Laman

Rabu, 05 Desember 2012

DOA ENTREPRENEUR YG BANGKRUT MEMOHON CASH FLOW LANGIT


DOA ENTREPENEUR YG BANGKRUT
MEMOHON CASH FLOW LANGIT !

Pernahkah saudara mendengar sebuah hadist bagaimana cara melantunkan sebuah doa versi tiga orang yang terkurung dalam sebuah gua, saya ingin ceritakan kembali versi singkatnya.

Rasulullah pernah mengabarkan mengenai kisah tiga orang yang terjebak dalam gua, mereka semua berada dalam keputusasaan hingga salah seorang dari mereka berkata, "Sungguh tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian dalam bahaya ini, kecuali bila kalian berdoa kepada Allah swt dengan menyebut amal-amal saleh yang pernah kalian perbuat. Kemudian salah seorang berdoa dengan menyebutkan amalan utamanya berupa memuliakan orang tuanya dibanding keperluan anak-anaknya sendiri, kemudian setelah dia uraikan amalannya dia berkata, "Ya Allah, jika aku berbuat itu karena mengharapkan ridha-Mu, maka geserkanlah batu yang menutupi gua ini", maka bergeserlah sedikit batu itu, tetapi mereka belum bisa juga keluar. Kemudian orang kedua pun melanjutkan doanya yang berkaitan dengan amalan utamanya berupa menghindari diri dari perbuatan zina karena takut kepada Allah, dan dia berdoa, "Ya Allah jika aku berbuat itu karena mengharapkan ridha-Mu, maka geserkanlah batu yang menutupi gua ini", maka bergeserlah sedikit batu itu. Tapi mereka belum juga bisa keluar, maka orang ketiga pun melanjutkan doanya mengenai amalan utamanya berupa menjaga amanat harta orang lain yang dikelolanya, dan dia berdoa, "Ya Allah jika aku berbuat itu karena mengharapkan ridha-Mu, maka geserkanlah batu yang menutupi gua ini", maka bergeserlah sedikit batu itu, dan mereka pun bisa keluar dari gua itu. (HR Bukhari dan Muslim).

Dan pernahkah juga saudara mendengar ataupun membaca bagaimana Rasulullah melantunkan doa di kala sangat kritis sewaktu berkecamuknya perang Badar? Saya akan coba menguraikan kembali kisahnya secara singkat.

Kala itu setelah meluruskan barisan pasukan kaum muslimin, Rasulullah kembali ke tendanya dengan ditemani oleh Abu Bakar, dan tidak ada seorang pun kecuali keduanya. Lalu Rasulullah bermunajat kepada Rabb-Nya, dengan seluruh jiwanya ia menghadapkan diri kepada Tuhan-Nya, begitu dalam ia hanyut dalam doa.

Dalam permohonannya ia berkata, "Allahumma Ya Allah, ini bangsa quraisy sekarang datang dengan segala kecongkakannya, berusaha untuk mendustakan rasul-Mu. Ya Allah, berilah pertolongan-Mu yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau membinasakan kaum kami pada hari ini, tiada lagi yang akan menyembah-Mu."

Sementara ia hanyut dalam doa sambil merentangkan tangan menghadap kiblat, mantelnya terjatuh. Ketika itu Abu Bakar menyaksikannya lalu meletakkan mantel itu kembali ke bahu Rasulullah, sambil ia berkata, "Wahai Nabi Allah, dengan doamu itu, sesungguhnya Allah pasti memenuhi janji-Nya kepadamu."

Tetapi sungguh pun begitu, Muhammad semakin dalam terbawa dalam aliran doa, dengan penuh ke-tawadhu-an dan kesungguhan hati ia terus memanjatkan doa, memohonkan pertolongan Tuhan-Nya dalam menghadapi peristiwa yang genting, yang oleh kaum muslimin sama sekali tidak diharapkan, dan untuk pertempuran itu pula mereka tidak memiliki persiapan.

Hingga karena letihnya dalam berdoa membuat Rasul tertidur, beberapa saat kemudian beliau terbangun dengan rasa gembira, dan bersabda, "Bergembiralah hai Abu Bakar, sungguh pertolongan Allah telah datang kepadamu. Inilah jibril sedang memegang kendali kuda. Ia menuntun kuda tersebut, dan gigi di depannya terdapat kematian."

Kemudian ia keluar menemui sahabat-sahabatnya, dikerahkannya semangat sambil berkata:

"Demi Dia yang memegang jiwa Muhammad, setiap orang yang sekarang bertempur dengan tabah, bertahan mati-matian, terus maju dan pantang mundur, lalu ia tewas, maka Allah akan menempatkannya di surga."

Beberapa waktu lalu saya bertemu rekan lama, dia seorang pengusaha, kulihat sekarang kondisinya lumayan lah, mungkin bisnis yang dikelolanya cukup berhasil.

"Alhamdulillah", gumamku.

Saya ingat beberapa tahun silam dia pernah mengalami suatu ujian yang berat atas perusahaan yang dikelolanya, saat itu sering beliau mencurahkan isi hatinya kepadaku dan menceritakan beratnya ujian yang dialaminya, setelah setumpuk ikhtiar dilakukan, bisnisnya tak kunjung mendapatkan tanda-tanda akan selamat dari kebangkrutan, dan bukan saja bangkrut, bahkan akan terjerat hutang usaha yang sangat besar, dia katakan sekitar puluhan milyar siap untuk menjerat lehernya.

Bukan saja sisi nominal yang membuatnya sesak, tak kalah beratnya yang menjadi beban adalah tanggungan puluhan karyawan yang berada di perusahaannya, intinya menurut beliau pada saat itu adalah masa yang sangat mengguncang jiwanya, makan tak enak, tidur tak lelap, dan segala yang tak enak lainnya menghampiri beliau.

Yang kutahu, di sisi yang lain usaha beliau bukan saja terkait pada sektor bisnis, tetapi beliau juga aktif dalam melakukan pembinaan usaha berupa pesantren di suatu desa terpencil, pesantren tersebut tumbuh secara sehat, santrinya sekitar lima ratusan, tetapi jenis usahanya adalah nirlaba, atau tidak dikenakan biaya apa pun terhadap santri yang sekolah di pesantren tersebut.

"Usaha pesantren ini untuk cash flow langit", begitu ujarnya setiap kali saya tanyakan kenapa dia serius sekali mengelola usaha nirlaba ini.

Saya menjadi penasaran dan tercetus keingintahuan bagaimana caranya dia menyelesaikan masalah usahanya pada tahun-tahun silam. Karena saya melihat kondisi saat ini jauh berubah, lebih sukses bila dibandingkan pada saat itu.

Beberapa kali kupancing serentetan pertanyaan dari ketidaksabaranku, barulah ia bersedia untuk menceritakan kisahnya ...

Ya kawan karibku, tiada satu kekuatan yang dapat membantuku saat itu kecuali kekuatan Allah, tiada yang maha pengasih kecuali Allah pula, Dialah yang memberikan jawaban dan jalan keluar kepadaku.
Kami ini makhluk yang sangat lemah dan hina, dan Dia lah Maha Kuat dan Maha Kaya. Tiadalah kejadian itu terjadi kecuali menambah kualitas keimanan kami, kami merasakan kasih sayang dan cinta-Nya.

Engkaupun tahu masalah yang kami hadapi saat itu, penuh dengan kesukaran, hati terasa sempit, kami ditinggalkan pula oleh kawan-kawan, tiada pihak yang ingin meringankan masalah kami saat itu, semua pihak menekan, menekan dan menekan setiap waktu.

Pada saat usaha kami jatuh, tiada akal lagi untuk mencari apa peluang pengganti usaha kami ini agar bisa melunasi hutang usaha yang berjumlah milyaran itu, sama sekali tidak ada ide, tertutup. Walaupun demikian kami tetap melakukan berbagai ikhtiar mencari solusinya, hingga sampai pada suatu waktu kami pasrah terhadap apapun keputusan-Nya.

Sering kali kami lantunkan doa untuk diberikan jalan keluar atau yang terbaik bagi kami, bahkan ribuan kali kami berdoa, bukan saja di saat sholat, bahkan dalam perjalanan pun tak lupa kami berdoa kepadanya, intinya lidah dan bibir kami basah dengan doa dan pujian.

Hari demi hari, minggu demi minggu, dan sekian bulan berlalu dalam kondisi tak menentu. Lalu sampailah pada satu saat aku berdoa di malam hari di tengah semua orang tertidur lelap, bersimpuh dan berdoa kepada-Nya, aku hanya ingat beberapa hadist dan kisah Kekasihku dalam melantunkan doa-doanya. Kemudian dia bercerita mengenai dua kisah di atas.

Aku coba ikuti cara Kekasihku, Muhammad, dalam berdoa pada saat-saat yang genting, dan kusesuaikan redaksi doanya dengan kondisiku.

"Ya Allah, Engkau Maha Tahu kondisi kami ini, kami sedang dibebani masalah, dan Engkau tahu pula bahwa dari hasil usaha yang kami upayakan kami kelola pula sebuah usaha pesantren, Engkau tahu kami tidak memungut biaya apapun pada mereka."

Jika memang amal ibadah tersebut kami lakukan hanya untuk meraih keridhoan-Mu, mohon Ya Allah berilah jalan keluar untuk kami.

Ya Allah, kami khawatir jika engkau tidak membantu hamba-Mu ini, kami khawatir keberlangsungan pesantren kami terhenti, akan ke mana perginya santri-santri tersebut.

Ya Allah, aku sayang mereka, kami iba dengan wajah mereka, curahkan kasih sayang-Mu pada mereka, dengan menolong usaha kami Ya Allah.

Engkaulah yang Maha Mengetahui hati hati kami, ikhlaskanlah hati kami, dan lapangkan hati kami apapun yang engkau putuskan, dan kami yakin apapun keputusan-Mu adalah yang terbaik bagi kami.

Tak kusangka doanya tersebut membuat jiwaku bergetar dan tak kuasa emosiku terlibat, nyaris kupeluk sahabatku itu, luar biasa makna dari doa tersebut.

Kemudian dia lanjutkan kembali, "Setelah kulantunkan doa tersebut, tak kusangka dalam waktu yang sangat singkat kasih sayang-Nya telah membuka sebuah jalan keluar yang tidak terduga, ibarat pintu gua yang tidak mungkin terbuka dalam kisah yang kuceritakan itu dengan izin-Nya menjadi terbuka".

Sambil menahan emosi, ia melanjutkan, "Tiba-tiba seorang relasi kami menawarkan suatu bisnis yang terbilang besar yang tidak pernah tersentuh oleh perusahaanku, bahkan bisnis tersebut di luar kapasitas secara materi maupun keahlian yang kami punya. Kala itu kami pikir bahwa peluang bisnis tersebut pastilah sudah diatur pemenangnya, paling-paling kalau ikut partisipasi juga, ya paling tidak hanyalah mengarak pemenangnya saja.

Saat itu, benar-benar aku tidak tertarik untuk memprosesnya. Kudiamkan saja.
Tapi peluang itu datang lagi, datang lagi dan hadir kembali. Karena sering kali peluang yang sama itu selalu hadir, kucoba beranikan diri untuk memprosesnya.

Apa yang terjadi selanjutnya sungguh ku tak pernah menduganya. Kami mendapati ribuan kemudahan, kami memperoleh proyek tersebut dengan mudah, karena hanya perusahaan kami yang mengajukan proposal tender tersebut dan tidak ada pesaing sama sekali!

Ke mana para competitor yang besar? Ke mana mereka semuanya? Muncul keanehanku saat itu.

Bila Dia memutuskan sesuatu, tidak ada pihak pun yang akan mampu menghambat-Nya! Ini semuanya kemudahan dari-Nya, Dia permudah seluruh proses tersebut. Dan dalam jangka waktu yang singkat kami mendapati keuntungan tiga kali dari jumlah hutang kami! Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Begitulah dia menceritakannya dengan penuh keharuan.

Selanjutnya kutahu, temanku itu menjadi orang yang selalu bersyukur dan dia yakin sekali bahwa pesantren tersebut telah menjadi amal andalan yang telah menjadi perantara doanya.

Kabar terakhir yang kuterima, pesantren tersebut menjadi semakin besar dan megah walaupun para santrinya tidak pernah terbebani oleh biaya apapun.

Nah, bagi para enterpreneur, tidak selamanya masa-masa menyenangkan hadir dari kehidupan seorang pengusaha, adakalanya masalah yang banyak terjadi justru sebuah ujian yang tidaklah ringan. Keberhasilan itu hadir setelah melewati masa masa sulit. Bukankah layangan akan terbang tinggi bilamana ada angin yang menerpanya?

Atau mungkin, bagi seorang pengusaha, janganlah berpikir hanya mengembangkan usaha untuk meraih keuntungan materi saja, tetapi cobalah mulai dipikirkan sebuah usaha alternatif yang bermanfaat buat orang banyak, yang akan dijadikan cash flow langitnya. Bisa saja usaha-usaha tersebut akan dan telah menjadi amalan andalan, yang bilamana kita terhimpit suatu masalah ataupun ujian yang berat, bisa dijadikan perantara atau tawasul untuk permohonan doa kita kepada Allah.

Terakhir, selamat berdoa. Allah Maha Mendengar rintihan hamba-hamba-Nya.

Senin, 03 Desember 2012

Adakah Seruan "Kembali Kepada Al-Qur'an Dan Al-Sunnah" Bererti Meninggalkan Ajaran Para Imam Mazhab ?


Adakah Seruan "Kembali Kepada Al-Qur'an Dan Al-Sunnah" Bererti Meninggalkan Ajaran Para Imam Mazhab ?
Mutakhir ini kita sering kali mendengar seruan: “Kembalilah kepada al-Qur’an dan al-Sunnah” atau “Pegangan kita hanyalah al-Qur’an dan al-Sunnah”. Adakah dengan seruan ini bererti meninggalkan ajaran para imam mazhab ?
Jawapannya tidak. Kesemua ajaran para imam mazhab adalah berdasarkan al-Qur’an dan al-Sunnah. Begitu juga dengan pengeluaran hukum berdasarkan kaedah ijma’ dan qiyas, ia tetap berasal daripada al-Qur’an dan al-Sunnah.
Maksud sebenar seruan “Kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah” ialah meninggalkan ajaran seseorang imam mazhab jika ia secara pasti didapati tidak tepat berbanding dengan dalil-dalil al-Qur’an dan al-Sunnah yang sahih. Ajaran yang ditinggalkan itu juga hanya berkaitan dengan perkara yang tidak tepat sahaja dan bukannya keseluruhan ajaran imam mazhab tersebut.
Berikut dikemukakan satu contoh.
al-Syafi‘e berpendapat membasuh muka ketika berwudhu’ adalah wajib manakala berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung adalah sunat. Ini kerana ayat yang memerintah wudhu’ hanya menyebut “membasuh muka” tanpa menyebut berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung.[1] Ayat yang dimaksudkan ialah:
Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan solat maka basuhlah muka kamu, dan kedua belah tangah kamu hingga ke siku dan sapulah sebahagian dari kepala kamu dan basuhlah kedua belah kaki kamu hingga ke buku lali. [al-Maidah 5:06].
Berkata al-Syafi‘e rahimahullah berkenaan ayat di atas:
Aku tidak mengetahui bahawa berkumur-kumur air di mulut dan memasukkan air ke hidung atas orang yang berwudhu itu adalah fardhu (wajib). Dan aku tidak mengetahui ada perselisihan bahawa orang yang berwudhu jika meninggalkan kedua yang tadi dengan sengaja atau lupa dan mengerjakan solat, bahawa tidak dihitung (tidak dikira sah) solatnya.[2]
Akan tetapi para mujtahid selepas al-Syafi‘e berpendapat berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung adalah wajib hukumnya. Ini kerana mulut dan hidung termasuk bahagian muka. Lebih dari itu jika dikaji sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam berwudhu’, beliau sentiasa berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidungnya. Perbuatan baginda ini memperincikan keumuman maksud “muka” di dalam ayat ke 6 surah al-Maidah di atas.
al-Syaukani rahimahullah menerangkan:
Saya berkata, pendapat yang mengatakan ia (berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung) adalah wajib merupakan pendapat yang benar. Ini kerana Allah Subhanahu telah memerintahkan di dalam kitabnya yang agung (al-Qur’an) untuk membasuh muka manakala berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung termasuk bahagian muka. Dan sungguh telah jelas bahawa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam secara berterusan melakukan yang sedemikian di dalam setiap wudhu’nya dan ini diriwayatkan oleh semua perawi yang menjelaskan sifat wudhu’ baginda shallallahu 'alaihi wasallam. Maka ini menerangkan bahawa termasuk bersama perintah al-Qur’an untuk membasuh muka ialah berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung.[3]
Antara hadis-hadis yang dimaksudkan ialah:
Pertama:
Daripada Abu Hurairah radhiallahu ‘anh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Apabila salah seorang antara kamu berwudhu’, maka hendaklah dia memasukkan air ke dalam hidungnya kemudian menghembuskannya keluar. [4]
Kedua:
‘Ali (bin Abi Talib radhiallahu ‘anh), bahawasanya dia meminta air wudhu’, kemudian dia berkumur-kumur dan menghisap air ke hidung lalu menghembuskan air itu keluar dengan tangan kirinya, dia berbuat demikian tiga kali. Kemudian dia berkata: “Inilah cara berwudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” [5]
Ketiga:
‘Utsman ibn ‘Affan radhiallahu ‘anh, pernah meminta bekas air lalu dia menuangkannya ke atas dua tapak tangannya tiga kali kemudian membasuhnya; kemudian memasukkan tangan kanannya dalam bekas air lalu dia berkumur dan menghisap air ke dalam hidung……… Apabila selesai Uthman berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Sesiapa berwudhu’ seperti ini – dan wudhu’nya ialah seperti ini…”[6]
Keempat:
Abu Hurairah radhiallahu ‘anh berkata:
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kami berkumur-kumur dan menghisap air ke dalam hidung.[7]
Oleh itu pendapat yang lebih tepat ialah wajib hukumnya berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung ketika berwudhu’.[8]
Demikian satu contoh meninggalkan ajaran seorang imam mazhab jika ia secara pasti didapati tidak tepat berbanding dengan dalil-dalil al-Qur’an dan al-Sunnah yang sahih. Sekali lagi diulangi bahawa yang ditinggalkan hanya ajaran berkaitan dengan perkara yang tidak tepat sahaja dan bukan meninggalkan keseluruhan ajaran imam mazhab tersebut.

[1] Wahbah al-Zuhaili - Fiqh dan Perundangan Islam, jld. 1, ms. 222-223.
[2] al-Umm (edisi terjemahan oleh Ismail Yaakub; Victorie Agencie, K.Lumpur 1989), jld. 1, ms. 69.
[3] Sebahagian daripada kata-kata al-Syaukani di dalam al-Sail al-Jarrar (ed: M. Ibrahim Zayid; Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut 1405H), jld. 1, ms. 81.
[4] Sahih: Hadis riwayat Malik, Ahmad, al-Bukhari, Muslim, Abu Daud dan al-Nasa’i, lihat Shahih Muslim – no: 237 (Kitab Thaharah, Bab menghirup air ke dalam hidung).
[5] Sanad Sahih: Hadis riwayat al-Nasa’i, sanadnya dinilai sahih oleh al-Albani di dalam Shahih Sunan al-Nasa’i – no: 091 (Kitab Thaharah, Bab tangan yang mana untuk menghirup air ke dalam hidung).
al-Imam al-Nasa’i berasal dari Nasa, Parsi. Nama penuhnya ialah ‘Abd al-Rahman Ahmad bin Syu‘aib, lahir pada 215H/830M. Minat beliau kepada ilmu hadis bermula sejak kecil dan beliau telah merantau ke banyak wilayah Islam untuk meriwayatkan hadis. al-Nasai meninggal dunia di Damsyik, Syria pada 303H/915M.
[6] Sahih: Hadis riwayat Ahmad, al-Bukhari, Muslim Abu Daud dan al-Nasa’i, lihat Shahih al-Bukhari – no:160 (Kitab Wudhu’, Bab berwudhu; tiga kali-tiga kali).
[7] Hadis riwayat al-Daruquthni dan al-Baihaqi di dalam al-Sunan al-Kubra. Di dalam sanadnya terdapat perbincangan. Lebih lanjut lihat penerangan ‘Adil Ahmad dan ‘Ali Muhammad di dalam penelitian mereka (tahqiq) ke atas kitab Sunan al-Daruquthni, jld. 1, ms. 288-289.
Syaikh ‘Adil Ahmad bin ‘Abd al-Maujud dan Syaikh ‘Ali Muhammad bin Mu‘awwad ialah dua orang peneliti (muhaqqiq) yang terkenal di mana kini. Mereka telah membukukan belasan buah kitab daripada edisi manuskrip yang asal kemudian diberi pelbagai catitan tambahan yang bermanfaat. Sebelum ini usaha mereka banyak ditumpukan kepada kitab fiqh dan kini mereka menceburi bidang hadis pula. Semoga Allah memberikan mereka kekuatan yang berterusan untuk berkhidmat kepada ilmu-ilmu Islam.
[8] al-Syaukani – Nail al-Authar (edisi terjemahan oleh Hadimulyo & Kathur Suhardi; CV Asy Shifa’ , Semarang 1994), jld. 1, ms. 306-312; Muhammad bin Ismail al-Shan‘ani – Subul al-Salam, jld. 1, ms. 106 dan Hasbi al-Shiddieqie - Koleksi Hadis-hadis Hukum (Yayasan TM Hasbi Ash Shiddieqie, Jakarta 1993), jld. 1, ms. 233-238.

WANITA PENGHUNI NERAKA


Wanita Penghuni Neraka


Saudariku Muslimah ... .

Suatu hal yang pasti bahwa surga dan neraka adalah dua makhluk yang Allah
Subhanahu wa Ta'ala ciptakan. Surga diciptakan-Nya sebagai tempat tinggal
yang abadi bagi kaum Mukminin dan neraka sebagai tempat tinggal bagi kaum
musyrikin dan pelaku dosa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala telah melarang
darinya.

Setiap Muslimin yang mengerti keadaan Surga dan neraka tentunya sangat
berharap untuk dapat menjadi penghuni Surga dan terhindar jauh dari neraka,
inilah fitrah.

Pada Kajian kali ini, kami akan membahas tentang neraka dan penduduknya,
yang mana mayoritas penduduknya adalah wanita dikarenakan sebab-sebab yang
akan dibahas nanti.

Sebelum kita mengenal wanita-wanita penghuni neraka alangkah baiknya jika
kita menoleh kepada peringatan-peringatan Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam
Al Qur'an tentang neraka dan adzab yang tersedia di dalamnya dan perintah
untuk menjaga diri daripadanya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

"Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya
malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah
terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa
yang diperintahkan." (At Tahrim : 6)

Imam Ath Thabari rahimahullah menyatakan di dalam tafsirnya : "Ajarkanlah
kepada keluargamu amalan ketaatan yang dapat menjaga diri mereka dari
neraka."

 Ibnu Abbas radliyallahu 'anhu juga mengomentari ayat ini : "Beramallah
kalian dengan ketaatan kepada Allah, takutlah kalian untuk bermaksiat
kepada-Nya dan perintahkan keluarga kalian untuk berdzikir, niscaya Allah
menyelamatkan kalian dari neraka." Dan masih banyak tafsir para shahabat dan
ulama lainnya yang menganjurkan kita untuk menjaga diri dan keluarga dari
neraka dengan mengerjakan amalan shalih dan menjauhi maksiat kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala.

 Di dalam surat lainnya Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :"Peliharalah
dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi
orang-orang kafir." (Al Baqarah : 24)

Begitu pula dengan ayat-ayat lainnya yang juga menjelaskan keadaan neraka
dan perintah untuk menjaga diri daripadanya.

Kedahsyatan dan kengerian neraka juga dinyatakan Rasulullah Shalallahu
'alaihi wassalam di dalam hadits yang shahih dari Abu Hurairah radliyallahu
'anhu bahwasanya beliau bersabda : "Api kalian yang dinyalakan oleh anak
cucu Adam ini hanyalah satu bagian dari 70 bagian neraka Jahanam." (Shahihul
Jami' 6618)

Jikalau api dunia saja dapat menghanguskan tubuh kita, bagaimana dengan api
neraka yang panasnya 69 kali lipat dibanding panas api dunia? Semoga Allah
Subhanahu wa Ta'ala menyelamatkan kita dari neraka. Amin.

Wanita Penghuni Neraka

Tentang hal ini, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda :"Aku
melihat ke dalam Surga maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah fuqara (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah wanita." (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas dan Imran serta selain keduanya)

Hadits ini menjelaskan kepada kita apa yang disaksikan oleh Rasulullah
Shalallahu 'alaihi wassalam tentang penduduk Surga yang mayoritasnya adalah fuqara (para fakir miskin) dan neraka yang mayoritas penduduknya adalah wanita. Tetapi hadits ini tidak menjelaskan sebab-sebab yang mengantarkan mereka ke dalam neraka dan menjadi mayoritas penduduknya, namun disebutkan
dalam hadits lainnya.

Di dalam kisah gerhana matahari yang Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam
dan para shahabatnya melakukan shalat gerhana padanya dengan shalat yang panjang , beliau Shalallahu 'alaihi wassalam melihat Surga dan neraka.

Ketika beliau melihat neraka beliau bersabda kepada para shahabatnya
radliyallahu 'anhum : " ... dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita. Shahabat pun bertanya : "Mengapa (demikian) wahai Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam?" Beliau Shalallahu 'alaihi wassalam menjawab : "Karena kekufuran mereka." Kemudian ditanya lagi :
"Apakah mereka kufur kepada Allah?" Beliau menjawab : "Mereka kufur terhadap
suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata : 'Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.' " (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma)

Dalam hadits lainnya, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam menjelaskan
tentang wanita penduduk neraka, beliau bersabda :" ... dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya mereka telanjang, melenggak-lenggokkan kepala mereka karena sombong dan berpaling dari ketaatan kepada Allah dan suaminya, kepala mereka seakan-akan seperti punuk onta. Mereka tidak masuk
Surga dan tidak mendapatkan wanginya Surga padahal wanginya bisa didapati
dari jarak perjalanan sekian dan sekian." (HR. Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu)

Dari Imran bin Husain dia berkata, Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda
: "Sesungguhnya penduduk surga yang paling sedikit adalah wanita." (HR. Muslim dan Ahmad)

Imam Qurthubi rahimahullah mengomentari hadits di atas dengan pernyataannya
: "Penyebab sedikitnya kaum wanita yang masuk Surga adalah hawa nafsu yang mendominasi pada diri mereka, kecondongan mereka kepada kesenangan-kesenangan dunia, dan berpaling dari akhirat karena kurangnya akal mereka dan mudahnya mereka untuk tertipu dengan kesenangan-kesenangan dunia yang menyebabkan mereka lemah untuk beramal.

Kemudian mereka juga sebab yang paling kuat untuk memalingkan kaum pria dari
akhirat dikarenakan adanya hawa nafsu dalam diri mereka, kebanyakan dari mereka memalingkan diri-diri mereka dan selain mereka dari akhirat, cepat tertipu jika diajak kepada  penyelewengan terhadap agama dan sulit menerima
jika diajak kepada akhirat." (Jahannam Ahwaluha wa Ahluha halaman 29-30 dan
At Tadzkirah halaman 369)

Saudariku Muslimah ... .

 Jika kita melihat keterangan dan hadits di atas dengan seksama, niscaya
kita akan dapati beberapa sebab yang menjerumuskan kaum wanita ke dalam neraka bahkan menjadi mayoritas penduduknya dan yang menyebabkan mereka menjadi golongan minoritas dari penghuni Surga. Saudariku Muslimah ... . Hindarilah sebab-sebab ini semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menyelamatkan kita dari neraka. Amin.

1. Kufur Terhadap Suami dan Kebaikan-Kebaikannya

Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam menjelaskan hal ini pada sabda beliau
di atas tadi. Kekufuran model ini terlalu banyak kita dapati di tengah keluarga kaum Muslimin, yakni seorang istri yagn mengingkari kebaikan-kebaikan suaminya selama sekian waktu yang panjang hanya dengan sikap suami yang tidak cocok dengan kehendak sang istri sebagaimana kata pepatah, panas setahun dihapus oleh hujan sehari.

Padahal yang harus dilakukan oleh seorang istri ialah bersyukur terhadap apa
yang diberikan suaminya, janganlah ia mengkufuri kebaikan-kebaikan sang suami karena Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak akan melihat istri model begini sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam : "Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada suaminya
dan tidak merasa cukup dengannya." (HR. Nasa'i di dalam Al Kubra dari
Abdullah bin 'Amr. Lihat Al Insyirah fi Adabin Nikah halaman 76)
Hadits di atas adalah peringatan keras bagi para wanita Mukminah yang
menginginkan ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Surga-Nya. Maka tidak sepantasnya bagi wanita yang mengharapkan akhirat untuk mengkufuri kebaikan-kebaikan suaminya dan nikmat-nikmat yang diberikannya atau meminta dan banyak mengadukan hal-hal sepele yang tidak pantas untuk dibesar-besarkan.

Jika demikian keadaannya maka sungguh sangat cocok sekali jika wanita yang
kufur terhadap suaminya serta kebaikan-kebaikannya dikatakan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam sebagai mayoritas kaum yang masuk ke dalam neraka walaupun mereka tidak kekal di dalamnya.

Cukup kiranya istri-istri Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam dan para
shahabiyah sebagai suri tauladan bagi istri-istri kaum Mukminin dalam mensyukuri kebaikan-kebaikan yang diberikan suaminya kepadanya.

2. Durhaka Terhadap Suami

Kedurhakaan yang dilakukan seorang istri terhadap suaminya pada umumnya
berupa tiga bentuk kedurhakaan yang sering kita jumpai pada kehidupan masyarakat kaum Muslimin. Tiga bentuk kedurhakaan itu adalah :

1. Durhaka dengan ucapan.
2. Durhaka dengan perbuatan.
3. Durhaka dengan ucapan dan perbuatan.

Bentuk pertama ialah seorang istri yang biasanya berucap dan bersikap baik
kepada suaminya serta segera memenuhi panggilannya, tiba-tiba berubah sikap dengan berbicara kasar dan tidak segera memenuhi panggilan suaminya. Atau ia memenuhinya tetapi dengan wajah yang menunjukkan rasa tidak senang atau
lambat mendatangi suaminya. Kedurhakaan seperti ini sering dilakukan seorang
istri ketika ia lupa atau memang sengaja melupakan ancaman-ancaman Allah terhadap sikap ini.

Termasuk bentuk kedurhakaan ini ialah apabila seorang istri membicarakan
perbuatan suami yang tidak ia sukai kepada teman-teman atau keluarganya tanpa sebab yang diperbolehkan syar'i. Atau ia menuduh suaminya dengan tuduhan-tuduhan dengan maksud untuk menjelekkannya dan merusak kehormatannya sehingga nama suaminya jelek di mata orang lain. Bentuk serupa adalah
apabila seorang istri meminta di thalaq atau di khulu' (dicerai) tanpa sebab
syar'i. Atau ia mengaku-aku telah dianiaya atau didhalimi suaminya atau yang semisal dengan itu.

Permintaan cerai biasanya diawali dengan pertengkaran antara suami dan istri
karena ketidakpuasan sang istri terhadap kebaikan dan usaha sang suami. Atauyang lebih menyedihkan lagi bila hal itu dilakukannya karena suaminya berusaha mengamalkan syari'at-syari'at Allah Subhanahu wa Ta'ala dan sunnah-sunnah Rasul-Nya Shalallahu 'alaihi wassalam. Sungguh jelek apa yang
dilakukan istri seperti ini terhadap suaminya. Ingatlah sabda Rasulullah
Shalallahu 'alaihi wassalam :"Wanita mana saja yang meminta cerai pada
suaminya tanpa sebab (yang syar'i, pent.) maka haram baginya wangi Surga." (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi serta selain keduanya. Lihat Al Insyirah fi
Adabin Nikah halaman 85)

Bentuk kedurhakaan kedua yang dilakukan para istri terjadi dalam hal
perbuatan yaitu ketika seorang istri tidak mau melayani kebutuhan seksual suaminya atau bermuka masam ketika melayaninya atau menghindari suami ketika hendak disentuh dan dicium atau menutup pintu ketika suami hendak
mendatanginya dan yang semisal dengan itu.

Termasuk dari bentuk ini ialah apabila seorang istri keluar rumah tanpa izin
suaminya walaupun hanya untuk mengunjungi kedua orang tuanya. Yang demikian seakan-akan seorang istri lari dari rumah suaminya tanpa sebab syar'i. Demikian pula jika sang istri enggan untuk bersafar (melakukan perjalanan) bersama suaminya, mengkhianati suami dan hartanya, membuka dan menampakkan
apa yang seharusnya ditutupi dari anggota tubuhnya, berjalan di tempat umum
dan pasar-pasar tanpa mahram, bersenda gurau atau berbicara lemah-lembut penuh mesra kepada lelaki yang bukan mahramnya dan yang semisal dengan itu.

Bentuk lain adalah apabila seorang istri tidak mau berdandan atau
mempercantik diri untuk suaminya padahal suaminya menginginkan hal itu,
melakukan puasa sunnah tanpa izin suaminya, meninggalkan hak-hak Allah
seperti shalat, mandi janabat, atau puasa Ramadlan.

Maka setiap istri yang melakukan perbuatan-perbuatan seperti tersebut adalah
istri yang durhaka terhadap suami dan bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa
Ta'ala.

Jika kedua bentuk kedurhakaan ini dilakukan sekaligus oleh seorang istri
maka ia dikatakan sebagai istri yang durhaka dengan ucapan dan perbuatannya.
(Dinukil dari kitab An Nusyuz karya Dr. Shaleh bin Ghanim As Sadlan halaman
23-25 dengan beberapa tambahan)

Sungguh merugi wanita yang melakukan kedurhakaan ini. Mereka lebih memilih
jalan ke neraka daripada jalan ke Surga karena memang biasanya wanita yang
melakukan kedurhakaan-kedurhakaan ini tergoda oleh angan-angan dan
kesenangan dunia yang menipu.

Ketahuilah wahai saudariku Muslimah, jalan menuju Surga tidaklah dihiasi
dengan bunga-bunga nan indah, melainkan dipenuhi dengan rintangan-rintangan
yang berat untuk dilalui oleh manusia kecuali orang-orang yang diberi
ketegaran iman oleh Allah. Tetapi ingatlah di ujung jalan ini ada Surga yang
Allah sediakan untuk hamba-hamba-Nya yang sabar menempuhnya.

Ketahuilah pula bahwa jalan menuju neraka memang indah, penuh dengan syahwat
dan kesenangan dunia yang setiap manusia tertarik untuk menjalaninya. Tetapi
ingat dan sadarlah bahwa neraka menanti orang-orang yang menjalani jalan ini
dan tidak mau berpaling darinya semasa ia hidup di dunia.

Hanya wanita yang bijaksanalah yang mau bertaubat kepada Allah dan meminta
maaf kepada suaminya dari kedurhakaan-kedurhakaan yang pernah ia lakukan. Ia
akan kembali berusaha mencintai suaminya dan sabar dalam mentaati
perintahnya. Ia mengerti nasib di akhirat dan bukan kesengsaraan di dunia
yang ia takuti dan tangisi.

3. Tabarruj

Yang dimaksud dengan tabarruj ialah seorang wanita yang menampakkanperhiasannya dan keindahan tubuhnya serta apa-apa yang seharusnya wajibuntuk ditutupi dari hal-hal yang dapat menarik syahwat lelaki. (Jilbab Al
Mar'atil Muslimah halaman 120)

Hal ini kita dapati pada sabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam
tentang wanita-wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang dikarenakan
minimnya pakaian mereka dan tipisnya bahan kain yang dipakainya. Yang
demikian ini sesuai dengan komentar Ibnul 'Abdil Barr rahimahullah ketika
menjelaskan sabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam tersebut.

Ibnul 'Abdil Barr menyatakan : "Wanita-wanita yang dimaksudkan Nabi
Shalallahu 'alaihi wassalam adalah yang memakai pakaian yang tipis yang
membentuk tubuhnya dan tidak menutupinya, maka mereka adalah wanita-wanita
yang berpakaian pada dhahirnya dan telanjang pada hakikatnya ... ." (Dinukil
oleh Suyuthi di dalam Tanwirul Hawalik 3/103 )

Mereka adalah wanita-wanita yang hobi menampakkan perhiasan mereka, padahal
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah melarang hal ini dalam firman-Nya : "Dan
janganlah mereka menampakkan perhiasan-perhiasan mereka." (An Nur : 31)

Imam Adz Dzahabi rahimahullah menyatakan di dalam kitab Al Kabair halaman
131 : "Termasuk dari perbuatan-perbuatan yang menyebabkan mereka dilaknat
ialah menampakkan hiasan emas dan permata yang ada di dalam niqab (tutup
muka/kerudung) mereka, memakai minyak wangi dengan misik dan yang semisalnya
jika mereka keluar rumah ... ."

Dengan perbuatan seperti ini berarti mereka secara tidak langsung menyeret
kaum pria ke dalam neraka, karena pada diri kaum wanita terdapat daya tarik
syahwat yang sangat kuat yang dapat menggoyahkan keimanan yang kokoh
sekalipun. Terlebih bagi iman yang lemah yang tidak dibentengi dengan ilmu
Al Qur'an dan As Sunnah. Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam sendiri
menyatakan di dalam hadits yang shahih bahwa fitnah yang paling besar yang
paling ditakutkan atas kaum pria adalah fitnahnya wanita.

Sejarah sudah berbicara bahwa betapa banyak tokoh-tokoh legendaris dunia
yang tidak beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala hancur karirnya hanya
disebabkan bujuk rayu wanita.

Dan berapa banyak persaudaraan di antara kaum Mukminin terputus hanya
dikarenakan wanita. Berapa banyak seorang anak tega dan menelantarkan ibunya
demi mencari cinta seorang wanita, dan masih banyak lagi kasus lainnya yang
dapat membuktikan bahwa wanita model mereka ini memang pantas untuk tidak
mendapatkan wanginya Surga.

Hanya dengan ucapan dan rayuan seorang wanita mampu menjerumuskan kaum pria
ke dalam lembah dosa dan hina terlebih lagi jika mereka bersolek dan
menampakkan di hadapan kaum pria. Tidak mengherankan lagi jika di sana-sini
terjadi pelecehan terhadap kaum wanita, karena yang demikian adalah hasil
perbuatan mereka sendiri.

Wahai saudariku Muslimah ... . Hindarilah tabarruj dan berhiaslah dengan
pakaian yang Islamy yang menyelamatkan kalian dari dosa di dunia ini dan
adzab di akhirat kelak.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :"Dan tinggallah kalian di rumah-rumah
kalian dan janganlah kalian bertabarruj dengan tabarrujnya orang-orang
jahiliyyah pertama dahulu." (Al Ahzab : 33)

Masih banyak sebab-sebab lainnya yang mengantarkan wanita menjadi mayoritas
penduduk neraka. Tetapi kami hanya mencukupkan tiga sebab ini saja karena
memang tiga model inilah yang sering kita dapati di dalam kehidupan
masyarakat negeri kita ini.

 Saudariku Muslimah ... .

Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam pernah menuntunkan satu amalan yang
dapat menyelamatkan kaum wanita dari adzab neraka. Ketika beliau selesai
khutbah hari raya yang berisikan perintah untuk bertakwa kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala dan anjuran untuk mentaati-Nya. Beliau pun bangkit
mendatangi kaum wanita, beliau menasehati mereka dan mengingatkan mereka
tentang akhirat kemudian beliau bersabda : "Bershadaqahlah kalian! Karena
kebanyakan kalian adalah kayu bakarnya Jahanam!" Maka berdirilah seorang
wanita yang duduk di antara wanita-wanita lainnya yang berubah kehitaman
kedua pipinya, iapun bertanya : "Mengapa demikian, wahai Rasulullah?" Beliau
menjawab : "Karena kalian banyak mengeluh dan kalian kufur terhadap suami!"
(HR. Bukhari)

Bershadaqahlah! Karena shadaqah adalah satu jalan untuk menyelamatkan kalian
dari adzab neraka. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menyelamatkan kita dari
adzabnya. Amin.

Wallahu A'lam bish Shawwab.

Renungan Pergaulan Suami Istri





Wahai sang suami ....
Apakah membebanimu wahai hamba Allah, untuk tersenyum di hadapan istrimu dikala anda masuk ketemu istri tercinta, agar anda meraih pahala dari Allah?!!
Apakah membebanimu untuk berwajah yang berseri-seri tatkala anda melihat anak dan istrimu?!!
Apakah menyulitkanmu wahai hamba Allah, untuk merangkul istrimu, mengecup pipinya serta bercumbu disaat anda menghampiri dirinya?!!
Apakah memberatkanmu untuk mengangkat sesuap nasi dan meletakkannya di mulut sang istri, agar anda mendapat pahala?!!
Apakah termasuk susah, kalau anda masuk rumah sambil mengucapkan salam dengan lengkap : "Assalamu`alaikum Warahmatullah Wabarakatuh" agar anda meraih 30 kebaikan?!!
Apa yang membebanimu, jika anda menuturkan untaian kata-kata yang baik yang disenangi kekasihmu, walaupun agak terpaksa, dan mengandung bohong yang dibolehkan?!!
Tanyalah keadaan istrimu di saat anda masuk rumah!!
Apakah memberatkanmu, jika anda menuturkan kepada istrimu di saat masuk rumah : "Duhai kekasihku, semenjak Kanda keluar dari sisimu, dari pagi sampai sekarang, serasa bagaikan setahun".
Sesungguhnya, jika anda betul-betul mengharapkan pahala dari Allah walau anda letih dan lelah, anda mendekati sang istri tercinta dan menjimaknya, maka anda mendapatkan pahala dari Allah, karena Rasulullah bersabda :"Dan di air mani seseorang kalian ada sedekah".
Apakah melelahkanmu wahai hamba Allah, jika anda berdoa dan berkata : Ya. Allah perbaikilah istriku dan berkatilah daku pada dirinya.
Ucapan yang baik adalah sedekah.
Wajah yang berseri dan senyum yang manis di hadapan istri adalah sedekah.
Mengucapkan salam mengandung beberapa kebaikan.
Berjabat tangan mengugurkan dosa-dosa.
Berhubungan badan mendapatkan pahala.
 
 
Wahai sang Istri .....
Apakah akan membahayakan dirimu, kalau anda menemui suamimu dengan wajah yang berseri, dihiasi senyum yang manis di saat dia masuk rumah.?
Apakah memberatkanmu, apabila anda menghapus debu dari wajahnya, kepala, dan baju serta mengecup pipinya.?!!
Apakah anda akan merasa sulit, jika anda menunggu sejenak di saat dia memasuki rumah, dan tetap berdiri sampai dia duduk.!!!
Mungkin tidak akan menyulitkanmu, jika anda berkata kepada suami : "Alhamdulillah atas keselamatan Kanda, kami sangat rindu kedatanganmu, selamat datang kekasihku".
Berdandanlah untuk suamimu -harapkanlah pahala dari Allah di waktu anda berdandan itu, karena Allah itu Indah dan mencintai keindahan- pakailah parfum, dan bermake up-lah, serta pakailah busana yang paling indah untuk menyambut suamimu.
Jauhi dan jauhilah bermuka asam dan cemberut.
Janganlah anda mendengar dan menghiraukan perusak dan pengacau yang akan merusak dan mengacaukan keharmonisanmu dengan suami.
Janganlah selalu tampak sedih dan gelisah, akan tetapi berlindunglah kepada Allah dari rasa gelisah, sedih, malas dan lemah.
Janganlah berbicara terhadap laki-laki lain dengan lemah-lembut, sehingga menyebabkan orang yang di hatinya ada penyakit mendekatimu dan mengira hal-hal yang jelek terhadap dirimu.
Selalulah berada dalam keadaan lapang dada, hati tentram, dan ingat kepada Allah setiap saat.
Ringankanlah suamimu dari setiap keletihan, kepedihan dan musibah serta kesedihan yang menimpanya.
Suruhlah suamimu untuk berbakti kepada ibu bapaknya.
Didiklah anak-anakmu dengan baik. Isilah rumah dengan tasbih, tahlil, tahmid, dan takbir, perbanyaklah membaca Al-Quran terutama surat Al-Baqarah, karena surat itu dapat mengusir syeitan.
Hilangkanlah dari rumahmu gambar-gambar, alat-alat musik dan alat-alat yang bisa merusak agama.
Bangunkanlah suamimu untuk melaksanakan shalat malam, doronglah dia untuk melakukan puasa sunat, ingatkan dia akan keutamaan bersedekah, dan jangan anda menghalanginya untuk menjalin hubungan siraturrahim dengan karib kerabatnya.
Perbanyaklah beristighfar untuk dirimu, suamimu, serta kedua orang tua dan seluruh kaum muslimin. Berdoalah kepada Allah, agar dianugerahkan keturunan yang baik, niat yang baik serta kebaikan dunia dan akhirat. Ketahuilah sesungguhnya Rabbmu Maha Mendengar doa dan mencintai orang yang nyinyir dalam meminta. Allah berfirman:"Dan Rabbmu berkata : serulah Aku niscaya Aku penuhi doamu" (Al-Ghafir : 60).

Diambil dari kitab " Fiqh pergaulan suami istri " oleh Syeikh Mushtofa Al Adawi

Rahasia Rasulullah untuk Fatimah
======================================

Ummul Mukminin: Kami, para istri Rasulullah, sedang duduk bersama 
Rasulullah dan tidak satupun dari kami yang pergi hingga Fatimah a.s. 
berjalan menghampiri, dan Demi Allah, gaya berjalannya sangat mirip 
dengan Rasulullah. Ketika beliau melihatnya, beliau menyambutnya dan 
berkata, “Selamat datang, wahai anakku!” Kemudian beliau menyuruhnya 
duduk di sisi sebelah kanan atau kirinya, menceritakan sebuah rahasia 
kepadanya, dimana ia kemudian menangis tersedu-sedu. 

Ketika beliau menyadari kesedihannya, beliau kemudian menceritakannya 
sebuah rahasia untuk yang kedua kalinya, dan ia menjadi tertawa. Hanya 
aku, dari para istri Rasulullah, yang berkata padanya, “(Ya Fatimah), 
Rasulullah telah memilihmu dari kami semua untuk sebuah pembicaraan 
rahasia dan masih juga engkau menangis” Ketika Rasulullah berdiri, (dan 
kemudian pergi) aku bertanya padanya, “Apa yang telah beliau ceritakan 
padamu” Ia berkata, “Aku tidak akan membuka rahasia dari Rasulullah.” 
Tetapi ketika Rasulullah telah wafat aku (kembali) bertanya padanya, “Aku 
memohon padamu dengan sungguh-sungguh dengan apa yang menjadi hakku 
atasmu, untuk memberitahuku (pembicaraan rahasia antara Rasulullah dan 
dirimu).” 

Ia berkata, “Sebab engkau bertanya padaku sekarang, ya, (aku akan 
memberitahukannya).” 

Ia memberitahuku dengan berkata, “Ketika beliau menceritakan rahasia itu 
pada kali pertama, beliau berkata bahwa Jibril biasa mengulang bacaan Al-
Qur'an dengan Rasulullah sekali dalam setahun. Beliau 
menambahkan, ‘Tetapi tahun ini ia (Jibril) melakukannya dua kali, dan 
kemudian aku berpikir bahwa waktu ajalku sudah dekat.

 Maka, takutlah pada Allah, dan bersabarlah, sebab aku akan menjadi 
pendahulumu yang terbaik di Hari Kemudian.’” Fatimah menambahkan, “Maka 
aku pun menangis seperti yang engkau saksikan. 

Dan ketika Rasulullah mendapatiku bersedih, beliau menceritakan rahasia 
padaku untuk kali yang kedua dan berkata, ‘Ya Fatimah, tidakkah engkau 
bergembira sebab engkau akan menjadi pemimpin dari para wanita yang 
beriman (para mukminat).”’

Yuk Qatamkan Al Quran 2x dalam setahun ...atau ..Al Quran akan menagih pada kita di hari perhitungan nanti ....
smoga bermanfaat.