Laman

Rabu, 05 Juni 2013

Dahsyatnya Isra' Mi'raj session 2

Dahsyatnya Isra' Mi'raj session 2

[3]�Kata�ru�ya�sering diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan mimpi. Namun dalam ayat ini,�ru�ya�bermakna pemandangan di alam nyata, bukan di alam mimpi sebagaimana�yang�disebutkan dalam riwayat dari Abdullah bin Abbas setelah ini.
[4]�Hal ini disebabkan karena kesalahan salah satu rawi dalam meriwayatkan hadits atau mungkin ada sebab lain wallahu a�lam.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Dahsyatnya Mengimani Isra' Mi'raj (27 Rajab 1434 H) session 1

Dahsyatnya Mengimani Isra' Mi'raj (27 Rajab 1434 H)

Mengimani Peristiwa Isra' Mi'raj dan Sanggahan Terhadap yang Mengingakarinya
 
Salah satu prinsip aqidah dalam Islam adalah mengimani peristiwa Isra' dan Mi'raj yang dialami Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Isra' adalah perjalanan yang dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersama Malaikat Jibril pada malam hari dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina. Perjalanan sejauh ini ditempuh oleh beliau dengan mengendarai Buraq, sejenis hewan yang berwarna putih, panjang, ukurannya lebih besar daripada keledai dan lebih kecil daripada baghl (peranakan kuda dengan keledai). Dengan kekuasaan Allah ta'ala, hewan ini mampu melangkahkan kakinya sejauh mata memandang.
Adapun mi'raj adalah peristiwa naiknya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dari bumi menuju Sidratul Muntaha, untuk kemudian berjumpa dengan Allah Yang Maha Tinggi dan menerima kewajiban shalat lima waktu sehari semalam.
Sebagian orang beranggapan bahwa peristiwa Isra' dan Mi'raj terjadi pada waktu yang berbeda, Isra' pada satu malam tertentu, dan Mi'raj pada malam yang lain. Namun yang benar adalahperistiwa Isra' dan Mi'raj ini terjadi pada satu malam yang sama. Demikian yang diungkapkan oleh Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullah. Keterangan beliau ini dikuatkan oleh Al-Imam Ibnu Katsirrahimahullah dengan mengatakan: "Apa yang diungkapkan oleh beliau (Al-Baihaqi) ini adalah yang benar, tidak ada sedikitpun keraguan padanya." (Tafsir Ibnu Katsir).
Banyak riwayat dari hadits yang menyebutkan tentang kisah perjalanan yang merupakan salah satu mu'jizat dan tanda kenabian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ini. Masing-masing riwayat tersebut saling melengkapi satu dengan yang lain. Berikut ini, akan disebutkan dari riwayat Al-Imam Muslim rahimahullah dalam kitab Shahihnya (hadits no. 162).
Diriwayatkan dari shahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Didatangkan kepadaku Buraq (dia adalah seekor binatang yang berwarna putih, panjang, ukurannya lebih besar daripada keledai dan lebih kecil daripada baghl (peranakan kuda dengan keledai), hewan ini mampu melangkahkan kakinya sejauh mata memandang). Akupun menungganginya sampai tiba di Baitul Maqdis, kemudian aku tambatkan hewan tersebut di sebuah tali (yang terdapat di pintu masjid Baitul Maqdis). Lalu aku memasuki masjid dan mengerjakan shalat dua raka'at. Setelah itu, aku keluar dan Jibril 'alaihissalam mendatangiku dengan membawa sebuah bejana yang berisi khamr dan sebuah bejana yang berisi susu. Akupun memilih susu. Kata Jibril 'alaihissalam: 'Engkau telah memilih fithrah.'
Kemudian kami naik menuju langit, lalu Jibril meminta (kepada malaikat penjaga pintu langit) untuk dibukakan pintu langit. Jibril ditanya: 'Siapa engkau?' Dia menjawab: 'Aku Jibril.' Jibril ditanya lagi: 'Siapa yang bersamamu?' Jibril menjawab: 'Muhammad.' Dia ditanya lagi: 'Apakah dia telah diutus?' Jibril menjawab: 'Dia telah diutus. Maka dibukakanlah untuk kami pintu langit, dan akupun berjumpa dengan Adam, diapun menyambutku dan mendo'akan kebaikan untukku.
Kemudian kami naik menuju langit kedua, lalu Jibril 'alaihissalam meminta untuk dibukakan pintu langit. Jibril ditanya: 'Siapa engkau?' Dia menjawab: 'Aku Jibril.' Jibril ditanya lagi: 'Siapa yangbersamamu?' Jibril menjawab: 'Muhammad.' Dia ditanya lagi: 'Apakah dia telah diutus?' Jibril menjawab: 'Dia telah diutus. Maka dibukakanlah untuk kami pintu langit kedua, dan akupun berjumpa dengan dua anak dari bibi[1], yaitu 'Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariyya shalawatullahi 'alaihima, mereka berduapun menyambutku dan mendo'akan kebaikan untukku.
Kemudian kami naik menuju langit ketiga, lalu Jibril 'alaihissalam meminta untuk dibukakan pintu langit. Jibril ditanya: 'Siapa engkau?' Dia menjawab: 'Aku Jibril.' Jibril ditanya lagi: 'Siapa yangbersamamu?' Jibril menjawab: 'Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.' Dia ditanya lagi: 'Apakah dia telah diutus?' Jibril menjawab: 'Dia telah diutus. Maka dibukakanlah untuk kami pintu langit kedua, dan akupun berjumpa dengan Yusuf shallallahu 'alaihi wasallam, dia adalah seorang yang dikaruniai setengah dari ketampanan, dia pun menyambutku dan mendo'akan kebaikan untukku.
Kemudian kami naik menuju langit keempat, lalu Jibril 'alaihissalam meminta untuk dibukakan pintu langit. Jibril ditanya: 'Siapa engkau?' Dia menjawab: 'Aku Jibril.' Jibril ditanya lagi: 'Siapa yangbersamamu?' Jibril menjawab: 'Muhammad.' Dia ditanya lagi: 'Apakah dia telah diutus?' Jibril menjawab: 'Dia telah diutus. Maka dibukakanlah untuk kami pintu langit kedua, dan akupun berjumpa dengan Idris, dia pun menyambutku dan mendo'akan kebaikan untukku. Allah 'azza wajalla berfirman tentangnya:
وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا
"Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi." (Maryam: 57)
Kemudian kami naik menuju langit kelima, lalu Jibril 'alaihissalam meminta untuk dibukakan pintu langit. Jibril ditanya: 'Siapa engkau?' Dia menjawab: 'Aku Jibril.' Jibril ditanya lagi: 'Siapa yangbersamamu?' Jibril menjawab: 'Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.' Dia ditanya lagi: 'Apakah dia telah diutus?' Jibril menjawab: 'Dia telah diutus. Maka dibukakanlah untuk kami pintu langit kedua, dan akupun berjumpa dengan Harun shallallahu 'alaihi wasallam, dia pun menyambutku dan mendo'akan kebaikan untukku.
Kemudian kami naik menuju langit keenam, lalu Jibril 'alaihissalam meminta untuk dibukakan pintu langit. Jibril ditanya: 'Siapa engkau?' Dia menjawab: 'Aku Jibril.' Jibril ditanya lagi: 'Siapa yangbersamamu?' Jibril menjawab: 'Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.' Dia ditanya lagi: 'Apakah dia telah diutus?' Jibril menjawab: 'Dia telah diutus. Maka dibukakanlah untuk kami pintu langit kedua, dan akupun berjumpa dengan Musa shallallahu 'alaihi wasallam, dia pun menyambutku dan mendo'akan kebaikan untukku.
Kemudian kami naik menuju langit ketujuh, lalu Jibril 'alaihissalam meminta untuk dibukakan pintu langit. Jibril ditanya: 'Siapa engkau?' Dia menjawab: 'Aku Jibril.' Jibril ditanya lagi: 'Siapa yangbersamamu?' Jibril menjawab: 'Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.' Dia ditanya lagi: 'Apakah dia telah diutus?' Jibril menjawab: 'Dia telah diutus. Maka dibukakanlah untuk kami pintu langit kedua, dan akupun berjumpa dengan Ibrahim shallallahu 'alaihi wasallam sedang menyandarkan punggungnya di Al-Baitul Ma'mur, sebuah tempat yang setiap harinya ada 70.000 malaikat yangmemasukinya, dan para malaikat yang sudah memasukinya tadi tidak akan kembali lagi.
Kemudian aku dibawa menuju Sidratul Muntaha[2], yang daunnya seperti telinga gajah dan buah-buahannya seperti guci yang besar. Tatkala ketetapan Allah datang menyelimutinya, berubahlah Sidratul Muntaha itu. Tidak ada seorangpun dari makhluk Allah yang mampu untuk menggambarkan keadaannya disebabkan sangat indahnya.
Allah pun mewahyukan kepadaku dengan memerintahkan kepadaku shalat 50 waktu sehari semalam. Aku pun turun dan berjumpa dengan Musa shallallahu 'alaihi wasallam. Dia pun bertanya: 'Apayang diwajibkan Rabbmu kepada umatmu?' Aku pun menjawab: 'Shalat 50 waktu.' Musa berkata: 'Kembalilah kepada Rabbmu, mohonlah keringanan kepada-Nya karena umatmu tidak akan sanggup memenuhi kewajiban ini, sungguh aku telah menguji Bani Israil (ternyata mereka tidak sanggup).
Aku pun kembali kepada Rabbku dan aku memohon: 'Wahai Rabbku, berikan keringanan kepada umatku.' Maka Allah pun menguranginya sebanyak lima waktu. Kemudian aku kembali menjumpai Musa dan aku katakana kepadanya: 'Allah telah mengurangi sebanyak lima waktu.' Namun Musa tetap mengatakan: 'Sesungguhnya umatmu belum mampu memenuhi kewajiban ini, kembalilah kepada Rabbmu dan mohonlah keringanan kepada-Nya.
Terus menerus aku bolak-balik antara Rabbku tabaraka wata'ala dengan Musa 'alaihissalam sampai Allah menyatakan: 'Wahai Muhammad, kewajiban shalat itu sebanyak lima waktu sehari semalam, setiap shalat bernilai sepuluh (kebaikan), sehingga nilai keseluruhan dari lima waktu shalat adalah sebanyak 50 waktu shalat. Barangsiapa yang berniat untuk melakukan satu kebaikan namun dia belum mengamalkannya, maka akan dicatat untuknya satu kebaikan. Dan jika dia mengamalkannya, maka akan dicatat untuknya sepuluh kebaikan. Barangsiapa yang berniat melakukan kejelekan namun belum mengerjakannya, maka tidak akan dicatat kejelekan untuknya sedikitpun, dan jika mengerjakan kejelekan itu, maka akan dicatat baginya satu kejelekan.
Akupun turun dan berjumpa dengan Musa shallallahu 'alaihi wasallam dan aku kabarkan tentang apa yang telah aku alami. Maka Musa mengatakan: 'Kembalilah kepada Rabbmu, mohonlah kepada-Nya keringanan. Aku katakan kepadanya: 'Sungguh aku telah kembali kepada Rabbku sampai aku merasa malu kepada-Nya."
Isra' dan Mi'raj dengan Ruh dan Jasad Beliau shallallahu 'alaihi wasallam
Sebagian kalangan yang lebih mengedepankan akal dan logikanya dalam memahami agama ini -daripada nash-nash Al-Qur'an dan As-Sunnah- berupaya untuk mengingkari terjadinya peristiwa Isra'Mi'raj. Kalaupun benar peristiwa tersebut terjadi, maka itu hanya mimpi atau hanya ruh beliau saja, tidak mungkin dengan jasad fisik beliau. Menurut mereka, tidak masuk akal perjalanan sejauh itu hanya ditempuh selama satu malam. Sangat jauhnya jarak antara Masjidil Haram dengan Masjidil Aqsha, kemudian ditambah jarak antara bumi dan langit, tentunya membutuhkan perjalanan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Sehingga tidak mungkin Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bisa menempuhnya dengan jasad beliau. Sebuah benda yang paling keras sekalipun, kalau bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, maka benda tersebut bisa meleleh, apalagi jasad seorang manusia. Ini tidak masuk akal, kata mereka.
Maka kita katakan: Benar bahwa peristiwa Isra' Mi'raj itu tidak masuk akal, yakni akal yang berpenyakit, akalnya orang-orang yang di hatinya terdapat bibit penyimpangan dan kesesatan dari agama yang lurus ini.
Sungguh akal yang sehat itu justru menerima dengan penuh ketundukan dan keyakinan setiap berita dalam Al-Qur'an maupun hadits. Akal yang sehat menyatakan bahwa Allah ta'ala Maha Mampu atas segalanya. Kalau Allah berkehendak, Allah pun mampu untuk menciptakan kejadian luar biasa yang lebih menakjubkan daripada peristiwa Isra' Mi'raj pada diri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tersebut.
Ayat Al-Qur'an yang mengabadikan peristiwa besar ini, yaitu firman Allah ta'ala:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Al-Isra': 1)
menunjukkan bahwa peristiwa tersebut adalah benar adanya dan dialami oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan ruh dan jasad beliau, bukan ruh saja atau mimpi saja. Berikut argumentasinya:
1.      Kalimat tasbih (سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى …). Sebagaimana yang sudah dikenal di kalangan umat Islam, bahwa kalimat tasbih ini juga sering digunakan ketika melihat atau mendengar peristiwa besar dan menakjubkan. Kalau Isra' dan juga Mi'raj ini dilakukan dalam mimpi beliau saja, maka ini bukanlah suatu peristiwa besar. Dalam mimpi, seorang manusia bisa saja mengalami kejadian aneh maupunperistiwa mustahil yang tidak akan mungkin terjadi di alam nyata ini.
2.      Kalimat (بِعَبْدِهِ), yang berarti hamba-Nya. Kalimat عبد / hamba, bermakna sebuah ungkapan yang menunjukkan berkumpulnya antara ruh dan jasad, sebagaimana yang sudah dikenal dalam bahasa Arab.
Adapun peristiwa Mi'raj, Allah subhanahu wata'ala telah abadikan dalam Al-Qur'an di awal-awal surat An-Najm. Pada ayat ke-17:
مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى
"Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya." (An-Najm: 17)
juga merupakan argumentasi yang kuat yang menunjukkan bahwa peristiwa tersebut terjadi dan dialami oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan ruh dan jasad beliau. Hal ini ditunjukkan pada kata الْبَصَرُ (yang berarti penglihatan, maksudnya penglihatan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam), karena kata الْبَصَرُ adalah sebuah ungkapan yang bermakna alat penglihatan dari dzat (jasad), bukan dari ruh.
Argumen lain yang menunjukkan bahwa peristiwa Isra' dan Mi'raj dialami oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan ruh dan jasad beliau adalah dalam ayat-Nya:
وَمَا جَعَلْنَا الرُّؤْيَا الَّتِي أَرَيْنَاكَ إِلَّا فِتْنَةً لِلنَّاسِ وَالشَّجَرَةَ الْمَلْعُونَةَ فِي الْقُرْآَنِ
"Dan Kami tidak menjadikan ru'ya[3] yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al-Qur'an." (Al-Isra': 60)
Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma menafsirkan makna ru'ya pada ayat di atas adalah pemandangan yang diperlihatkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada peristiwa Isra' ke Baitul Maqdis, adapun pohon kayu yang terkutuk adalah pohon Zaqqum sebagaimana dalam surat Ash-Shaffat ayat 62 sampai 65. (HR. Al-Bukhari, no. 3599).
Sebagiamana ayat di atas, peristiwa yang dilihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ini merupakan fitnah (ujian) bagi manusia, siapa yang membenarkannya dan siapa saja yang mendustakannya. Seandainya peristiwa seperti itu dialami dalam mimpi, maka tidak akan menjadi ujian bagi mereka. Bisa jadi semua orang -termasuk musyrikin Quraisy- akan percaya dan membenarkannya, karena -sebagaimana yang sudah disebutkan di atas- bahwa siapapun bisa saja bermimpi mengalami kejadian aneh atau peristiwa mustahil yang tidak akan mungkin terjadi di alam nyata ini.
(Lihat Tafsir Ibnu Katsir dan Adhwa-ul Bayan).
Sebagian pihak yang tidak mengimani bahwa peristiwa Isra Mi'raj dengan ruh dan jasad Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berdalil dengan adanya salah satu riwayat dalam Shahih Muslim yangmenyebutkan tentang peristiwa Isra Mi'raj beliau, dan disebutkan di dalamnya:
وَهُوَ نَائِمٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
"Dan beliau sedang tidur di Masjidil Haram."
Kata mereka, riwayat ini menunjukkan bahwa beliau mengalami peristiwa ini dalam mimpi saja karena ketika itu beliau sedang tidur.
Kalau kita mengkaji dengan seksama kitab Syarh (penjelasan) Shahih Muslim yang ditulis oleh Al-Hafizh An-Nawawi rahimahullah, maka kita akan jumpai keterangan beliau dengan menukil perkataan ulama sebelumnya tentang riwayat tersebut. Dan setelah dipelajari, maka kesimpulan dari yang disebutkan oleh beliau adalah di antaranya:
1.      Riwayat tersebut telah diingkari oleh para ulama[4].
2.      Para rawi hadits ini dari kalangan huffazh mutqinin dan para imam yang terkenal tidak ada satu pun yang menyebutkan riwayat dengan lafazh di atas.
3.      Bisa jadi tidurnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika itu adalah saat datangnya malaikat kepada beliau. Adapun setelah itu, beliau bangun dan kemudian mengalami peristiwa yangsangat menakjubkan tersebut. Konteks hadits yang menyebutkan kisah ini tidak menunjukkan bahwa beliau ketika itu sedang tidur.
4.      Yang benar adalah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengalami peristiwa Isra' dengan jasad beliau. Wallahu a'lam.
Benarkah Isra' Mi'raj pada 27 Rajab?
Nantikan tulisan berikutnya, Insya Allah.
[1] Maksudnya adalah ibu salah seorang di antara keduanya adalah bibi yang lain, demikian sebaliknya, yakni ibu 'Isa merupakan bibi Yahya, dan ibu Yahya adalah bibi 'Isa 'alaihimush shalatu wassalam.
[2] Secara bahasa Sidratul Muntaha artinya pohon penghabisan. Ibnu Abbas dan para mufassirin menerangkan bahwa dinamakan pohon tersebut dengan Sidratul Muntaha karena pengetahuan malaikat berhenti sampai di tempat ini, tidak ada seorangpun yang sanggup mencapainya kecuali Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Disebutkan dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu bahwa dinamakannya Sidratul Muntaha karena dia adalah tempat berhentinya segala sesuatu yang turun dari atasnya maupun yang naik dari arah bawahnya, berupa urusan Allah ta'ala (wahyu dan ketetapan-Nya). Wallahu a'lam. (Syarh Shahih Muslim).

Bersambung Dahsyatnya Isra' Mi'raj session2
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Mohon Hidayah Utk Tamu di Tempat Niaga

Mohon Hidayah Utk Tamu  di Tempat Niaga

Abu Dzar Al ghifari RA, ketika hendak membuka perniagaan diantara kalian maka hendaknya diantara kalian bermohon bahwa sesiapa saja yg keluar masuk tempat niaganya berharap mendapat cahaya hidayah Nya (kitabul amwal)

Ya Allah berkahkanlah tempat usaha kami sebagaimana tempat para sahabat RA yg menjadikan kami dan orang orang yg melihat, masuk bahkan yg melintas mendapatkan hidayah Mu Ya Dzal Jalali wa ikhrom .( Nazhatul Basatin)

Salam Hijrah, UniQ
sjah.janiq@gmail.com
www.shalatdahsyat.com
www.dahsyatnyasholatbersayap.com
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Dahsyatnya Senyum Mendatangkan Maghfiroh

Dahsyatnya Senyum Mendatangkan Maghfiroh

Abu Bakar RA dari kekasihnya Nabi SAW bersabda," Senyumnya salah seorang di antara kalian ketika bertemu dgn saudaranya maka dapat menghapus dosa dosanya (dosa diantara keduanya)

Nu'man bin Basyir, aku melihat Rasul SAW mendoakan maghfiroh ketika beliau melihat dua orang sahabatnya bertemu dengan mengucapkan salam, kemudian saling menebar senyum, maka akupun memberanikan diri untuk bertanya bahwa apakah mereka pun juga harus tersenyum, maka beliau menyampaikan :
" Berikanlah senyum kepada siapa saja yg kau kenal atau tidak"
(HR Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah)

Ayo Senyum !!! Dahsyat !!!
Salam Hijrah, UniQ
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Selasa, 04 Juni 2013

Dahsyatnya sholat bersayap.jpg


Powered by Telkomsel BlackBerry®

DOSA YANG LEBIH HEBAT DARI BERZINA

DOSA YANG LEBIH HEBAT DARI BERZINA
Pada suatu senja yang lenggang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa IA berada dalam duka cita yang mencekam. Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya. Tanpa rias muka atau perhiasan menempel di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping Dan roman mukanya yang ayu, tidak dapat menghapus kesan kepedihan yang tengah meruyak hidupnya. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi Musa a.s.
Diketuknya pintu pelan-pelan sambil mengucapkan salam. Maka terdengarlah ucapan dari dalam �Silakan masuk�. Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk. Air matanya berderai tatkala IA berkata, �Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya, Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya.� �Apakah dosamu wahai wanita ayu?� tanya Nabi Musa as terkejut. �Saya takut mengatakannya.� jawab wanita cantik. �Katakanlah jangan ragu-ragu!� desak Nabi Musa. Maka perempuan itu pun terpatah bercerita, �Saya ��telah berzina.� Kepala Nabi Musa terangkat, hatinya tersentak.
Perempuan itu meneruskan, �Dari perzinaan itu saya pun��lantas hamil. Setelah anak itu lahir, langsung saya��. Cekik lehernya sampai��tewas�, ucap wanita itu seraya menagis sejadi-jadinya. Nabi musa berapi-api matanya. Dengan muka berang IA menghardik,� Perempuan bejad, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi!��teriak Nabi Musa sambil memalingkan Mata karena jijik.
Perempuan berwajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh segera bangkit Dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk ke luar dari dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan. Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu. Bahkan IA tak tahu mau di bawa kemana lagi kaki-kakinya. Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya. Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa. Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, �Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertobat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya?� Nabi Musa terperanjat. �Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina Dan pembunuh itu?� Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril.
�Betulkah Ada dosa yang lebih besar dari pada perempuan yang nista itu?� �Ada!� jawab Jibril dengan tegas. �Dosa apakah itu?� tanya Musa kian penasaran. �Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja Dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar dari pada seribu kali berzina. Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut.
Nabi Musa menyadari, orang yang meninggalkan sembahyang dengan sengaja Dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sembahyang itu tidak wajib Dan tidak perlu atas dirinya. Berarti IA seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur Dan memerintah hamba-Nya. Sedang orang yang bertobat Dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman didadanya Dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya.
Dikutip dari buku 30 kisah teladan - KH > Abdurrahman Arroisy)
Dalam hadist Nabi SAW disebutkan : Orang yang meninggalkan sholat lebih besar dosanya dibanding dengan orang yang membakar 70 buah Al-Qur�an, membunuh 70 nabi Dan bersetubuh dengan ibunya di dalam Ka�bah. Dalam hadist yang lain disebutkan bahwa orang yang meninggalkan sholat sehingga terlewat waktu, kemudian IA mengqadanya, maka IA akan disiksa dalam neraka selama satu huqub. Satu huqub adalah delapan puluh tahun. Satu tahun terdiri dari 360 Hari, sedangkan satu Hari di akherat perbandingannya adalah seribu tahun di dunia. Demikianlah kisah Nabi Musa Dan wanita pezina Dan dua hadist Nabi, mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi Kita Dan timbul niat untuk melaksanakan kewajiban sholat dengan istiqomah.
Ya Allah ijinkan hamba memohon kekuatan dari� Mu untuk menjaga sholat hamba, baguskanlah dan sempurnakan ibadah dan sholat hamba ...dan jadikan hamba sebagai hamba Mu yg rindu sholat, dan rindu bertemu dengan Mu ya Robb. aamiin

Salam Hijrah, UniQ
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Dahsyatnya Salam Kpd Tamu Yg Datang di Tempat Niagamu

Dahsyatnya Salam Kpd Tamu Yg Datang di Tempat  Niagamu

Nu'man bin basyir RA meriwayatkan bahwa telah diterima pada Aisyah RhA sesungguhnya Nabi SAW bersabda, " Apabila diantara kalian akan memberikan salam kepada setiap tetamu yang datang ke tempat niagamu maka sesungguhnya hal itu dapat membukakan pintu pintu rahmat dan menghindarkan daripadamu bala dan bencana ( Kanzul Umal, disepakati oleh ash zahabi)

Salam Hijrah, UniQ
www.dahsyatnyasholatbersayap.blogspot.com
www.shalatdahsyat.com
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Dahsyatnya Bertemu & Berjabat Tangan

Dahsyatnya Bertemu & Berjabat Tangan

Sa'ud bin Abi Waqosh RA mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda," Rahmatku akan datang kepada mereka yang bertemu dan berjabat tangan ( Mutawatir)

Ayo Tebar Senyum & Salam ! Dahsyat !
Salam Hijrah, UniQ
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Senin, 03 Juni 2013

Dahsyatnya Shalawat kpd Nabi Muhammad SAW

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam al-Qur'an:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
INNALLOOHA WAMALAA-IKATAHU YUSHOLLUNA 'ALAN NABIYYI, YAA AYYUHAL LADZIINA AAMANUU SHOLLU 'ALAIHI WASALLIMUU TASLIIMA= Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepada-Nya. (QS Al-Ahzab 33: 56)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak seorang pun yang memberi salam kepadaku kecuali Allah akan menyampaikan kepada ruhku sehingga aku bisa menjawab salam itu." (HR Abu Dawud dari Abu Hurairah. Ada di kitab Imam an-Nawawi, dan sanadnya shahih).

Dari Anas bin Malik  radhiallahu 'anhu berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam  bersabda: "Seorang hamba (dalam hadits Abdul Warits, seorang laki-laki) tidak beriman sebelum aku di cintainya dari keluarganya, hartanya dan semua orang." (HR Bukhari-Muslim).

Anas bin Malik radhiallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba jika diletakkan dalam kuburnya dan ditinggal oleh kawan-kawannya, ia masih mendengar suara sandal mereka, maka didatangi oleh dua Malaikat, lalu mendudukkannya keduanya dan menanyakan: Apakah pendapatmu (tanggapanmu) terhadap orang itu (Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam?) Adapun orang Mukmin maka menjawab: Aku bersaksi bahwa dia hamba Allah dan utusan-Nya. Lalu diberitahu: Lihatlah tempatmu di api neraka, Allah telah mengganti untukmu tempat di surga, lalu dapat melihat keduanya. (Bukhari, Muslim).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bahwasanya seutama-utama manusia (orang yang terdekat) dengan aku pada hari kiamat adalah mereka yang lebih banyak bershalawat kepadaku" (HR  An-Nasa'i dan Ibnu Hibban dari Ibnu Mas'ud r.a.).

اللهم صل على سيد نا محمد  اللهم صل عليه وسلم
ALLOOHUMMA SHOLLI 'ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD, ALLOOHUMMA SHOLLI 'ALAIHI WASALLIM. = Ya Alloh limpahkanlah shalawat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, Ya Alloh limpahkan shalawat dan salam kepada Beliau.

Ayo Sholawat ! Dahsyat !
Salam Hijrah, UniQ
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Akibat Memakan Harta Riba

Akibat Memakan Harta Riba

Kaum muslimin seiman dan seaqidah
Tepatnya ketika Allah Subhannahu wa Ta'ala memberikan mukjizat kepada hamba dan kekasihNya, Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam berupa Isra' Mi'raj, pada saat itu pula Allah Ta'ala perlihatkan berbagai kejadian kepada beliau yang kelak akan memimpin jaga raya ini. Di antaranya Rasulullah n melihat adanya beberapa orang yang tengah disiksa di Neraka, perut mereka besar bagaikan rumah yang sebelumnya tidak pernah disaksikan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam. Kemudian Allah Ta'ala tempatkan orang-orang tersebut di sebuah jalan yang tengah dilalui kaumnya Fir'aun yang mereka adalah golongan paling berat menerima siksa dan adzab Allah di hari Kiamat. Para pengikut Fir'aun ini melintasi orang-orang yang sedang disiksa api dalam Neraka tadi. Melintas bagaikan kumpulan onta yang sangat kehausan, menginjak orang-orang tersebut yang tidak mampu bergerak dan pindah dari tempatnya disebabkan perutnya yang sangat besar seperti rumah. Akhirnya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bertanya kepada malaikat Jibril yang menyertainya, "Wahai Jibril, siapakah orang-orang yang diinjak-injak tadi?" Jibril menjawab, "Mereka itulah orang-orang yang makan harta riba." (lihat Sirah Nabawiyah, Ibnu Hisyam, 2/252).
Dalam syariat Islam, riba diartikan dengan bertambahnya harta pokok tanpa adanya transaksi jual beli sehingga menjadikan hartanya itu bertambah dan berkembang dengan sistem riba. Maka setiap pinjaman yang diganti atau dibayar dengan nilai yang harganya lebih besar, atau dengan barang yang dipinjamkannya itu menjadikan keuntungan seseorang bertambah dan terus mengalir, maka perbuatan ini adalah riba yang jelas-jelas diharamkan oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala dan RasulNya Shalallaahu alaihi wasalam, dan telah menjadi ijma' kaum muslimin atas keharamannya.
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
"Allah menghilangkan berkah riba dan menyuburkan shadaqah, dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa". (QS. Al-Baqarah: 270).
Barang-barang haram yang tiada terhitung banyaknya sampai menyusahkan dan memberatkan mereka ketika harus cepat-cepat berjalan pada hari Pembalasan. Setiap kali akan bangkit berdiri, mereka jatuh kembali, padahal mereka ingin berjalan bergegas-gegas bersama kumpulan manusia lainnya namun tiada sanggup melakukannya akibat maksiat dan perbuatan dosa yang mereka pikul.
Maha Besar Allah yang telah berfirman:
"Orang-orang yang memakan (mengambil) riba tidak dapat berdiri kecuali seperti berdirinya orang yang kemasukan syetan lantaran tekanan penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat): Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba". (QS. Al-Baqarah: 275).
Dalam menafsirkan ayat ini, sahabat Ibnu "Abbas Radhiallaahu anhu berkata:
"Orang yang memakan riba akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan gila lagi tercekik". (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1/40).
Imam Qatadah juga berkata:
"Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta riba akan dibangkitkan pada hari Kiamat dalam keadaan gila sebagai tanda bagi mereka agar diketahui para penghuni padang mahsyar lainnya kalau orang itu adalah orang yang makan harta riba." (Lihat Al-Kaba'ir, Imam Adz-Dzahabi, hal. 53).
Dalam Shahih Al-Bukhari dikisahkan, bahwasanya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bermimpi didatangi dua orang laki-laki yang membawanya pergi sampai menjumpai sebuah sungai penuh darah yang di dalamnya ada seorang laki-laki dan di pinggir sungai tersebut ada seseorang yang di tangannya banyak bebatuan sambil menghadap ke pada orang yang berada di dalam sungai tadi. Apabila orang yang berada di dalam sungai hendak keluar, maka mulutnya diisi batu oleh orang tersebut sehingga menjadikan dia kembali ke tempatnya semula di dalam sungai. Akhirnya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bertanya kepada dua orang yang membawanya pergi, maka dikatakan kepada beliau: "Orang yang engkau saksikan di dalam sungai tadi adalah orang yang memakan harta riba." (Fathul Bari, 3/321-322).
Inilah siksa yang Allah berikan kepada orang-orang yang suka makan riba, bahkan dalam riwayat yang shahih, sahabat Jabir Radhiallaahu anhu mengatakan:
لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ n آكِلَ الرِّبَا وَمُوْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ، وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ.
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam melaknat orang yang memakan riba, yang memberi makan riba, penulisnya dan kedua orang yang memberikan persaksian, dan beliau bersabda: "Mereka itu sama". (HR. Muslim, no. 1598).
Semaraknya praktek riba selama ini tidak lepas dari propaganda musuh-musuh Islam yang menjadikan umat Islam lebih senang untuk menyimpan uangnya di bank-bank, lebih-lebih dengan semaraknya kasus-kasus pencurian dan perampokan serta berbagai adegan kekerasan yang semakin merajalela. Bahkan sistem simpan pinjam dengan bunga pun sudah dianggap biasa dan menjadi satu hal yang mustahil bila harus dilepaskan dari perbankan. Umat tidak lagi memperhatikan mana yang halal dan mana yang haram. Riba dianggap sama dengan jual beli yang diperbolehkan menurut syari'at Islam. Kini kita saksikan, gara-gara bunga berapa banyak orang yang semula hidup bahagia pada akhirnya menderita tercekik dengan bunga yang ada. Musibah dan bencana telah meresahkan masyarakat, karena Allah yang menurunkan hukumNya atas manusia telah mengizinkan malapetaka atas suatu kaum jika kemaksiatan dan kedurhakaan telah merejalela di dalamnya.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Abu Ya'la dan isnadnya jayyid, bahwasannya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
مَا ظَهَرَ فِيْ قَوْمٍ الزِّنَى وَالرِّبَا إِلاَّ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عِقَابَ اللهِ.
"Tidaklah perbuatan zina dan riba itu nampak pada suatu kaum, kecuali telah mereka halalkan sendiri siksa Allah atas diri mereka." (Lihat Majma'Az-Zawaid, Imam Al-Haitsami, 4/131).
Dan dari bencana yang ditimbulkan karena memakan riba tidak saja hanya sampai di sini, bahkan telah menjadikan hubungan seorang hamba dengan Rabbnya semakin dangkal yang tidak lain dikarenakan perutnya yang telah dipadati benda-benda haram. Sehingga nasi yang dimakannya menjadi haram, pakaian yang dikenakannya menjadi haram, motor yang dikendarainya pun haram, dan barang-barang perkakas di rumahnya pun menjadi haram, bahkan ASI yang diminum oleh si kecil pun menjadi haram. Kalau sudah seperti ini, bagaimana mungkin do'a yang dipanjatkan kepada Allah akan dikabulkan jika seluruh harta dan makanan yang ada dirumahnya ternyata bersumber dari hasil praktek riba.
Sebenarnya praktek riba pada awal mulanya adalah perilaku dan tabi'at orang-orang Yahudi dalam mencari nafkah dan mata pencaharian hidup mereka. Dengan sekuat tenaga mereka berusaha untuk menularkan penyakit ini ke dalam tubuh umat Islam melalui bank-bank yang telah banyak tersebar. Mereka jadikan umat ini khawatir untuk menyimpan uang di rumahnya sendiri seiring disajikannya adegan-adegan kekerasan yang menakutkan masyarakat lewat jalur televisi dan media-media massa lainnya, sehingga umatpun bergegas mendepositokan uangnya di bank-bank milik mereka yang mengakibatkan keuntungan yang besar lagi berlipat ganda bagi mereka, menghimpun dana demi melancarkan rencana-rencana jahat zionis dan acara-acara kristiani lainnya. Mereka banyak membantai umat Islam, namun diam-diam tanpa disadari di antara kita telah ada yang membantu mereka membantai saudara-saudara kita semuslim dengan mendepositokan uang kita di bank-bank mereka.
Dalam firmanNya Allah Subhannahu wa Ta'ala menegaskan:
"Dan disebabkan mereka (orang-orang Yahudi) memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang lain dengan jalan yang bathil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir di antara mereka siksa yang pedih". (QS. An-Nisa': 161).
Lalu pantaskah bila umat Islam mengikuti pola hidup suatu kaum yang Allah pernah mengutuknya menjadi kera dan babi, sedangkan Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al-Kitab (Yahudi dan Nashrani), niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi kafir sesudah kamu beriman." (QS. Ali Imran: 100).
Semoga Allah senantiasa menunjukkan kita kepada jalanNya yang lurus, yang telah ditempuh oleh para pendahulu kita dari generasi salafush-shalih.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.

setelah kita menyadari realitas yang ada, marilah kita sering-sering beristighfar kepada Allah, karena tidak ada obat penyembuh dari kesalahan dan kedurhakaan yang telah kita lakukan kecuali hanya dengan mengakui segala dosa kita lalu beristighfar memohon ampun kepada Allah dan untuk tidak mengulanginya kembali sambil beramal shalih menjalankan ketaatan unukNya, sebagaimana yang dikatakan Nabi Hud Alaihissalam kepada kaumnya:
"Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabbmu lalu bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa." (QS. Hud: 52).

marilah kita memunajatkan do'a kepada Allah sebagai bukti bahwasanya kita ini fakir di hadapan Allah Subhannahu wa Ta'ala .
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، يَا مُجِيْبَ الدَّعَوَاتِ.
اَللَّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ وَلاَ دَيْنًا إِلاَّ قَضَيْتَهُ وَلاَ حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ إِلاَّ قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Penyakit Hati

Penyakit Hati

اعلم أنّ الطريق في معالجة أمراض القلب ترك الشهوات وأن مادة أمراضها هي اتباع الشهوات. (الإحياء)
Ketahuilah!.. Bahwa Jalan untuk mengobati penyakit-penyakit Hati adalah dengan Meninggalkan Syahwat (Kesenangan tdk baik) karena sebab terjangkit penyakit hati adalah selalu mengikuti Syahwat (Hawa Nafsu)(Imam Ghozali RA)

Salam Hijrah, UniQ
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Dahsyatnya Mengucapkan Salam Terlebih Dulu

Dahsyatnya Mengucapkan Salam Terlebih Dulu

Nu'aim bin Basyir RA dari Nabi Muhammad SAW bersabda," Barangsiapa diantara saudara mukmin bertemu dan salah satu diantaranya terlebih dahulu mengucapkan salam maka baginya akan dibangunkan maghligai di surga yang mana besarnya maghligai itu tidak dapat dilalui selama 500 tahun." (HR Abu Dawud)

Yuk tebarkan salam, krn salah satu sunnah yg mudah dapat kita lakukan, sapa dan salam paling tidak 25 orang perhari.

Ayo Shalat ! Dahsyat !
Salam Hijrah, UniQ
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Minggu, 02 Juni 2013

Dahsyatnya Pandangan Mata

Dahsyatnya Pandangan Mata

Pandangan mata memiliki dampak yg luar biasa terhadap hati manusia.
Pendengaran & penglihatan ibarat 2 pintu yg terbuka & tersambung ke dlm hati.
Sgala sesuatu yg masuk melalui 2 pintu tsbt akan langsung tembus ke dlm hati.

Apapun akan menimbulkan dampak, baik positif ataupun negatif. Oleh sebab itu, seorang Mu'min harus memelihara pandangannya..!!

Memandang baca'an Al-Qur'an, memandang wajah orang2 beriman yg dibarengi dgn rasa cinta, memandang wajah kedua orang tua yg dibarengi dgn rasa hormat, memandang wajah suami/istri dgn kasih sayang, memandang alam untuk mentafakkuri kekuasaan Allah, akan berdampak pd keimanan di dlm hati.

Sebaliknya, memandang sesuatu yg haram, memandang hal2 yg membangkitkan syahwat, memandang orang Muslim dgn sinis, memandang keglamoran dunia dgn rasa bangga & kagum, smuanya itu akan berdampak pula ke dlm hati !

Bahkan tidak jarang, akibat 1 kali pandangan, seseorang bisa terputus dari Tuhannya sepanjang hayat.

Firman Allah, "Dan janganlah kamu perlihatkan kedua matamu kpd apa yg telah Kami berikan kpd golongan dari mereka, yaitu gemerlap kehidupan dunia, yg Kami jadikan fitnah kpd mereka. Karunia Tuhan kamu lebih baik & lebih kekal" (QS. Tha Ha, 20;131)

Salam Hijrah, UniQ

www.shalatdahsyat.com
www.dahsyatnyasholatbersayap.blogspot.com
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Allah Rindu dgn rintihan hamba Nya

Allah Rindu dgn rintihan hamba Nya

Betapa beryukurnya kita menjadi hamba yg dirindukan Allah Subhanala wata'ala.
Ketika Allah rindu pada hamba Nya , Allah akan mengirimkan sebuah kado istimewa melalui malaikat Jibril yg isinya adalah Ujian. Dalam Hadits Qudsi Allah berfirman," Pergilah pada hamba Ku lalu timpakan berbagai ujian padanya karena Aku ingiin mendengat rintihannya." (HR. Thabrani dari Abu Umamah)

Salam Hijrah, UniQ
sjahjaniq@gmail.com
www.shalatdahsyat.com
www.dahsyatnyasholatbersayap.blogspot.com
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sabtu, 01 Juni 2013

Dahsyatnya Taqwa (Cashflow Langit Pintu Pertama)

Dahsyatnya Taqwa (Cashflow Langit Pintu Pertama)

DEFINISI TAQWA

Kata taqwa ( التَقْوَى ) berasal dari Wiqoyah ( الوِقَايَة ) yaitu kalimat yang menunjukkan penolakan terhadap sesuatu. Al-Wiqoyah berarti apa yang menghalangi sesuatu. (lihat LisanulArab: 15/403 dan Maqoyisul Lughoh: 6/131)

Maka, taqwa seorang hamba kepada Robbnya berarti menjadikan penghalang antara dia dengan apa yang ditakuti dari Robbnya berupa kemurkaan, kemarahan dan siksaanNya yaitu dengan cara menta'atiNya dan menjauhi maksiat kepadaNya. (lihat, Manhajul Anbiya' fii Tazkiyatin Nufus:28)

Hakekat taqwa adalah:

Beramal dengan menta'ati Allah Subhanahu Wa Ta'ala berdasarkan cahaya ilmu dari Allah dalam rangka mengharap pahalaNya serta menjauhi maksiat kepadaNya berdasarkan cahaya dari Allah tersebut karena takut siksaanNya.

Umar ra pernah bertanya kepada Ubay bin Ka'ab ra tentang taqwa. Maka Ubay bertanya (balik): pernahkah engkau menempuh jalan yang berduri? Umar menjawab: tentu. Ubay bertanya lagi: apa yang engkau lakukan? Umar menjawab: hati-hati dan sungguh-sungguh. Maka Ubay berkata: itulah taqwa.

Taqwa dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Kata taqwa dalam Al-Qur'an terkadang disandarkan langsung dengan nama Allah Subhanahu Wa Ta'ala sesudahnya, diantaranya ialah:

1. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Artinya: "Dan bertakwalah kepada Alloh yang kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. (QS. Al Maa-idah: 96).

2. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan". (QS. 059. Al Hasyr: 18).

3. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Artinya: "Dan bertakwalah kepada Alloh agar kamu beruntung". (QS. Al Baqarah: 189).

Apabila kata taqwa disandarkan langsung kepada Allah, maka maksudnya adalah bertaqwa (takut) kepada murkaNya, karena dari situlah munculnya berbagai hukuman didunia maupun diakherat.

Kata taqwa terkadang pula disandarkan kepada tempat diberlakukannyasiksaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala yaitu neraka.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Artinya: "Maka taqwalah (takutlah) kepada neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu. (QS. Al Baqarah: 24)

Dan terkadang disndarkan kepada waktu diperlakukannyasiksaan Allah yaitu pada hari qiyamat.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Artinya: " Dan bertaqwalah (takutlah) dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa'at dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong". (QS. Al Baqarah: 48)

Sedangkan didalam Sunnah, kata taqwa disandarkan pula pada hal-hal yang diharamkan:

1) Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda:

Takutlah (bertaqwalah) kepada kedzoliman karena kedzoliman akan menjadi kegelapan pada hari qiyamat. Dan takutlah (taqwalah) kepada kekikiran, karena kekikiran telah membinasahkan orang-orang sbelum kalian sehingga membawa mereka menumpahkan darah dan merobek-robek kehormatan". (HR. Muslim: 16/134 Syarah An-Nawawi)

2. Rosululloh Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda kepada Mu'ad bin Jabal ketika diutus keYaman:

Bertaqwalah (takut) kamu dari do'a orang yang didzolimi, karena antara dia dan Alloh tidak trdapat penghalang". (HR. Bukhori:3/357 fath Al-Bari dan Muslim:1/197 Syarah An-Nawawi)

Sumber Kumpulan Hadits Bukhari & Muslim & berbagai sumber

Salam Hijrah
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Hal hal yang Menghalangi Seseorang untuk Melaksanakan Shalat Malam

Hal hal yang Menghalangi Seseorang untuk Melaksanakan Shalat Malam

Fudhail bin 'Iyâdh berkata, "Bila engkau tidak sanggup melaksanakan shalat (tahajjud) di malam hari dan puasa di siang hari, maka ketahuilah bahwa engkau orang yang terhalang (dari kebaikan) lagi banyak dosa."

Seorang lelaki berkata kepada Hasan al-Bashri , "Sesungguhnya aku tidur dalam keadaan sehat, aku sangat ingin bangun melaksanakan shalat malam dan telah ku persiapkan air untuk bersuci, namun mengapa aku tetap tidak bisa bangun (disepertiga malam terakhir) ? " Beliau menjawab, "Engkau telah dibelenggu oleh dosa-dosamu."

Bila seseorang tidak bisa mengerjakan shalat malam, maka hendaklah dia merenungi pernyataan seorang dari generasi Salaf, "Bila engkau belum bisa mengambil bagian di waktu malam, maka janganlah engkau bermaksiat kepada Rabbmu di waktu siang."

Sahl bin Sa'ad menuturkan,
"Jibril pernah datang menemui Nabi seraya berkata, "Hai Muhammad! Hiduplah sesukamu, sesungguhnya kematian pasti akan menjemputmu. Cintailah siapa saja yang engkau senangi, sesungguhnya engkau pasti akan berpisah dengannya. Dan beramallah semaumu, sesungguhnya engkau akan menuai balasannya".
Kemudian Jibril berpesan,
"Hai Muhammad, kemuliaan seorang Mukmin terletak pada shalat malam dan kehormatannya adalah pada saat ia tak lagi bergantung pada manusia." (HR. Thabrani ).

Ayo Shalat !!! Dahsyat !!!
Salam Hijrah, UniQ

sjah.janiq@gmail.com
www.dahsyatnyasholatbersayap.blogspot.com
www.shalatdahsyat.com
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kamis, 30 Mei 2013

Mencari utk apa ?

Mencari Dunia utk apa ?

Brg siapa mencari dunia dg cara yg halal, utk kesombongan, membanggakan bnyknya harta dan pamer, maka ia akan menghadap Allah, sementara Allah murka kepadanya.
Dan Brg siapa mencari dunia dg halal utk menghindarkan diri dr meminta-minta, sbg usaha memenuhi kebutuhan keluarganya, dan untuk menyantuni tetangganya, maka ia akn menjumpai Allah pd hr kiamat dg wajah spt bulan purnama. (Hr. baihaqi)

Wahai dunia, datanglah kamu dengan dgn hina kpd mereka yg senantiasa mengagungkan dan menjadikan Aku satu satunya Tuhan baginya, dan datanglah kepada manusia dan hinakanlah mereka yg menjadikanmu sebagai tujuan hidupnya krn sesungguhnya Aku lah yg mengatur atas kehidupan dan penghidupan mereka. (Hadits Qudsi dikutip dalam musnad al bazzar)

Salam Hijrah, UniQ
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Rabu, 29 Mei 2013

DAHSYATNYA MERAIH KELUARGA SAKINAH MAWADDAH WA RAHMAH

DAHSYATNYA MERAIH KELUARGA SAKINAH MAWADDAH WA RAHMAH

Kita semua tentu mendambakan terwujudnya keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah, yakni keluarga yang tenang, bahagia, harmonis, penuh cinta dan kasih sayang. Tetapi kita juga harus menyadari sepenuhnya bahwa keluarga seperti itu tidak mungin akan tercapai tanpa adanya kebersamaan peranan seluruh keluarga di dalam rumah tangga. Keluarga itu terdiri dari dari ayah, ibu, dan  anak. Masing-masing mempunyai peranan yang sangat besar.
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya : "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." (QS Ar-Rum / 30 : 21).
Di dalam Kitab Taisir Al-Karim Ar-Rahman, Abdurrahman As-Sa'di menjelaskan, "Di antara tanda-tanda kekuasaan yang menunjukkan rahmat dan perhatian Allah kepada hamba-hamba-Nya, hikmah-Nya yang sangat agung dan ilmu-Nya yang luas, adalah dengan kekuasaann-Nya, Allah menciptakan manusia dengan berpasang-pasangan yang serasi. Allah ciptakan itu sesuai dengan bentuknya masing-masing, agar mereka pasangan tersebut merasa cenderung dan merasa tenteram antarkeduanya. Lalu Allah jadikan di antara mereka rasa kasih dan sayang sebagai buah dari pernikahan tersebut.
Dengan adanya isteri, seorang suami dapat bersenang-senang dengannya dan dapat mendapatkan manfaat dengan adanya anak-anak. Sehingga semakin menambah ketenangan bersamanya. Itu semua sesungguhnya terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi kaum yang berpikir, yang menggunakan pikirannya dan mengambil hikmah dari ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Asy-Syaukani di dalam Fathul Qadir menambahkan penjelasan tentang ayat ini, bahwa melalui tali pernikahan sebagian manusia condong kepada yang lainnya, yang sebelumnya tidak saling mengenal, tidak saling mencintai dan tidak saling mengasihi. Melalui ikatan suami isteri itulah maka timbul kecintaan di antara keduanya.
Ibn Katsir di dalam Tafsir Al-Quranul 'Adzim menjelaskan, bahwa ayat ini menandaskan tentang di antara tanda kebesaran Allah yang menunjukkan keagungan dan kesempurnaan kekuasaan-Nya adalah Allah menciptakan wanita yang menjadi pasangan pria, agar tumbuh ketenteraman karenanya.
Pengertian Sakinah, Mawaddah dan Rahmah
Pada surat Ar-Ruum ayat 21 tersebut terdapat tiga kata yang saling berkaitan, yaitu : sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Secara bahasa, sakinah artinya tenang, mawaddah artinya mencintai, dan rahmah artinya kasih sayang.
Melalui tali pernikahan, pasangan suami isteri saling condong kepada sebagian lainnya, yang sebelumnya tidak saling mengenal, tidak saling mencintai dan mengasihi. Kemudian timbullah ketenangan dalam jiwa, tumbuh rasa saling mencintai, hingga tertanam kasih sayang di antara keduanya dan seisi rumah tangga.
Karena itulah, maka rasa kasih dan sayang yang tertanam sebagai fitrah Allah Subhanahu Wa Ta'ala di antara pasangan suami-isteri akan bertambah besar, seiring dengan bertambahnya kebaikan pada keduanya. Sebaliknya, akan berkurang seiring menurunnya kebaikan pada keduanya.
Sang suami sebagai kepala rumah tangga, atau dalam hadits disebut dengan "ro'in" (penggembala, pemimpin). Sang suami adalah pemimpin yang memiliki kewenangan mengatrur rumah tangganya, tetapi bukan berarti sewenang-wenang, seenaknya tanpa aturan dan perhatian terhadap seisi rumahnya. Pemimpin rumah tangga di sini lebih bersifat menuntun seluruh anggota keluarganya menuju ridha Allah, bukan menutut apa-apa yang menjadi keinginan nafsunya.
Dengan makna ini maka antara suami istri hendaknya benar-benar membangun ikatan hati yang kuat. Dan sekuat-kuat pengikat hati adalah iman. Semakin kuat iman seseorang, semakin kuat pula ikatan hatinya dalam rumah tangganya. Sebaliknya semakin lemah iman seseorang, bisa dipastikan bahwa rumah tangga tersebut akan rapuh dan mudah retak.
Pergaulan yang Baik
Untuk memperkuat dan mempererat ikatan rumah tangga, yang perlu ditekankan adalah masalah pergaulan yang baik di antara keduanya.
Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Artinya : "Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". [QS Al-Baqarah / 2 : 228].
Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menjelaskan, para isteri memiliki hak-hak yang harus dipenuhi oleh suami mereka seimbang dengan kewajiban-kewajiban mereka terhadap suami mereka. Pemenuhan hak suami isteri itu pada yang ma'ruf.
Apalagi suami sebagai pemimpin di dalam rumah tangga, ia memiliki tanggung jawab atas perjalanan bahtera rumah tangganya dalam mengarungi badai kehidupan.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengingatkan :
وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَهِيَ مَسْئُولَةٌ
Artinya : "Dan Suami adalah pemimpin bagi keluarganya, ia dimintai pertanggungjawaban. Isteri adalah pemimpin di rumah suaminya, ia dimintai pertanggungjawaban". (HR Bukhari).
Tentang pergaulan yang baik, ditegaskan oleh Allah di dalam ayat lain :
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوف
Artinya : "Dan bergaullah dengan mereka (isteri-isteri kamu) secara patut."(QS An Nisaa' / 4 : 19).
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat di atas menyatakan: "Yakni perindah ucapan kalian terhadap mereka (para istri) dan perbagus perbuatan serta penampilan kalian sesuai kemampuan. Sebagaimana engkau menyukai bila ia (isteri) berbuat demikian, maka engkau (semestinya) juga berbuat yang sama.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sendiri telah bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِيْ
Artinya : "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarga (isteri)-nya. Dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku." (HR Tirmidzi).
Jika terdapat kesalahan atau kekeliruan di pihak isteri misalnya, maka mesti diluruskan karena Allah, dengan baik dan hati-hati.
Seperti tuntunan Nabi.
إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلْعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلْعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهَا، وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ وَفِيْهَا عِوَجٌ
Artinya : "Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk. Dan sungguh bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atasnya. Bila engkau ingin meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau ingin bersenang-senang dengannya, engkau bisa bersenang-senang namun padanya ada kebengkokan." (HR Bukhari dan Muslim).
Laki-laki sebagai suami bagi isterinya dan ayah bagi anak-anaknya merupakan pemimpin di dalam rumah tangga.
Di dalam ayat disebutkan :
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّهُ …
 Artinya : "Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta'at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)…." (QS An-Nisa / 4 : 34).
Pada ayat tersebut disebutkan bahwa "Kaum laki-laki itu adalah pemimpin" atau "qawwaamuuna". Kata "qawwaamuuna" artinya adalah melaksanakan tugas secara sempurna dan sebaik-baiknya. Dalam hal ini, laki-laki yaitu suami atau ayah adalah pemimpin yang mempunyai tugas melaksanakan tugas kepemimpinan di dalam rumah tangganya dengan sebaik-baiknya. Seorang suami atau ayah, ia bukan hanya sekedar memerintah atau menyuruh. Akan tetapi lebih dari itu, yaitu ia memberikan teladan dan arahan kebaikan setiap saat.
Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan tuntunan doa kepada segenap rumah tangga dalam lantunan ayat :
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً
 Artinya : "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa". (QS Al-Furqan / 25 : 74).
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberikan kita hidayah dan inayah-Nya kepada kita agar kita bisa menjagi hamba-hamba-Nya yang shalih-shalihat dan dapat meraih keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Amin.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Dahsyatnya Kelluarga Sakinah Mawaddah Warahmah

Dahsyatnya  Keluarga Sakinah Mawaddah Wa rahmah

Pertanyaan

1. Apa arti keluarga skinah itu?

Jawaban

Dalam bahasa Arab, kata sakinah di dalamnya terkandung arti tenang, terhormat, aman, merasa dilindungi, penuh kasih sayang, mantap dan memperoleh pembelaan. Namun, penggunaan nama sakinah itu diambil dari al Qur�an surat 30:21, litaskunu ilaiha, yang artinya bahwa Allah SWT telah menciptakan perjodohan bagi manusia agar yang satu merasa tenteram terhadap yang lain.Jadi keluarga sakinah itu adalah keluarga yang semua anggota keluarganya merasakan cinta kasih, keamanan, ketentraman, perlindungan, bahagia, keberkahan, terhormat, dihargai, dipercaya dan dirahmati oleh Allah SWT.

Pertanyaan

2. Apa arti mawaddah wa rahmah?

Jawaban

Di dalam keluarga sakinah itu pasti akan muncul mawaddah dan rahmah (Q/30:21). Mawaddah adalah jenis cinta membara, yang menggebu-gebu kasih sayang pada lawan jenisnya (bisa dikatakan mawaddah ini adalah cinta yang didorong oleh kekuatan nafsu seseorang pada lawan jenisnya). Karena itu, Setiap mahluk Allah kiranya diberikan sifat ini, mulai dari hewan sampai manusia. Mawaddah cinta yang lebih condong pada material seperti cinta karena kecantikan, ketampanan, bodi yang menggoda, cinta pada harta benda, dan lain sebagainya. Mawaddah itu sinonimnya adalah mahabbah yang artinya cinta dan kasih sayang.

Wa artinya dan.

Sedangkan Rahmah (dari Allah SWT) yang berarti ampunan, anugerah, karunia, rahmat, belas kasih, rejeki. (lihat : Kamus Arab, kitab ta�riifat, Hisnul Muslim (Perisai Muslim) Jadi, Rahmah adalah jenis cinta kasih sayang yang lembut, siap berkorban untuk menafkahi dan melayani dan siap melindungi kepada yang dicintai. Rahmah lebih condong pada sifat qolbiyah atau suasana batin yang terimplementasikan pada wujud kasih sayang, seperti cinta tulus, kasih sayang, rasa memiliki, membantu, menghargai, rasa rela berkorban, yang terpancar dari cahaya iman. Sifat rahmah ini akan muncul manakala niatan pertama saat melangsungkan pernikahan adalah karena mengikuti perintah Allah dan sunnah Rasulullah serta bertujuan hanya untuk mendapatkan ridha Allah SWT.

Pertanyaan

3. Apa ciri-ciri keluarga sakinah mawaddah wa rahmah itu?

Jawaban

Ciri-ciri keluarga sakinah mawaddah wa rahmah itu antara lain:

1. Menurut hadis Nabi, pilar keluarga sakinah itu ada empat (idza aradallohu bi ahli baitin khoiran dst); (a) memiliki kecenderungan kepada agama, (b) yang muda menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda, (c) sederhana dalam belanja, (d) santun dalam bergaul dan (e) selalu introspeksi. Dalam hadis Nabi juga disebutkan bahwa: � empat hal akan menjadi faktor yang mendatangkan kebahagiaan keluarga (arba`un min sa`adat al mar�i), yakni (a) suami / isteri yang setia (saleh/salehah), (b) anak-anak yang berbakti, (c) lingkungan sosial yang sehat , dan (d) dekat rizkinya.�

2. Hubungan antara suami isteri harus atas dasar saling membutuhkan, seperti pakaian dan yang memakainya (hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna, Q/2:187). Fungsi pakaian ada tiga, yaitu (a) menutup aurat, (b) melindungi diri dari panas dingin, dan (c) perhiasan. Suami terhadap isteri dan sebaliknya harus menfungsikan diri dalam tiga hal tersebut. Jika isteri mempunyai suatu kekurangan, suami tidak menceriterakan kepada orang lain, begitu juga sebaliknya. Jika isteri sakit, suami segera mencari obat atau membawa ke dokter, begitu juga sebaliknya. Isteri harus selalu tampil membanggakan suami, suami juga harus tampil membanggakan isteri, jangan terbalik jika saat keluar rumah istri atau suami tampil menarik agar dilihat orang banyak. Sedangkan giliran ada dirumah suami atau istri berpakaian seadanya, tidak menarik, awut-awutan, sehingga pasangannya tidak menaruh simpati sedikitpun padanya. Suami istri saling menjaga penampilan pada masing-masing pasangannya.

3. Suami isteri dalam bergaul memperhatikan hal-hal yang secara sosial dianggap patut (ma`ruf), tidak asal benar dan hak, Wa`a syiruhunna bil ma`ruf (Q/4:19). Besarnya mahar, nafkah, cara bergaul dan sebagainya harus memperhatikan nilai-nilai ma`ruf. Hal ini terutama harus diperhatikan oleh suami isteri yang berasal dari kultur yang menyolok perbedaannya.

4. Suami istri secara tulus menjalankan masing-masing kewajibannya dengan didasari keyakinan bahwa menjalankan kewajiban itu merupakan perintah Allah SWT yang dalam menjalankannya harus tulus ikhlas. Suami menjaga hak istri dan istri menjaga hak-hak suami. Dari sini muncul saling menghargai, mempercayai, setia dan keduanya terjalin kerjasama untuk mencapai kebaikan didunia ini sebanyak-banyaknya melalui ikatan rumah tangga. Suami menunaikan kewajiabannya sebagai suami karema mengharap ridha Allah. Dengan menjalankan kewajiban inilah suami berharap agar amalnya menjadi berpahala disisi Allah SWT. Sedangkan istri, menunaikan kewajiban sebagai istri seperti melayani suami, mendidik anak-anak, dan lain sebagainya juga berniat semata-mata karena Allah SWT. Kewajiban yang dilakukannya itu diyakini sebagai perinta Allah, tidak memandang karena cintanya kepada suami semata, tetapi di balik itu dia niat agar mendapatkan pahala di sisi Allah melalui pengorbanan dia dengan menjalankan kewajibannya sebagai istri.

5. Semua anggota keluarganya seperti anak-anaknya, isrti dan suaminya beriman dan bertaqwa kepada Allah dan rasul-Nya (shaleh-shalehah). Artinya hukum-hukum Allah dan agama Allah terimplementasi dalam pergaulan rumah tangganya.

6. Riskinya selalu bersih dari yang diharamkan Allah SWT. Penghasilan suami sebagai tonggak berdirinya keluarga itu selalu menjaga rizki yang halal. Suami menjaga agar anak dan istrinya tidak berpakaian, makan, bertempat tinggal, memakai kendaraan, dan semua pemenuhan kebutuhan dari harta haram. Dia berjuang untuk mendapatkan rizki halal saja.

7. Anggota keluarga selalu ridha terhadap anugrah Allah SWT yang diberikan kepada mereka. Jika diberi lebih mereka bersyukur dan berbagi dengan fakir miskin. Jika kekurangan mereka sabar dan terus berikhtiar. Mereka keluarga yang selalu berusaha untuk memperbaiki semua aspek kehidupan mereka dengan wajib menuntut ilmu-ilmu agama Allah SWT.

Pertanyaan

4. Bagaimana mewujudkan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah itu?

Jawaban

Untuk mewujudkan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah perlu melalui proses yang panjang dan pengorbanan yang besar, di antaranya:

1. Pilih pasangan yang shaleh atau shalehah yang taat menjalankan perintah Allah dan sunnah Rasulullah SWT.

2. Pilihlah pasangan dengan mengutamakan keimanan dan ketaqwaannya dari pada kecantikannya, kekayaannya, kedudukannya.

3. Pilihlah pasangan keturunan keluarga yang terjaga kehormatan dan nasabnya.

4. Niatkan saat menikah untuk beribadah kepada Allah SWT dan untuk menghidari hubungan yang dilaran Allah SWT

5. Suami berusaha menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami dengan dorongan iman, cinta, dan ibadah. Seperti memberi nafkah, memberi keamanan, memberikan didikan islami pada anak istrinya, memberikan sandang pangan, papan yang halal, menjadi pemimpin keluarga yang mampu mengajak anggota keluaganya menuju ridha Allah dan surga -Nya serta dapat menyelamatkan anggota keluarganya dario siksa api neraka.

6. Istri berusaha menjalankan kewajibann ya sebagai istri dengan dorongan ibadah dan berharap ridha Allah semata. Seperti melayani suami, mendidik putra-putrinya tentan agama islam dan ilmu pengetahuan, mendidik mereka dengan akhlak yang mulia, menjaga kehormatan keluarga, memelihara harta suaminya, dan membahagiakan suaminya.

7. Suami istri saling mengenali kekurangan dan kelebihan pasangannya, saling menghargai, merasa saling membutuhkan dan melengkapi, menghormati, mencintai, saling mempercai kesetiaan masing-masing, saling keterbukaan dengan merajut komunikasi yang intens.

8. Berkomitmen menempuh perjalanan rumah tangga untuk selalu bersama dalam mengarungi badai dan gelombang kehidupan.

9. Suami mengajak anak dan istrinya untuk shalat berjamaah atau ibadah bersama-sama, seperti suami mengajak anak istrinya bersedekah pada fakir miskin, dengan tujuan suami mendidik anaknya agar gemar bersedekah, mendidik istrinya agar lebih banyak bersukur kepada Allah SWT, berzikir bersama-sama, mengajak anak istri membaca al-qur�an, berziarah qubur, menuntut ilmu bersama, bertamasya untuk melihat keagungan ciptaan Allah SWT. Dan lain-lain.

10.Suami istri selalu memohon kepada Allah agar diberikan keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah.

11. Suami secara berkala mengajak istri dan anaknya melakukan instropeksi diri untuk melakukan perbaikan dimasa yang akan datang. Misalkan, suami istri, dan anak-anaknya saling meminta maaf pada anggota keluarga itu pada setiap hari kamis malam jum�at. Tujuannya hubungan masing-masing keluarga menjadi harmonis, terbuka, plong, tanpa beban kesalahan pada pasangannnya, dan untuk menjaga kesetiaan masing-masing anggota keluarga.

12. Saat menghadapi musibah dan kesusahan, selalu mengadakan musyawarah keluarga. Dan ketika terjadi perselisihan, maka anggota keluarga cepat-cepat memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan nafsu amarahnya.

13. Berusaha menjaga nilai-nilai romantis di antara keluarga. Misalnya, suami menyuapi istri, memanggil istri dengan panggilan yang istrinya menjadi senan (sayang, dinda, dll), mengajak istri berlomba, makan bersama, dan lain-lainya.

14. Jika suami melihat sisi buruk sang istri, maka hendaknya suami bergegas mengingat sisi kebaikan sang istri. Sebaliknya jika sang istri melihat sisi buruk sang suami, maka sang istri cepat-cepat meliha sisi kebaikan sang suami.

15. Hendaknya suami istri menyisihkan waktu untuk saling introspeksi diri atas kekurangan dan prilaku yang kerap kali menyinggun pasangannya. Terutama setelah habis sholat malam. dilakukan tukar pendapat. dengan kita kontinyu melakukan upaya ini, maka insyaalloh keutuhan dan keharmonisan keluarga dapat terwujud menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rohmah.

16. Hendaknya satu keluarga memiliki visi misi kedepan yang akan digapai bersama. Misalnya, saling bahu membahu untuk bisa menunaikan ibadah haji, anak-anaknya bisa menghafal al-qur�an, dll.

17. Hendaknya satu keluarga selalu belajar untuk memperdalam agama, baik mengikuti majlis majlis ilmu, majlis dzikir, ayau mendatang ustadz di rumahnya. Sebab dengan ilmu agama keluarga akan lebih teratur dan memiliki tujuan dunia dan akhirat.

18. Hendaknya sanga suami mengajak anak dan istrinya untuk selalu menghidupkan 7 sunnah Rasulullah saw, yaitu sholat malam, banyak beristighfar, tekun bersedekah, sholat dhuha, kontinyu dalam keadaan suci (terus berwudhu),� membaca al-qur�an, puasa sunnah.

19. Mengajak keluarga untuk mencintai Allah dan rasul-Nya diatas segala-galanya.

20. Suami membekali keluarganya dengan ilmu-ilmu syar�i dan ilmu-ilmu dunia.

21. Suami selalu mengucapkan :�Terima kasih sayang telah membuat minuman buat ma�. selalu memuji pekerjaan dan pengabdian istri. dan sebaliknya, istri selalu mengucapkan terima kasih terhadap pemberian sang suami. dengan saling berterima kasih ini, maka rasa saling membutuhkan, saling menghargai, saling membantu, saling mencintai, tolong menolong dengan sendirinya akan tumbuh subur. Wallahu A�lam

Selamat mencoba!

Salam Hijrah, UniQ
Powered by Telkomsel BlackBerry®

KHUSYU DALAM SHALAT

KHUSYU  DALAM SHALAT.

Rasulullah SAW bersabda : � Orang-orang yang menunaikan sholat, pahala sholatnya tidak ditulis berdasarkan kuantiti sholat. Samadgn setengah daripada sholatnya, tidak juga sepertiga, seperempat, seperlima, seperenam atau sepersepuluh daripadanya�.

Rasulullah SAW melanjutkan sabdanya : � Namun , yang dicatat daripada sholat seseorang itu adalah setinggi mana nilai kekhusyukannya�.

Justeru itu sahabat�..lihatlah sejauh mana keskhusyukan kita di dalamm sholat. Semoga Allah limpahkan rahmat-Nya kepada kita, aamiin ya rabbal �aalamiin.

Ayo Shalat !!! Dahsyat !!!
Salam Hijrah, UniQ
www.shalatdahsyat.com
www.dahsyatnyasholatbersayap.blogspot.com
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Senin, 27 Mei 2013

Yuk Sempurnakan Shalat Kita !

Yuk sempurnakan shalat kita !

Hmm masih bolong kah shalat kita ?
Sudah shalat 5 waktu namun cuma menggugurkan kewajiban ?
Shalat itu penting ? Or Yang Penting Shalat !

Wow ....

" Amal pertama yg dihisab dari seseorang hamba di hari kiamat adalah shalat. Dan barang siapa yg baik shalatnya, maka baik pula segala amalan yg lain, dan barang siapa rusak (ditolak) shalatnya, maka rusak (ditolak) pula segala amalan lainnya." (HR. Thabrani)

Ayo Shalat Dahsyat !!!
Salam Hijrah, UniQ
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sholat Menenangkan Jiwa

Sholat Menenangkan Jiwa

" Tidakkah kalian memperhatikan, jk seseorang selesai mengerjakan shalat, mk ia akan mendapat ketenangan dalam jiwanya, beban pikiran pun sirna. Kemudian muncul semangat baru dan kenyamanan." (Ibnu Qayyim al Jauziyyah)

Ayo Shalat !!! Dahsyat !!!
Salam Hijrah, UniQ
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Minggu, 26 Mei 2013

ISTIDRAJ

CUPLIKAN TAFSIR HARI INI TENTANG ISTIDRAJ:
Uqbah bin Amir radhiallahu 'anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "IDZAA RO-AITALLOOHU YU'TIL-'ABBDA MINAD-DUN-YAA 'ALAA MA'AASHIIHI MAA YUḪIBBU FA-INNAMAA HUWAS-TIDDROOJJ­UN = Jika kamu melihat seorang hamba yang diberi oleh Allah segala kesukaannya padahal ia ahli maksiat, maka ketahuilah bahwa itu istidraj (tipu daya) kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membacakan QS al-An'aam [6] ayat 44 ini." (HR Imam Ahmad).

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ ۗ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ
FALAMMAA NASUU MAA DZUKKIRUU BIHII FATAḪNAA 'ALAIHIM ABBWAABA KULLI SYAI-IN, ḪATTAAA IDZAA FARIḪUU BIMAAA UUTUUU AKHODZNAA-HUM BAGHTATAN FA-IDZAA HUM-MUBBLISUUNA­. = Maka tatkala mereka melupakan yang diperingatkan kepada mereka dengannya, Kami membukakan pintu-pintu segala sesuatu untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyo­ng, maka mereka terdiam berputus asa.

Astaghfirullah
Salam Hijrah, UniQ
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Benarkah Kita Sudah Shalat ?

Benarkah Kita Sudah Shalat ?

Bismillaah....
�Guru Syaikh al-Imam Ibnu �Athaillah, Syaikh Abu al- Hasan as-Syadzili di datangi oleh beberapa fukaha yang berasal dari kota Iskandariah untuk mengetahui kealiman beliau. Beliau tatap mereka semua sambil bertanya, �Wahai para fukaha, apakah kalian sudah sholat?� Dengan tegas mereka menjawab, �Apakah ada diantara kami
yang tidak sholat?� Syaikh menegaskan, �Allah berfirman, �Sesungguhnya manusia diciptakan dalam keadaan keluh kesah. Kalau ditimpa musibah ia gelisah, kalau mendapat kebaikan ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang sholat.� (Q.S. Al- Ma�arij [70]: 19-22).

Apakah kalian demikian? Yakni, jika ditimpa musibah kalian gelisah dan jika mendapat kebaikan kalian kikir.�. Merekapun diam. Akhirnya beliau meneruskan, �Kalau begitu kalian masih belum sholat.�

Astaghfirullahal adzim

Ayo Shalat !!! Dahsyat !!!
Salam Hijrah,  UniQ
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sabtu, 25 Mei 2013

Pesan Kakek pd Cucunya

Pesan Kakek pd Cucunya

Wahai cucuku, apa yg akan kamu rasakan bila segenggam garam kamu taburkan ke dalam gelas minummu? | Asin kakek... | Lalu apa yg kamu rasakan bila segenggam garam ditaburkan ke dalam danau? | Tawar kakek | Hidup juga seperti itu cucuku. Jika hatimu sempit maka benturan kecil akan berpengaruh besar dalam jiwamu, tapi jika hatimu luas maka hempasan sebesar apapun tidak akan begitu berpengaruh terhadap prinsip dan jiwamu.

#Terinspirasi dari cerita Abu Dzar al-Ghifari
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Jangan Gembira Dulu Lapang/rizki Berlimpah

Jangan Gembira Dulu Krn Lapang/Berlimpah Rizki

CUPLIKAN TAFSIR HARI INI:
Al-Hasan al-Bashri radhiallaahu 'anhu berkata: "Siapa yang diberi keluasan rezeki, lalu tidak sadar bahwa itu ujian dari Allah, maka tidak sempurna akalnya. Dan siapa yang disempitkan rezekinya dan tidak merasa bahwa itu rahmat Allah juga maka tidak sempurna akalnya. Kemudian beliau membaca QS al-An'aam [6] ayat 44 ini:
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ ۗ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ
FALAMMAA NASUU MAA DZUKKIRUU BIHII FATAḪNAA 'ALAIHIM ABBWAABA KULLI SYAI-IN, ḪATTAAA IDZAA FARIḪUU BIMAAA UUTUUU AKHODZNAA-HUM BAGHTATAN FA-IDZAA HUM-MUBBLISUUNA­. = Maka tatkala mereka melupakan yang diperingatkan kepada mereka dengannya, Kami membukakan pintu-pintu segala sesuatu untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyo­ng, maka mereka terdiam berputus asa.

Ayo Shalat ! Dahsyat !
Salam Hijrah, UniQ
Powered by Telkomsel BlackBerry®

10 Akhlaq Mulia Seorang Muslim Yg Bermanfaat

10 Akhlaq Mulia Seorang Muslim Yg Bermanfaat,

Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda"
1. "Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia,
2. dan pekerjaan yang paling dicintai Allah adalah menggembirakan seorang muslim,
3. atau menjauhkan kesusahan darinya,
4. atau membayarkan hutangnya,
5. atau menghilangkan laparnya.
6. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri'ktikaf di masjid ini (masjid Nabawi) selama sebulan,
7. dan barangsiapa yang menahan amarahnya niscaya Allah menutup aibnya,
8. dan barangsiapa yang menahan murkanya padahal jikalau ia kehendaki untuk melampiaskannya pasti ia lampiaskan niscaya Allah mengisi hatinya dengan keridhaan pada hari kiamat,
9. dan baragsiapa yang berjalan bersama saudaranya muslim untuk sebuah keperluan sampai selesai urusannya niscaya Allah akan tetapkan telapak kakinya pada hari ketika tergelincir telapak kaki-telapak kaki,
10. dan sungguh akhlak yang buruk benar-benar akan menghancurkan amalan sebagaimana cuka menghancurkan madu."

(HR. Ath Thabrani di dalam Al Mu'jam Al Kabir, no. 13646, Dan Ibnu Abid Dunya dalam Qadhaa'ul hawaaij dari Ibnu Umar Radhiallahu anhuma)

Ya Allah aku memohon kepadamu surga firdaus yg tertinggi dan juga apa saja yg dapat membuatku dekat kepadanya  dari perkataan maupun berbuatan.
Dan jauhkanlah aku dari api nereka serta jahimnya dan apa saja yg membuatku  terjerumus padanya dari perkataan maupun perbuatan..أمِينْ..
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Jumat, 24 Mei 2013

Jauhilah Kasihsayang Krn Maksud

قال عمر بن عبدالعزيز : إياك ومن مودته على قدر حاجته إليك ، فإذا قضيت حاجته انقضت مودته.
Berkata Umar Bin Abdul Aziz RA: Jauhilah/Takutlah dengan kasihsayang karena ada maksud dengannya, karena kalau selesai tujuannya/maksudnya maka selesai juga kasihsayangnya...#Subhanallah
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kamis, 23 Mei 2013

7 Cashflow Langit, Yg Ketujuh : Amalkan Selalu Istighfar

7. AMALKAN SELALU ISTIGFAR

Sabahabatku ber istighfarlah selalu sebab masalah yang terjadi kerana dosa kita akan dijauhkan oleh Allah. Zikir adalah bukti syukur kita kepada Allah.

Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
"Barangsiapa yang mengingat Allah kemudian dia menangis sehingga air matanya mengalir jatuh ke bumi niscaya dia tidak akan diazab pada hari kiamat kelak"
(HR. Al-Hakim dan dia berkata sanadnya shahih)

Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: "Tidak akan masuk ke dalam api neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah hingga air susu ibu (yang sudah diminum oleh anaknya) kembali ke tempat asalnya" ( HR.at-Tirmidzi )

Salam Hijrah, UniQ
Powered by Telkomsel BlackBerry®

7 Cashflow Langit, Yg Keenam : Menjaga Wudhu Terus Menerus ( Mendawamkan Wudhu )

6. MENJAGA WUDHU TERUS MENERUS

Beberapa hadits dibawah ini yang menerangkan tentang keutamaan wudhu

A. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
Barangsiapa berwudhu dengan baik keluarlah dosa-dosanya dari jasadnya sampaipun dari bawah kuku-kukunya. (HR. Muslim)

B. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
Seorang yang selesai berwudhu dengan baik lalu mengucapkan dua kalimat syahadat, maka akan terbuka baginya pintu-pintu surga yang delapan dan dia dapat memasuki pintu yang mana saja dia kehendaki. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

C. Umatku akan tampil pada hari kiamat dengan wajah bersinar, tangan serta kakinya berkilauan dari bekas-bekas wudhu. (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim)

D. Allah menyayangi hamba yang berwudu�.
Kata Khalifah Ali bin Abu Talib r.a, �Orang yang selalu berwudu� senantiasa akan merasa solat walaupun ia sedang tidak solat, dan dijaga oleh Malaikat dengan dua doa, ampuni dosa dan sayangi dia Ya Allah�.

E. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam Bersabda :
Apabila Roh seseorang hamba di cabut dalam keadaan berwudhu,maka akan dituliskan baginya mati Syahid. (HR.Ad-Dailami) dan banyak lagi,
Powered by Telkomsel BlackBerry®

7 Cashflow Langit, Yg Kelima : Pecandu DADAH ( pecandu DAhsyatnya seDekAh Hariah)

5. BERSEDEKAH SETIAP HARI

Sahabatku Allah sangat menyukai orang yang suka bersedekah dan malaikat selalu mendoakan untuk orang yang bersedekah pada setiap hari.

Firman Allah subhanahu wata�ala artinya, �Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat ihsan (muhsin).� (QS. Ali Imron: 133-134)

Perhatikanlah Firman Allah subhanahu wata�ala artinya, �Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu, dengarlah dan taatlah; serta nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.� (QS. At-Taghabun: 16)

Abu Hurairah radhiyallahu �anhu berikut ini, �Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya.� Beliau menyebutkan salah satunya adalah seorang yang bershadaqah secara diam-diam (sembunyi), sehingga apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya tidak diketahui oleh tangan kirinya. (Muttafaqun �Alaihi)
Powered by Telkomsel BlackBerry®