tentang keniscayaan berbangkit itu.

Ayat ini menyatakan bahwa manusia diciptakan dari tanah. Ini dalam arti bahwa makanan yang dimakannya terdiri dari banyak hal yang bersumber dari tanah atau bahwa penciptaan dari tanah itu dalam arti penciptaan asal-usulnya, yakni Adam 'alaihis-salam. Pendapat kedua ini mengisyaratkan adanya hubungan dan persamaan setiap manusia yang lahir kemudian dengan manusia pertama itu. Adam 'alaihis-salam sebagai manusia memiliki fitrah dan naluri kemanusiaan dan naluri itu dimiliki pula oleh anak cucunya serta menurun darinya. Itulah hubungan dan persamaan semua manusia dengan Adam 'alaihis-salam; dan karena Adam tercipta dari tanah, tidak keliru—setelah adanya persamaan dan hubungan—bila dikatakan bahwa semua manusia tercipta dari tanah.

Ayat ini menegaskan bahwa keadaan seluruh manusia dikuasai sepenuhnya oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, karena dia yang menciptakannya sejak semula. Bahkan, sejak awal kejadian manusia pertama yang Dia ciptakan dari tanah yang bercampur air, sampai dengan manusia terakhir dipentas bumi ini. Dia yang menguasai mereka semua sejak detik awal dari wujudnya sampai dengan ajalnya yang melampaui kehidupan dunia menuju masa yang hanya Allah sendiri yang mengetahuinya.

Dalam beberapa ayat yang berbicara tentang reproduksi manusia, ditemukan sejumlah kata yang berbeda, seperti (تراب) turoob=tanah, (ماء مهين) maa-'in mahiin=air yang hina, (طين) thiin=tanah bercampur air, dan lain-lain. Demikian juga halnya dengan kejadian manusia pertama. Suatu kali digambarkan dengan turoob=tanah, di kali lain dengan thiin=tanah bercampur air, selanjutnya (حمأ مسنون) ḫama-in masnuun=tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk, kemudian (صلصال كا لفخّار) sholshoolin kal-fakhkhoor=tanah kering seperti tembikar. Informasi yang beraneka ragam itu tidak saling bertentangan karena masing-masing berbicara tentang tahapan proses kejadian manusia yang berbeda-beda.

Ketika para pakar menganalisis kandungan tanah, mereka menemukan sekian banyak unsur dan sebagian unsur tersebut dikandung oleh jasmani manusia. Demikianlah Allah membuktikan kebenaran informasi-Nya—walau—melalui penelitian orang-orang yang tidak percaya kepada al-Qur'an.

Penggunaan bentuk nakirah/indefinite untuk kata (أجل) Ajal menunjukkan bahwa ajal manusia tidak dapat diketahui manusia kapan tibanya secara pasti.

Selanjutnya, ayat di atas mengisyaratkan dua macam ajal. Ini juga dipahami dari penggunaan bentuk nakirah/indefinite kata ajal. Dalam kaidah dinyatakan, "Apabila kata yang sama berulang dalam bentuk nakirah, kata pertama berbeda maknanya dengan yang kedua." Di atas telah dikemukakan bahwa kata ajal pertama adalah kematian setiap pribadi dan ajal kedua adalah masa kebangkitan atau antara kematian dan masa kebangkitan. Ada juga yang memahami ajal pertama dalam arti tidur dan ajal kedua adalah mati, atau ajal pertama adalah ajal generasi terdahulu dan ajal kedua ajal generasi yang datang kemudian. Atau ajal pertama ajal masing-masing yang telah lewat dan ajal kedua adalah yang belum dilalui.

Pendapat terkuat tentang arti ajal adalah ajal kematian dan ajal kebangkitan karena biasanya al-Qur'an menggunakan kata ajal bagi manusia dalam arti kematian. Di sisi lain, ayat ini dikemukakan dalam konteks pembuktian tentang keesaan Allah dan keniscayaan hari Kebangkitan sehingga sangat wajar kata ajal menunjuk kepada kematian dan hari Kebangkitan itu.

Diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas radhiallahu 'anhu bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menentukan dua ajal bagi tiap-tiap orang, yaitu, ajal dari kelahirannya hingga kematiannya, dan ajal dari kematiannya hingga kebangkitannya. Jika seseorang berbuat baik dan bertakwa serta gemar bersilaturrahim, maka ditambahkan ajal usianya dari ajal kebangkitannya. Selain itu, jika seseorang durhaka dan gemar memutuskan silaturrahim, maka dikurangilah ajal usianya lalu ditambahkan kepada ajal kebangkitannya.

Dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Siapa yang ingin diperluas rezekinya dan diperpanjang usianya maka hendaklah dia bersilaturrahim. Silaturrahim menjadikan hidup manusia diliputi oleh keharmonisan dan jauh dari ketegangan, sedang ketegangan, yakni stres merupakan salah satu faktor yang dapat mempercepat tibanya ajal. "Bagi tiap-tiap ajal ada Kitab (ketentuan). Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh)." (QS ar-Ra'd 13: 38-39).

وَ الـلَّــــهُ اَعْــلَـــمْ بِالصَّــــوَابِ
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Al an'am 6:1

BISMILLAAHIR-ROHMAANIR-ROHIIM.
ASSALAMU 'ALAIKUM WAROHMATULLOOHI WABAROKAATUH.

Selamat pagi anak2ku dan sahabat2ku pecinta al-Qur'an yang dirahmati Allah, Alhamdulillah senantiasa kita panjatkan syukur kehadhirat Allah yang mana kita masih diberikan kesehatan dan kesempatan untuk dapat bersama-sama bertadarus serta belajar tafsir perkata dengan penjelasan secara mendetail dari ayat per ayat. Semoga dengan cara ini kita dapat menguasai bahasa al-Qur'an serta memahami isi kandungan al-Qur'an dengan baik dan benar. Alhamdulillah hari ini kita sudah memasuki surah al-An'aam.

SURAH AL-AN-'AAM  (Hewan Ternak)
Surah al-An-'aam adalah surah Makkiyah karena hampir seluruh ayat-ayat-Nya diturunkan di Mekkah dekat sebelum hijrah, surah ini terdiri atas 165 ayat. Secara redaksional, penamaan itu tampaknya disebabkan kata al-An-'aam ditemukan dalam surah ini sebanyak enam kali. Juga dinamakan al-An-'aam karena di dalamnya disebut kata An-'aam dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka. Juga dalam surah ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu. Nama ini adalah satu-satunya nama untuknya yang dikenal pada masa Rasul shallallahu 'alaihi wasallam.

Abu Bakar bin Mardawaih meriwayatkan dengan isnadnya dari Anas bin Malik, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Surah al-An-'aam turun dikawal oleh serombongan Malaikat yang memenuhi timur dan barat. Mereka beramai-ramai mengucapkan tasbih, dan bumi pun bergemuruh. 'Rasululllah shallallahu 'alaihi wasallam mengucapkan, 'Subhanallahil-'Azhiim, Subhanallahil-'Azhiim'".

Parade dan kegemuruhan ini tampak jelas bayangannya di dalam surah ini. Karena surah ini sendiri sebuah konvoi, konvoi jiwa dan konvoi alam semesta. Ia merupakan kemasan berbagai sikap, pemandangan, isyarat, dan kesan. Ia dengan susunannya yang saling mendukung menyerupai pemandangan-pemandangan, sikap-sikap, isyarat-isyarat, dan kesan-kesan bagaimana muara sungai dengan riak-riak gelombangnya yang susul-menyusul. Satu gelombang hampir-hampir belum sampai ke dasar tiba-tiba disusul oleh gelombang berikutnya, yang membuat jaringan bersamanya, di aliran yang berkesinambungan dan terus memancar.

Tema pokok yang dibicarakannya pun berkesinambungan. Sehingga, tidak mungkin surah ini dibagi menjadi beberapa segment, yang masing-masing segmen membicarakan sebuah sub-tema. Akan tetapi, surah ini adalah gelombang-gelombang...dan setiap gelombang serasi dengan yang sebelumnya dan sesudahnya, dan saling melengkapi.

Surah ini dimulai dengan menghadapi orang-orang musyrik yang mengambil tuhan-tuhan lain selain Allah, padahal petunjuk-petunjuk tauhid tampak dihadapan mereka dan meliputi mereka, serta terlihat jelas di alam semesta dan di dalam diri mereka... Dimulai dengan menghadapkan kepada hakikat 'Ketuhanan Allah" yang tampak jelas dalam sentuhan-sentuhan luas yang meliputi seluruh alam semesta, dan meliputi wujud mereka secara keseluruhan... Dimulai dengan memberikan tiga macam sentuhan dengan melukiskan lapangan wujud yang besar dengan sangat dalam dan luas.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
BISMILLAAHIR-ROHMAANIR-ROHIIM = Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

QS AL-AN-'AAM  006: 001.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ
ALḪAMDULILLAAHIL-LADZII KHOLAQOS-SAMAAWAATI WAL-ARDHO WA JA-'ALAZH-ZULUMAATI WAN-NUURO, TSUMMAL-LADZIINA KAFARUU BI-ROBBIHIM YA'DILUUNA. = Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan menjadikan gelap dan terang, kemudian orang-orang yang kafir mempersamakankan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.

Translation In English" "Praise be Allah, Who created the heavens and the earth, and made the darkness and the light. Yet those who reject Faith hold (others) as equal, with their Guardian-Lord."

"ALḪAMDULILLAAHI=Segala puji bagi Allah" "AL-LADZII=yang" "KHOLAQO=telah menciptakan" "AS-SAMAAWAATI=semesta langit" "WAL-ARDHO=dan bumi" "WA JA-'ALA=dan Dia telah menjadikan" "AZH-ZULUMAATI=semua kegelapan" "WAN-NUURO=dan cahaya" terang, "TSUMMA=kemudian" "AL-LADZIINA=orang-orang yang" "KAFARUU=mereka kafir" ingkar, "BI-ROBBIHIM=terhadap Tuhan mereka" "YA'DILUUN=mereka mempersamakan" mempersekutukan dengan yang lainnya.

Dalam surah ini Allah memulai dengan menyebut ALḪAMDU yakni pujian kepada diri-Nya untuk mengajari hamba-hamba-Nya memuji kepada-Nya dengan bentuk kalimat tersebut. Kalimat hamdalah mencakup seluruh sendi-sendi keagungan dan kesempurnaan. Dalam penyebutan pujian ini, Allah memberitahukan bahwasanya Dia-lah yang paling pantas memperoleh segala pujian, karena tidak ada kawan dan sekutu bagi-Nya. Ayat di atas bermakna, "Pujilah Allah, Tuhan kamu sekalian yang telah memberikan berbagai macam anugerah kenikmatan dan kemuliaan kepadamu, Dia-lah yang menciptakan, mengadakan dan membuat langit dan bumi yang di dalamnya terdapat berbagai macam keindahan dan kreasi hasil ciptaan-Nya, semuanya dapat mengherankan akal pikiran sebagai peringatan bagi orang-orang yang berakal. Dan Dia pula yang menjadikan gelap dan terang, menciptakan malam dan siang silih berganti dalam keberadaannya bermanfaat bagi penduduk alam semesta. Allah menggunakan bentuk plural; ZHULUMAT (kegelapan-kegelapan) karena kegelapan bermacam-macam, dan jalannya amat banyak. Allah menggunakan bentuk singular (tunggal) menyebut NUUR (cahaya), sebab Allah-lah yang Maha Esa, dan dialah Sang Penerang dunia ini. Ayat ini mengkritisi kaum Majusi yang beribadah menyembah api dan cahaya lainnya, juga menolak pendapat mereka yang mengatakan bahwa segala kebaikan berasal dari cahaya dan keburukan dari kegelapan. Sesungguhnya makhluk tidaklah bisa menjadi Tuhan atau menciptakan sesuatu yang baru. Kemudian setelah datangnya berbagai macam dalil yang nyata atas keberadaan Allah dan keesaan-Nya, orang-orang kafir menyekutukan Tuhannya dan menyamakan Tuhan dengan berhala-berhala yang mereka buat sendiri. Ayat ini merupakan bentuk keheranan terhadap perbuatan-perbuatan mereka dan kecaman mereka. Ayat ini menunjukkan buruknya perbuatan orang kafir, karena makna bahwa Allah menciptakan langit dan bumi telah nyata dan nikmat-Nya atas penciptaan itu telah terang, namun setelah itu semuanya, mereka malah menyekutukan Tuhannya. Ayat ini menerangkan, seakan-akan Allah berfirman, "Hai Fulan, aku telah memberi kamu, memuliakan kamu dan berlaku baik kepada kamu, lantas kamu malah mencelaku? Setelah terangnya ini semua".

Akhir surah al-Maa-idah menggambarkan bagaimana Nabi 'Isa alaihis-salam mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan memuja-Nya. Allah Yang Mahaagung juga menegaskan bahwa kepunyaan Allah-lah kerajaan semua langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Penegasan ini adalah pujian karena pujian pada hakikatnya adalah menyebut sesuatu yang baik dengan baik. Jika demikian, ayat yang lalu pun mengandung pujian untuk Allah. Tetapi, jangan menduga bahwa pujian itu baru wajar disandang-Nya ketika itu, Tidak! Dia telah terpuji sebelumnya, bahkan pujian telah menjadi hak bagi-Nya sebelum terciptanya langit dan bumi. Karena itu, melalui ayat pertama surah ini, dinyatakan-Nya bahwa, Segala puji bagi Allah semata. Yang telah menciptakan banyak langit yang beraneka ragam dan bertingkat-tingkat, dan bumi yang dihuni antara lain oleh manusia. Demikianlah Ketuhanan Yang Maha Esa dihubungkan dengan penciptaan wujud yang paling luas. Kemudian, ditegaskan bahwa, dan Dia juga, yakni Allah Subhanahu wa Ta'ala Yang Maha Terpuji itu, menjadikan aneka gelap sehingga manusia dapat beristirahat dan mengadakan terang supaya mereka dapat giat mencari rezeki. Kemudian, alangkah jauh keagungan dan anugerah-Nya itu dengan sikap orang-orang kafir, yakni yang menutupi kebenaran, mengingkari keesaan Allah, serta tidak mensyukuri nikmat-Nya. Alangkah jauhnya keagungan itu dengan sikap mereka ketika mempersamakan sesuatu dengan Tuhan Pemelihara mereka, padahal sesuatu itu tidak memiliki kesamaan sedikit pun dengan-Nya. Bukankah hanya Dia yang menciptakan langit dan bumi serta isinya, yang dipersamakan oleh orang-orang kafir dengan Tuhan? Bukankah hanya Dia yang menciptakan terang dan gelap? Siapa dan apa yang diciptakan dan dijadikan oleh Allah, tidak dapat dipersamakan dengan Allah; dan, jika demikian, pastilah tidak ada yang menyamai-Nya dan, dengan demikian pula, segala puji hanya tertuju kepada-Nya semata.

Ayat ini adalah satu dari empat surah al-Qur'an—selain al-Fatihah—yang dimulai dengan AL-ḪAMDULILLAH. Untuk lebih jelasnya, rujuklah kesurah al-Fatihah yang telah kita tadarusi dan bahas pada beberapa waktu yang lalu. Silakan di check it out pada file bapak.

Dimulainya surah ini dengan pujian kepada Allah merupakan mukaddimah dari prinsip utama yang akan dijelaskan, yakni persoalan tauhid dan keniscayaan hari Kemudian, untuk kemudian beralih kepada perincian bukti-bukti kebenaran hakikat itu, serta keheranan dan kecaman terhadap mereka yang ragu dan ingkar, padahal seharusnya mereka mengakui dan memuji-Nya.

Sementara ulama menjelaskan bahwa (المدح) Al-Madḫ=pujian, lebih luas cakupan maknanya dari (الحمد) Al-Ḫamd, yang juga biasa diterjemahkan dengan pujian. Ini karena Al-Madḫ dapat ditujukan kepada yang berakal dan tidak berakal, benda hidup maupun mati. Bukankan kita dapat memuji lukisan yang indah, atau batu permata yang mempesona, dan lain-lain? Adapun Al-Ḫamd tidak digunakan kecuali kepada yang berakal, bahkan yang melakukan sesuatu yang baik dan indah dengan sadar serta tanpa terpaksa.

AL-ḪAMDULILLAH mengandung makna bahwa pujian dalam berbagai ragam dan macamnya hanya ditujukan semata-mata kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak kepada selain-Nya karena hanya Dia yang berhak menerima pujian itu.

Ayat di atas menggunakan kata (خَلَقَ) KHOLAQO=mencipta, bagi langit dan bumi untuk menekankan betapa hebat dan agungnya ciptaan itu. Adapun ketika menguraikan tentang gelap dan terang, kata yang digunakannya adalah (جَعَلَ) JA-'ALA=menjadikan. Ini bukan saja karena gelap dan terang dalam kehidupan sehari-hari muncul akibat adanya sesuatu sebelumnya, yakni tenggelam dan terbitnya matahari, tetapi juga untuk mengisyaratkan bahwa manusia harus dapat meraih manfaat dari kehadiran gelap dan terang. Hal ini dipahami dari penggunaan kata Ja-'ala yang biasanya mengandung penekanan tentang manfaat sesuatu—baik makhluk maupun ketetapan—yang dijadikan Allah dari sesuatu ke sesuatu yang lain. Al-Qur'an memang berkali-kali menegaskan bahwa Allah menjadikan segala sesuatu di alam raya ini untuk kepentingan dan kemaslahatan ummat manusia.

Sebagaimana terbaca pada ayat di atas, al-Qur'an selalu menggunakan kata (السَّمَاوَاتِ) AS-SAMAAWAAT, yakni bentuk jamak untuk langit, jika kata itu digandengkan dengan (الأرْضَ) AL-ARDH=bumi, yang juga selalu ditampilkan dalam bentuk tunggal. Ini tampaknya untuk menegaskan tentang banyak dan bertingkat-tingkatnya langit dengan aneka galaksi yang ada di angkasa, berbeda dengan bumi yang dihuni manusia, yang hanya satu atau, paling tidak, hanya satu yang dikenal oleh masyarakat manusia saat itu hingga kini.

Ayat di atas mendahulukan penyebutan kata aneka gelap atas kata terang, bukan saja—seperti pendapat sementara ulama—karena gelap lebih dahulu wujud daripada terang, tetapi tampaknya untuk mengisyaratkan bahwa manusia hendaknya selalu menuju ke arah positif/terang. Perlu diingat pula bahwa di atas terang, ada terang yang melebihinya. Selanjutnya, pada saat kita disinari oleh terang, misalnya dengan kekuatan 40 watt, terang yang dipancarkannya relatif menjadi gelap bila kekuatannya meningkat menjadi 80 watt. Demikianlah, ayat ini dan semacamnya mengantar manusia untuk selalu mengarah kepada yang terang dan meninggalkan gelap walau yang sifatnya relatif.

Sebagaimana disinggung di atas dan kebiasaan al-Qur'an—menggunakan bentuk jamak untuk kata (ظلمات) ZHULUMAAT=aneka gelap, sedangkan kata (نور) NUUR berbentuk tunggal. Ini untuk mengisyaratkan bahwa kegelapan bermacam-macam dan beraneka ragam, sumbernya pun banyak. Setiap benda pasti mempunyai bayangan, dan bayangan itu adalah gelap, sehingga gelap menjadi banyak, berbeda dengan cahaya. Demikian tulis banyak ulama tafsir.

Dapat juga dikatakan bahwa sumber kegelapan ruhani dan penyebabnya banyak, berbeda dengan terang yang hanya satu karena sumbernya hanya dari Yang Maha Esa. "Barang siapa yang tidak diberi oleh Allah cahaya, maka tidaklah ada baginya sedikit cahaya pun" (QS an-Nuur 24: 40).

Kata (ثمّ) TSUMMA=kemudian, pada ayat di atas digunakan nuntuk menunjukkan betapa jauh sikap mereka dari kebenaran dan betapa buruk sikap itu. Betapa tidak demikian? Telah terbukti dengan sangat jelas keagungan dan keesaan Allah Subhanahu wa Ta'ala; antara lain melalui penciptaan langit dan bumi serta gelap dan terang, tetapi bukti-bukti itu diabaikan oleh orang-orang kafir, bahkan mereka mengangkat tuhan-tuhan selain Allah atau mempersekutukan-Nya dengan sesuatu.

Penyebutan penciptaan langit dan bumi serta pengadaan gelap dan terang mengandung isyarat pembatalan keyakinan kaum kafir dengan berbagai kepercayaan mereka, sebagaimana kaum musyrikin Mekkah yang menetapkan adanya tuhan selain Allah, seperti berhala-berhala yang pada hakikatnya terbuat dari bahan-bahan yang ada di bumi, atau kepercayaan kaum Nasrani yang mempertuhankan Nabi'Isa dan ibunya Maryam, padahal keduanya hidup di bumi dan berasal dari tanah. Ayat ini juga membatalkan keyakinan para penyembah bintang, matahari, atau bulan yang merupakan benda-benda langit. Di sisi lain, penyebutan penciptaan dan pengadaan Allah terhadap gelap dan terang membuktikan bahwa keyakinan orang-orang Majusi yang mempertuhankan gelap dan terang bukanlah keyakinan yang benar karena keduanya, seperti halnya langit dan bumi, adalah ciptaan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Di sisi lain, penyebutan gelap dan terang dapat juga menjadi isyarat tentang keadaan manusia, yakni ada yang berada di jalan terang dan ada pula di jalan gelap.

Semoga bermanfaat dan selamat beraktivitas...
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Al maiidah 119-120

BISMILLAAHIR-ROHMAANIR-ROHIIM.
ASSALAMU 'ALAIKUM WAROHMATULLOOHI WABAROKAATUH.

Selamat pagi anak2ku dan sahabat2ku pecinta al-Qur'an yang dirahmati Allah, Alhamdulillah senantiasa kita panjatkan syukur kehadhirat Allah yang mana kita masih diberikan kesehatan dan kesempatan untuk dapat bersama-sama bertadarus serta memahami isi kandungan al-Qur'an dengan baik dan benar.  Secara tidak terasa pada hari ini kita telah sampai pada penghujung dari surah al-Maa-idah.

QS AL-MAA-IDAH 5: 119-120.
أ عو ذ بالله من تاشيطان الرجيم
قَالَ اللَّهُ هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ ۗ  لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۗ  رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۗ  ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ . لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا فِيهِنَّ ۗ  وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
QOLALLOOHU HAADZAA YAUMU YANFA-'USH-SHOODIQIINA SHIDDQUHUM, LAHUM JANNAATUN TAJJRII MIN TAḪTIHAL-ANHAARU KHOOLIDIINA FIIHAAA ABADAN, RODHIALLOOHU 'ANHUM WARODHUU 'ANHU, DZAALIKAL-FAUZUL-'AZHIIMU.   LILLAAHI MULKUS-SAMAAWAATI WAL-ARDHI WAMAA FIIHINNA, WAHUWA 'ALAA KULLI SYAI-IN QODIIRUN. =  Allah berfirman: "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi as-Shiddiqin kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar". Kepunyaan Allah-lah kerajaan semua langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Translation In English: "Allah will say: "This is a day on which the truthful will profit from their truth: theirs are gardens, with rivers flowing beneath,- their eternal Home: Allah well-pleased with them, and they with Allah: That is the great salvation, (the fulfilment of all desires). (120) To Allah doth belong the dominion of the heavens and the earth, and all that is therein, and it is He Who hath power over all things."

"QOLALLOOHU=Allah berfirman" "HAADZAA=ini" adalah, artinya hari Kiamat  "YAUMU=hari" "YANFA-'U=akan mendapatkan manfaat" "ASH-SHOODIQIINA=orang-orang yang benar" sewaktu di dunia seperti Nabi Isa, "SHIDDQUHUM=(atas) kebenaran mereka" sebab hari itu adalah hari pembalasan, "LAHUM=bagi mereka" "JANNAATUN=surga" "TAJJRII=(yang) mengalir" "MIN=dari" "TAḪTIHAA=bawahnya" sekitarnya, "AL-ANHAARU=sungai-sungai" "KHOOLIDIINA=sebagai orang-orang yang kekal" "FIIHAAA=di dalamnya" "ABADAN=selama-lamanya", "RODHIALLOOHU=Allah ridha" 'ANHUM=terhadap mereka" oleh sebab ketaatan terhadap-Nya, "WARODHUU=dan mereka ridha"  'ANHU=terhadap-Nya" dengan pahala-Nya, "DZAALIKA=demikian itu" "AL-FAUZU=keberuntungan" "AL-'AZHIIM=yang sangat besar" dan orang-orang pendusta sewaktu hidup di dunia, tidak akan bisa bermanfaat kejujuran mereka pada hari itu seperti orang-orang kafir, yaitu tatkala mereka mulai percaya dan iman sewaktu mereka melihat azab Allah.   "LILLAAHI=milik Allah" "MULKU=kerajaan" "AS-SAMAAWAATI=semesta langit" "WAL-ARDHI=dan bumi" tempat-tempat penyimpanan hujan, semua tumbuhan, semua rezeki dan lain-lainnya, "WA MAA=dan apa yang" "FIIHINNA=ada di dalamnya" dipergunakan kata MAA, karena kebanyakan makhluk Allah itu terdiri dari yang tidak berakal, "WAHUWA=dan Dia"  'ALAA=atas" "KULLI=setiap" "SYAI-IN=sesuatu" "QODIIR=Mahakuasa" di antara kekuasaan-Nya itu ialah memberi pahala kepada orang yang berbuat benar, dan menyiksa orang yang berbuat dusta.

".... Ini adalah hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka... " Ini adalah kalimat Tuhan Pencipta dan Penguasa alam semesta, di dalam menutup dialog agung mengenai pemandangan semesta... Ini adalah kalimat terakhir dalam pemaparan pemandangan ini, yang merupakan kata pasti dalam masalah ini. Di samping itu dijelaskan pula balasan yang setimpal dengan kebenaran dan orang-orang yang benar.

"Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai"
"Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya"
"Allah ridha terhadap mereka"
"Dan mereka pun ridha terhadap-Nya"

Setingkat demi setingkat...surga, kekekalan, keridhaan Allah, dan keridhaan mereka karena mendapatkan kemuliaan dari Tuhan mereka.
"Itulah keberuntungan yang paling benar".

Kita telah menyaksikan pemandangan—dari celah-celah pemaparan al-Qur'an dengan metodenya yang unik—dan telah kita dengarkan kalimat terakhir itu... Telah kita saksikan dan kita dengar, karena metode ilustrasi Qur'ani yang tidak sekedar memberikan janji dan harapan masa depan yang dinantikan. Ia tidak membiarkan kalimat-kalimatnya terdengar oleh telinga dan terlihat oleh mata. Tetapi, ia menggerakkan dan menggerakkan perasaan, memvisualkannya secara nyata seakan-akan yang bersangkutan sedang mendengarnya dan melihatnya.

Semua itu kalau dinisbatkan kepada kita—manusia biasa yang tertutup terhadap perkara gaib—adalah pemandangan masa depan yang akan kita saksikan pada hari Kiamat. Tetapi, kalau dinisbatkan kepada pengetahuan Allah yang mutlak, maka ia adalah kenyataan yang sedang terjadi. Karena masa dan keterhalangan itu hanyalah bagi kita manusia yang fana.

Setelah ayat lalu merampungkan jawaban 'Isa 'alaihis-salam atas pertanyaan-pertanyaan Allah serta menjelaskan pula sikap, bahkan—tidak mustahil—harapan beliau menyangkut ummatnya, kini tentu saja hati dan pikiran sangat ingin mengetahui bagaimana tanggapan  Allah. Itulah yang diuraikan oleh ayat ini ketika menyatakan bahwa Allah berfirman menjawab atau menanggapi jawaban 'Isa alaihis-salam itu bahwa. "ini hari di mana dikumpulkan para Rasul dan ummatnya adalah suatu hari yang bermanfaat bagi as-Shiddiqin, yakni orang-orang, dengan pengertian apa pun, selalu benar dan jujur. Mereka tidak ternodai oleh kebathilan, tidak pula mengambil sikap yang bertentangan dengan kebenaran. Itulah yang bermanfaat bagi mereka, kebenaran yang selama ini telah mendarah daging dalam diri mereka. Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Itu akan mereka nikmati bukan hanya untuk sementara, tetapi mereka kekal di dalamnya, kekekalan yang tidak berakhir untuk selama-lamanya, jangan menduga bahwa kenikmatan yang mereka peroleh itu terbatas pada kenikmatan materi. Tidak!  Di atas kenikmatan material ada kenikmatan ruhani yang melebihinya, yakni Allah Yang Mahaagung dan beraneka ragam anugerah-Nya, juga ridha terhadap mereka sehingga Dia akan menganugerahkan kepada mereka aneka anugerah yang tidak dapat dilukiskan dengan dengan kata-kata atau terbayang dalam benak manusia, dan karena itu pula mereka pun ridha terhadap-Nya karena tidak ada lagi yang mereka harapkan kecuali terhidang untuk mereka. Itulah, yakni anugerah yang sedemikian tinggi dan jauh kedudukannya yang merupakan keberuntungan yang besar".

Jangan menduga apa yang dijanjikan tidak akan terlaksana walaupun boleh jadi nalar sementara manusia tidak mencernanya. Jangan menduga demikian karena Kepunyaan Allah-lah kerajaan semua langit dan bumi. Dia yang menciptakan, dan Dia pula yang mengendalikannya dan demikian juga menjadi milik-Nya apa yang ada di dalamnya, yakni di dalam dan permukaan langit dan bumi; dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu sehingga bukannya hanya semua langit dan bumi serta segala isinya yang berada dalam kekuasaan dan milik-Nya, tetapi juga segala wujud walau yang tidak diketahui manusia.

Kalau Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, Dia pastilah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia Kuasa menetapkan hukum dan membatalkan, menghalalkan, dan mengharamkannya, Kuasa pula menjatuhkan sanksi dan memberi ganjaran.

Terbaca di atas bahwa ayat-ayat ini tidak menyinggung sedikit pun tentang bagaimana kesudahan mereka yang mempertuhankan 'Isa 'alaihis-salam. Kita boleh berkata bahwa hal tersebut disebabkan apa yang akan mereka alami telah jelas dari ayat-ayat yang lalu, baik dalam surah ini maupun surah-surah yang lain. Tetapi, agaknya tidak keliru juga jika dikatakan bahwa tidak dijelaskannya kesudahan mereka bahkan kesudahan siapa pun yang durhaka dalam ayat ini adalah untuk menunjukkan hak prerogatif Allah itu dan bahwa pembatalan siksa merupakan sesuatu yang baik dan terpuji, berbeda dengan pembatalan janji yang berupa ganjaran.

Demikian ayat-ayat ini menutup uraian surah al-Maa-idah. Akhir uraian surah ini bertemu dengan awal surah yang memerintahkan kaum beriman agar memenuhi dan menepati akad perjanjian yang telah mereka sepakati.

Dalam berbagai ayat surah ini diingatkan pentingnya menepati akad-akad perjanjian, sebagaimana diuraikan pula akibat buruk yang dialami atau menanti mereka yang mengkhianati perjanjian, dan akhirnya disampaikan-Nya kesudahan mereka yang menanti yang secara tulus dan benar lagi bersungguh-sungguh memenuhi segala akad perjanjian – baik perjanjian mereka dengan Allah, sesama makhluk, maupun dengan diri sendiri. Demikianlah bertemu akhir surah ini dengan awalnya, bertemu juga antara perintah dan ganjaran melaksanakannya. Wallaahu A'lam..

Alhamdulillah pada hari ini kita telah mengkhatamkan surah al-Maa-idah. Dengan demikian berarti selama ini kita telah membahas sebanyak 789 ayat, secara rinci ayat per ayat, yang terdiri dari: Pertama surah al-Fatihah terdiri 7 ayat, kedua surah al-Baqarah 286 ayat, ketiga surah Aali 'Imraan 200 ayat, keempat surah an-Nisaa' 176, dan kelima surah al-Maa-idah 120 ayat. Insya Allah berikutnya kita akan memasuki pada surah keenam yaitu surah al-An-'aam.

Kajian surah terakhir dari al-Maa-idah ini kita tutup dengan doa bersama:
اللهم ارحمنا بالقرآن، وجعله لنا إمام ونورا وهدى ورحمة، اللهم ذكرنا منه ما نسينا وعلمنا منه ما جهلنا، وارزقنا تلاوته آناءاليل وأطراف النهار، واجعله لناحجة يارب العالمين
Alloohummar hamnaa bilqur'an, wajj'alhu lanaa imaamaw wanuurow wahudaw warohmah. Alloohumma dzakkirnaa minhu maa nasiinaa, wa'allimnaa minhu maa jahilnaa, warzuqqnaa tilaawatahu aanaa-allaili wa-athroofan nahaari, wajj-'alhu lanaa hujjatay yaa robbal 'aalamiin.

Ya Allah, dengan Al-Qur'an, karuniakanlah kasih sayang-Mu kepada kami. Jadikan Al-Qur'an sebagai imam, cahaya, hidayah, dan sumber rahmat bagi kami. Ya Allah, ingatkan kami bila ada ayat yang kami lupa mengingatnya. Ajarkan pada kami, ayat yang kami bodoh memahaminya. Karuniakan pada kami kenikmatan membacanya, sepanjang waktu, baik malam ataupun  disiang hari. Jadikan Al-Qur'an bagi kami sebagai hujjah (penjelas), wahai Tuhan pencipta semesta alam.

Ya Allah, jadikanlah bacaan kami ini, bacaan yang diberkahi, dan doa kami ini doa yang diberkahi dan diterima, Engkau ampuni kami atas dosa-dosa kami, Engkau tutupi aib-aib kami, Engkau selamatkan kami dengan keberkahan Al-Qur'an dari adzab neraka, dan Engkau masukkan kami ke dalam surga yang kekal karena ampunan dan rahmat Engkau.

Ya Allah, dengan keagungan Al-Qur'an, sembuhkanlah orang-orang yang sakit diantara kami, rahmatilah orang-orang yang mati diantara kami, dan uruslah urusan agama dan dunia kami.

Ya Allah, ampunilah kami dan orang-orang yang telah mendahului kami dalam keimanan, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami perasaan dengki kepada orang-orang mukmin.

Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
وصل الله على سيد نا محمد  وعلى آله وصحبه و بارك وسلم اجمعين  والحمد لله رب العالمين
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Al maidah 118

BISMILLAAHIR-ROHMAANIR-ROHIIM.
ASSALAMU 'ALAIKUM WAROHMATULLOOHI WABAROKAATUH.
Salam Jum'ah Mubarak: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda'' Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, maka wajib atasnya melaksanakan shalat Jum'at kecuali orang sakit, musafir, wanita, anak kecil, atau budak. (HR.Daruquthni)

Selamat pagi anak2ku dan sahabat2ku pecinta al-Qur'an yang dirahmati Allah, Alhamdulillah senantiasa kita panjatkan syukur kehadhirat Allah yang mana kita masih diberikan kesehatan dan kesempatan untuk dapat bersama-sama bertadarus serta memahami isi kandungan al-Qur'an dengan baik dan benar.

Kajian kita dihari Jum'at ini masih membicarakan tentang Nabi 'Isa 'alaihis salam.
QS AL-MAA-IDAH 5: 118.
أ عو ذ بالله من تاشيطان الرجيم
إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۚ  وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
IN TU-'ADZ-DZIBBHUM FA-INNAHUM 'IBAADUKA, WA-IN TAGHFIR LAHUM FA-INNAKA ANTAL-'AZIIZUL-ḪAKIIMU. = Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Translation In English: "If Thou dost punish them, they are Thy servant: If Thou dost forgive them, Thou art the Exalted in power, the Wise."

"IN=jika" "TU-'ADZ-DZIBBHUM=Engkau menyiksa mereka" artinya orang-orang yang melakukan kekafiran di antara mereka, "FA-INNAHUM=maka sesungguhnya mereka"  'IBAADU=hamba-hamba-Mu". Engkau adalah Yang Menguasai mereka; Engkaulah yang berhak memperlakukan mereka menurut apa yang Engkau kehendaki dan ketahui dari lahir dan bathin mereka, tak ada yang bisa menghalang-halangi Engkau, "WA-IN=dan jika" "TAGHFIR=Engkau memberi ampunan" "LAHUM=kepada mereka" artinya mengampuni orang-orang yang beriman di antara mereka, "FA-INNAKA=maka sesungguhnya Engkau" "ANTA=Engkau" "AL-'AZIIZU=Maha Perkasa" Yang Maha Menang perkara-Nya, "AL-ḪAKIIM=Maha Bijaksana" dalam perbuatan-Nya.

Akhirnya Nabi 'Isa 'alaihis-salam menyerahkan urusan mereka secara mutlak kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, disertai penetapan akan penghambaannya kepada Allah saja, dan penetapan terhadap kekuasaan Allah untuk mengampuni mereka atau mengazab mereka. Juga kebijaksanaan-Nya di dalam memberikan balasan kepada mereka, baik dengan mengampuninya maupun mengazabnya.

Alangkah bagusnya hamba yang shaleh ini dengan sikapnya yang penuh rasa takut! Dan dimanakah gerangan orang-orang yang melontarkan kebohongan besar ini, yang hamba yang shaleh dan suci ini berlepas diri darinya dengan penuh rasa takut, dan merendahkan diri kepada Tuhannya sedemikian rupa?

Jika demikian itu keadaan sebagian ummatnya, yakni ada yang mempertuhankan 'Isa 'alaihis-salam dan ibunya, 'Isa 'alaihis-salam mengembalikan segala persoalan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan menyatakan: Jika Engkau menyiksa mereka, yang menjadikan aku dan ibuku Tuhan, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Engkau wajar menyiksa mereka karena memang mereka bersalah, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka itupun wajar karena Engkau Maha Pengasih dan Maha Pengampun, dan tidak ada yang dapat keberatan dengan keputusan-Mu karena sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa sehingga semua tunduk dan mengharap pada-Mu lagi Mahabijaksana sehingga Engkau menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang wajar.

Kata (عِبَادُ) 'IBAAD biasanya digunakan al-Qur'an untuk hamba-hamba Allah yang taat, atau yang bergelimang dalam dosa, tetapi telah menyadari dosanya. Ini berbeda dengan kata 'ABIID yang digunakan al-Qur'an untuk hamba-hamba-Nya yang durhaka dan yang wajar mendapat siksa-Nya. Itu sebabnya QS al-Fajr [89]: 29-30 menyatakan:
فَادْخُلِي فِي عِبَادِي  . وَادْخُلِي جَنَّتِي
"FADDKHULII FII 'IBAADII.  WADDKHULII JANNATII = Maka masuklah ke dalam kelompok 'ibaad-Ku, dan masuklah ke dalam syurga-Ku". Sedang QS Aali 'Imraan 3: 182, misalnya, menyatakan:
وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلامٍ لِلْعَبِيدِ
"WA-ANNALLOOHA LAISA BIZHOLLAAMIL-LIL'ABIIDI. = Dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya al-'abiid," yakni tidak menganiaya walau menyiksa hamba-hamba-Nya yang durhaka."

Penggunaan kata 'Ibaad dalam ayat yang menguraikan keadaan di akhirat ini mengisyaratkan bahwa, walaupun di dunia mereka bergelimang dalam dosa, enggan sadar dan bertaubat, tetapi di akhirat sana mereka telah menyadari dosa-dosa mereka dan ingin bertaubat kendati taubatnya tidak lagi diterima Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Asy-Sya'rawi berpendapat bahwa kata 'Ibaad digunakan untuk menunjuk hamba-hamba Allah yang patuh melaksanakan tuntunan-tuntunan-Nya. Dan, karena di akhirat nanti semua manusia patuh, semua dinamai 'ibaad.

Ayat ini menunjukkan adanya semacam hak prerogatif Allah Subhanahu wa Ta'ala, serupa dengan hak prerogatif seorang kepada negara. Para hakim harus memutuskan perkara berdasarkan hukum dan undang-undang yang tertulis, dan setelah menetapkan hukum terpidana atau pembelanya dapat mengajukan grasi, dan ketika itu kepada negara berdasarkan wewenangnya dan dengan aneka pertimbangan dapat memberi pengampunan atau keringanan. Menetapkan satu ketetapan yang bisa jadi berbeda dengan ketetapan hukum yang tertulis, bukan berarti kesewenang-wenangan, atau pelanggaran terhadap hukum, karena hak prerogatif  itu pun adalah bagian dari hukum dan ditetapkan atas dasar pertimbangan-pertimbangan yang adil dan bijaksana, walau ia hanya berada di tangan kepala negara.

Ketika Allah Subhanu wa Ta'ala kelak di hari Kemudian menetapkan sesuatu yang berbeda dengan ketetapan tertulis dalam al-Qur'an, menunjukkan bahwa Dia Maha Mengetahui lahir dan bathin dan bahwa ketetapan yang dipahami oleh makhluk, hanyalah berdasar pengetahuan lahiriah mereka yang terbatas. Atas dasar pengetahuan-Nya yang menyeluruh itulah Allah menetapkan kebijaksanaan-Nya. Dalam konteks ini kita dapat berkata bahwa boleh jadi sebagian dari orang kita nilai, berdasar ayat-ayat al-Qur'an dan sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah seorang yang wajar disiksa. Tetapi, ternyata dengan hak prerogatif yang berdasar pengetahuan dan kebijaksanaan-Nya, yang bersangkutan tidak jadi disiksa; demikian juga sebaliknya, karena pada akhirnya kita bukan hanya harus berkata bahwa surga dan neraka adalah wewenang Allah Subhanahu wa Ta'ala semata, tetapi juga harus berkata seperti penutup ayat di atas, bahwa Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Ketika membahas Surah al-Maa-idah ayat 72-73 yang lalu, antara lain telah dikemukakan pendapat sementara ulama yang menyatakan bahwa keyakinan Trinitas dan atau ketuhanan 'Isa alaihis-salam adalah sesuatu yang sangat sulit dicerna, lebih-lebih bagi orang awam. Ummat Nasrani, pada umumnya, menerima keyakinan itu sebagai suatu ucapan tanpa memahami maknanya, bahkan mereka merasa tidak butuh untuk memahaminya. Sebagian mereka meyakini makna kata Anak dan Bapak dalam makna yang serupa dengan  makna penghormatan. Mereka itu sebenarnya tidak sepenuhnya termasuk kelompok yang menganut keyakinan Trinitas, mereka hanya "mengunyah" kalimat itu dan memasukkan diri mereka dalam kelompok tersebut. Agaknya mereka termasuk kelompokl mustadh'afiin yakni kelompok tertindas yang tidak berdaya dan tidak mengetahui jalan. Bisa jadi mereka mendapat pengecualian berdasarkan firman-Nya:
إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ ۗ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الأرْضِ ۗ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا ۗ فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۗ وَسَاءَتْ مَصِيرًا  . إِلا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلا يَهْتَدُونَ سَبِيلا ۙ. فَأُولَئِكَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَفُوًّا غَفُورًا
INNAL-LADZIINA TAWAFFAA-HUMUL-MALAAA-IKATU ZHOOLIMIII ANFUSIHIM QOOLUU FIIMA KUNTUM, QOOLUU KUNNAA MUSTADH-'AFIINA FIL-ARDHI, QOOLUUU ALAM TAKUN ARDHULLOOHI WAASI-'ATAN FATUHAA-JIRUU FIIHAA, FA-ULAAA-IKA MA'WAAHUM JAHANNAMU, WASAAA-AT MASHIIRON. ILLAL-MUSTADH-'AFIINA MINAR-RIJAALI WAN-NISAAA-I WAL-WILDAANI LAA YASTA-THII-'UUNA ĤIILATAW-WALAA YAHTADUUNA SABIILAN = Sesungguhnya orang-orang yang dimatikan oleh Malaikat dalam keadaan menganiaya diri mereka sendiri, Mereka (para Malaikat) bertanya : "Dalam keadaan bagaimana kamu dahulu?". Mereka menjawab: "Kami orang-orang yang sangat lemah di bumi" Mereka (Malaikat) berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kamu dapat berhijrah di sana?".Maka, orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan ia adalah seburuk-buruk tempat tinggal. Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan. (QS an-Nisaa 4: 97-98). Untuk jelasnya rujuklah penafsiran ayat 72 surah al-Maa-idah ini yang telah dirilis beberapa waktu lalu.

Sementara orang bertanya mengapa ayat di atas ditutup dengan firman-Nya, Sesungguhnya Engkau Mahaperkasa lagi Mahabijaksana bukan Maha Pengampun lagi Maha Pengasih. Jawabannya antara lain adalah: jika penutup ayat yang mengabadikan ucapan 'Isa alaihis-salam itu adalah Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, ini menimbulkan kesan bahwa beliau memohonkan ampun kepada mereka yang mempersekutukan Allah itu, padahal itu terlarang sejak Nabi Ibrahim alaihis-salam (baca QS al-Mumtahanah 60:4). Allah juga telah menegaskan bahwa Dia tidak akan mengampuni siapa pun yang mempersekutukan-Nya sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
INNALLOOHA LAA YAGHFIRU AY-YUSYROKA BIHII WA-YAGHFIRU MAA DUUNA DZAALIKA LIMAY-YASYAAA-U,  WAMAY-YUSYRIK BILLAAHI FAQODIFTAROOO ITSMAN 'AZHIIMAN. = Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS an-Nisaa 4: 48). Namun demikian, beliau sadar akan kemahakuasaan Allah serta hak prerogatif-Nya, sekaligus mengisyaratkan secercah harapan dalam benak beliau. Karena itu, beliau menutup ucapannya dengan: Sesungguhnya Engkau Mahaperkasa lagi Mahabijaksana dalam arti, kalau Engkau menyiksa mereka, itu wajar dan tidak ada satu kekuatan yang dapat menghalangi-Nya, karena Engkau Mahaperkasa, sedang bila Engkau mengampuni mereka, tidak ada juga kritik atau kecaman terhadap-Mu karena Engkau Maha Bijaksana. Disisi lain, kalau penutup ucapan beliau menggambarkan kasih sayang dan pengampunan Ilahi, itu tidak sejalan dengan penyiksaan yang boleh jadi menimpa orang-orang durhaka itu.

Ayat ini juga berarti segala sesuatu kepada kehendak Allah semata yang berbuat sekehendak-Nya, tidak dapat dituntut atas segala perbuatan-Nya sedang semua makhluk akan dituntut. Juga mengandung arti berlepas tangan dari kepercayaan kaum Nasrani yang telah berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya. Mahasuci Allah dari semua tuduhan jahat yang dilontarkan oleh kaum Nasrani terhadap Allah Azza Wajalla.

Dengan keperkasaan-Mu, Engkau terkadang memberi siksa, dan dengan hikmah-Mu, Engkau terkadang mencurahkan rahmat. Engkau melakukan apa yang Engkau kehendaki, kepada orang yang Engkau kehendaki, sebagaimana yang Engkau kehendaki. Siksa-Mu adalah keadilan dan ampunan-Mu adalah karunia.

Abu Dzar radhiallahu 'anhu berkata: Pada suatu malam Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat dan membaca hanya satu ayat hingga subuh, diulang-ulanginya dalam rukuk dan sujud juga membacanya: "IN TU-'ADZ-DZIBBHUM FA-INNAHUM 'IBAADUKA, WA-IN TAGHFIR LAHUM FA-INNAKA ANTAL-'AZIIZUL-ḪAKIIM" (Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana). Dan pada pagi hari aku bertanya, "Ya Rasulullah, semalam suntuk engkau membaca seayat itu hingga pagi, bahkan dalam rukuk dan sujud juga". Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Aku meminta syafaat untuk ummatku, maka Tuhan memperkenankannya, dan pasti dicapai oleh yang tidak syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun insya Allah.) (HR Imam Ahmad).

Semoga bermanfaat, dan mudah2an kita selalu dalam lindungan dan bimbingan Allah Ta'ala, Aamiin Allahumma aamiin
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Al maiidah 117

BISMILLAAHIR-ROHMAANIR-ROHIIM.
ASSALAMU 'ALAIKUM WAROHMATULLOOHI WABAROKAATUH.
Al-Qur'anul-Kariim ini memperkenalkan dirinya sebagai hudan linnaas (petunjuk bagi seluruh ummat manusia), sekaligus menantang manusia dan jin untuk menyusun semacam al-Qur'an. Dari sini, kitab suci al-Qur'an berfungsi sebagai mukjizat, yakni bukti kebenaran dan sekaligus kebenaran itu sendiri. Memang ada beberapa orang yang telah mencoba membuat semacam al-Qur'an, tetapi itu tidak akan bertahan lama dan pasti akan didustakan dan dilupakan orang seiring dengan perkembangan zaman.

Selamat pagi anak2ku dan sahabat2ku pecinta al-Qur'an yang dirahmati Allah, Alhamdulillah senantiasa kita panjatkan syukur kehadhirat Allah yang mana kita masih diberikan kesehatan dan kesempatan untuk dapat bersama-sama bertadarus serta memahami isi kandungan al-Qur'an dengan baik dan benar.

TADARUS/KAJIAN KITA HARI INI MASIH DISEKITAR TENTANG NABI ISA ALAIHIS-SALAM.

QS AL-MAA-IDAH 5: 117.
أ عو ذ بالله من تاشيطان الرجيم
مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
MAA QULTU LAHUM ILLAA MAAA AMARTANII BIHIII ANI'BUDULLOOHA ROBBII WA ROBBAKUM, WA KUNTU 'ALAIHIM SYAHIIDAM-MAADUMTU FIIHIM, FALAMMAA TAWAFFAITANII KUNTA ANTAR-ROQIIBA 'ALAIHIM, WA ANTA 'ALAA KULLI SYAI-IN SYAHIIDUN. = Aku tidak (pernah) mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kamu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka, setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.

Translation In English: "Never said I to them aught except what Thou didst command me to say, to wit, ´worship Allah, my Lord and your Lord´; and I was a witness over them whilst I dwelt amongst them; when Thou didst take me up Thou wast the Watcher over them, and Thou art a witness to all things."

"MAA=tidak" (pernah) "QULTU=aku mengatakan" "LAHUM=kepada mereka" "ILLAA=melainkan" "MAAA=apa yang"  "AMARTANII=Engkau perintahkan kepadaku" "BIHIII=dengannya" "ANI'BUDULLOOHA=yaitu kalian sembahlah Allah" "ROBBII=Tuhanku" "WA ROBBAKUM=dan Tuhan kalian" huruf AN menafsirkan HA yang merujuk kepada perkataan yang diperintahkan, maknanya: Aku tidak mengatakan kepada mereka ketika di dunia, selain perkataan yang Engkau perintahkan aku untuk menyampaikannya. Perkataan tersebut adalah sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu, "WA KUNTU=dan aku menjadi"  'ALAIHIM=atas mereka" "SYAHIIDAN=saksi" sebagai pengawas yang mencegah mereka dari apa yang mereka katakan itu, "MAADUMTU=selama aku" (berada)  "FIIHIM=di antara mereka", "FALAMMAA=maka setelah" "TAWAFFAITANII=Engkau mewafatkan aku" Engkau telah mengambilku dengan cara mengangkatku ke langit, "KUNTA=Engkau menjadi" "ANTA=Engkaulah" "AR-ROQIIBA=pengawas" (penjaga)   'ALAIHIM=atas mereka" Yang memelihara amal perbuatan mereka dan mencatat amal perbuatan mereka serta Yang mengawasi sepak terjang mereka, "WA ANTA=dan Engkau"  'ALAA=atas" "KULLI=setiap" "SYAI-IN=sesuatu" termasuk perkataanku kepada mereka dan perkataan mereka sesudahku dan lain-lainnya, "SYAHIIDD=adalah saksi" Maha Waspada dan Maha Mengetahui tentang hal itu.

Setelah menafikan ucapan apa pun yang tidak wajar darinya, termasuk ucapan yang tidak wajar menyangkut penyembahan-penyembahan kepada Yang Maha Esa, 'Isa 'alaihis-salam melanjutkan keterangannya dengan menjelaskan apa yang beliau sampaikan kepada mereka, yaitu bahwa: Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka, apalagi menyuruh mereka, kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku untuk mengatakan-nya yaitu: "Sembahlah Allah, Yang Maha Esa dalam Zat, sifat, dan perbuatan-Nya. Dia adalah Tuhanku yang mendidik dan melimpahkan aneka anugerah kepadamu dan juga Tuhan kamu semua yang mendidik dan melimpahkan karunia-Nya kepada kamu."

Karena 'Isa a'alaihis-salam mengetahui juga bahwa sebagian ummatnya telah mempersekutukan Allah dan melampaui batas dalam kepercayaan mereka terhadap dirinya, beliau lebih lanjut menegaskan bahwa dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, yakni bersungguh-sungguh memberi keteladanan yang dapat mereka saksikan dalam sikap dan perilaku yang aku tampilkan serta selalu berusaha meluruskan kesalahpahaman dan kekeliruan mereka selama aku berada yakni hidup di antara mereka. Maka, setelah Engkau wafatkan aku sehingga aku tidak lagi berada di tengah-tengah mereka, maka Engkau-lah yang mengawasi mereka, bahkan melarang mereka mempertuhan siapa pun selain Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan jalan memaparkan aneka bukti keesaan-Mu, dan mengutus Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu sehingga tidak ada sekecil apa pun yang luput dari pengetahuan-Mu.

Ucapan 'Isa 'alaihis-salam bahwa "Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku" merupakan penjelasan dengan redaksi yang mengandung penafian ucapan apa pun selain yang beliau ucapkan. Dengan demikian, beliau membantah pula kepercayaan sementara ummatnya yang menyatakan bahwa beliau yang mengajarkan Trinitas.

Para ulama berbeda pendapat tentang arti (تَوَفَّيْتَنِي) TAWAFFAITANII=Engkau wafatkan aku.

Nabi 'Isa 'alaihis salam berlepas tangan dari mereka sesudah ia wafat. Lahir nash al-Qur'an ini menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mewafatkan Isa putra Maryam lalu mengangkatnya kepada-Nya, dan sebagian atsar mengatakan bahwa ia hidup di sisi Allah. Disana—menurut sebagian besar ulama—tidak ada pertentangan atau kemusykilan antara Allah telah mewafatkannya dari kehidupan dunia, dan keberadaannya hidup di sisi Allah. Karena orang-orang yang mati syahid itu juga telah meninggal dunia, tetapi mereka hidup di sisi Allah sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
وَلا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لا تَشْعُرُونَ
"WALAA TAQUULUU LIMAY-YUQQTALU FII-SABIILILLAHI AMWAATUN, BAL AHYAAA-UN WALAAKIL-LAA TASY'URUUNA. = Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya." (QS Al-Baqarah 2: 154).

Adapun bagaimana bentuk kehidupannya di sisi Allah, maka kita tidak mengetahui caranya. Demikian pula dengan bentuk kehidupan Nabi 'Isa 'alaihis-salam yang dalam ayat ini berkata kepada Tuhannya, "dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka, setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.

Kata (الرّقيب) AR-ROQIIB yang akar katanya terdiri dari huruf-huruf (ر) RO' (ق) QOOF, dan (ب) BA' makna dasarnya adalah tampil tegak lurus untuk memelihara sesuatu. Pengawas adalah ROQIIB karena dia tampil memperhatikan dan mengawasi untuk memelihara yang diawasi.

Allah yang bersifat Roqiib, yakni Dia yang mengawasi, atau yang menyaksikan, atau mengamati makhluk-Nya dari saat ke saat. Demikian tiga makna yang dikemukakan al-Qurthubi. Allah Raqiib terhadap segala sesuatu. Dia mengawasi, menyaksikan, dan mengamati dengan pandangan-Nya segala yang didengar dengan pendengaran-Nya serta segala yang wujud dengan ilmu-Nya.

Imam al-Ghazali mengartikan Roqiib sebagai Yang Maha Mengetahui lagi Maha Memelihara. Tulisnya, "Siapa yang memelihara sesuatu dan tidak lengah terhadapnya, memperhatikannya dengan perhatian yang bersinambung, menjadikan yang disaksikan bila dilarang melakukan sesuatu tidak akan melakukannya, maka siapa yang demikian halnya dinamai Roqiib. Karena itu, sifat ini berkaitan erat dengan ilmu serta pemeliharaan, tetapi dari sisi dimana bahwa hal tersebut terlaksana secara bersinambung."

Perlu ditambahkan bahwa pengawasan ini, bukan bertujuan mencari kesalahan atau menjerumuskan yang diawasi, tetapi justru sebaliknya.

Ayat-ayat al-Qur'an yang menampilkan sifat Allah ini memberi kesan pengawasan yang mengandung makna pemeliharaan, demi kebaikan yang diawasi, sejalan dengan makna kebahasaan yang dikemukakan di atas.

Ayat al-Maa-idah ini menyifati Allah dengan sifat Roqiib, mengesankan bahwa sifat Allah ini mengandung makna pemeliharaan dan pengampunan.

Semoga bermanfaat dan selamat beraktivitas...
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Dahsyatnya Sedekah

Dahsyatnya Sedekah

Bersedekahlah kamu karena sedekah itu sebagai penebusmu dari api neraka (H.R Thabrani).

Bersedekahlah kalian, jangan (terlalu) lama disimpan dan ditahan. Sebab jika demikian, Allah SWT akan menahan (karunia-NYA) untukmu (HR Bukhari)

Yuk Jadi Pecandu Dadah ( DAhsyatnya seDekAh Hariah )

Salam Hijrah, UniQ
Powered by Telkomsel BlackBerry®